Showing posts with label tantangan10hari. Show all posts
Showing posts with label tantangan10hari. Show all posts

Thursday, 8 June 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP : Day 9 "(Harus) Konsisten"

Komunikasi produktif bersama pasangan merupakan tantangan aplikasi setiap saat, mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Dan antara poin satu dengan poin dengan poin lainnya saling berkesinambungan satu sama lain. Misalnya poin 2C (Clear and Clarify), tentu saja sangat erat kaitannya dengan kaidah 7-38-55. Dan agar pesannya tersampaikan secara sempurna pun kita harus pintar-pintar mencari waktu yang tepat alias "choose the right time".

Terkadang ada kalanya saya sudah merasa "sukses" di dalam mempraktikan poin-poin tersebut. Tapi kemudian ada aja ujian apakah kita konsisten menerapkan apa yang telah saya pelajari. 

Misalnya sore itu suami bilang bahwa besok suami akan berbuka shaum dengan teman-temannya di kampus. Entah kenapa saat itu saya merasa sedih. Udah mah kami tinggal bertiga doank, buka shaum juga bertiga aja, eh ini mau ditinggal juga buka shaum sama suami. FYI, beberapa hari sebelumnya pun suami sudah buka shaum juga dengan teman-temannya yang lain. Rasanya hampaaa saat suami ga ada.. *ciyee *agresif :P

Tapi ada rasa gengsi dalam diri saya untuk sekedar bilang, "Kalau buka shaumnya ajak aku dan Afifa gimana?" Entah kenapa saya berharap suami memahami bahwa bagaimanapun buka shaum bersama saya dan Afifa seharusnya menjadi prioritas utama. Kalau pun dia ada agenda buka shaum dengan teman-temannya kenapa ga berusaha untuk melibatkan saya dan Afifa juga? Toh saya tau agenda buka shaum ini bukan hanya untuk yang laki-laki. Ada teman-teman perempuan juga yang akan hadir. Saya ingin suami paham sendiri. Itu pikiran saya saat itu.

Karena gengsi akhirnya saya bilang, "Oke boleh. Tapi aku juga besok mau ajak Afifa ya makan di Nando's (salah satu nama resto favorit saya di KL). Nanti ayang buka shaum sama temen-temen, aku juga ada agenda sendiri.." ini nih kalimat tidak langsung yang ga logis.

Pertama, kebayang kan pergi berdua aja dengan Afifa dari sore sampai malem? Ya meski di mall, tetep aja kan cuma berdua, saya juga akan merasa kerepotan misalnya Afifa pingin turun dari stroller kemudian dia lari-lari.. Gimana ceritanya coba?

Kedua, ngapain juga out of nowhere mau makan di Nando's padahal saya dan suami sedang melakukan penghematan. Dan suami paham betul akan hal itu 😂😂😂 

Akhirnya suami bilang, "Ya udah aku ga jadi aja besok perginya.."
Yaaaa... Iiihhh kesel banget kenapa sih ga paham kalau saya bukannya melarang, tapi saya ingin dilibatkan.  Kok ga paham sih.. 

Ini akibat dari gengsi. Ini akibat dari kalimat tidak langsung. Ini akibat dari kode-kodean. Ini akibat ga praktekin materi kelas Bunsay. Ini akibat ga praktekin poin komprod metode 2C. *dadah-dadah ke Bunda Fasil Hehehehhehe..

Akhirnya saya terdiam. Ya sudah tenangkan diri dulu. Saya mulai tilawah. Saat itu jam 5.30 sore. Suami sibuk sendiri di dapur. Eh ternyata doi masak untuk makanan buka (maghrib jam 7.30). Ya ampun saya lupa belum masak😂😅 Suami lagi goreng tempe dan bikin telur teri balado plus sebelumnya masak nasi. Untuk takjil dia siapkan bubur kacang ijo. Belum lagi dia pun potong-potong sayur kangkung buat ditumis. Saya jadi malu sendiri.. akhirnya saya take over lah dapur (setelah sebelumnya saya diem-diem foto dia lagi masak). Saya masak tumis kangkungnya. Lalu saya pun memanaskan pepes ikan mas kesukaan Afifa dan suami. 

Pak Suami yang sedang masak

Menu buka shaum

Bubur Kacang Ijo buatan Pak Suami


Akhirnya saat berbuka puasa pun tiba. Saat saya mencicipi masakan suami, saya langsung senyum. "Enaaaak..." kata saya. hehehe.. suami pun tersenyum. langsung deh cair lagi suasananya. 

Akhirnya setelah kontemplasi, saya sadar bahwa sikap saya kekanak-kanakan banget dalam merespon permintaan izin suami tersebut. Toh kalau dihitung-hitung baru sekali saja suami buka shaum di luar, besok baru yang kedua kalinya. Sisanya ya buka shaum bareng saya. Mungkin suami ga menawarkan untuk mengajak saya dan Afifa karena memang buka shaum tersebut khusus mahasiswa dari jurusan tersebut, ga ada yang dari luar jurusannya.

"Maafin aku yaa.. ayang boleh kok buka shaum sama temen-temen, aku sama Afifa di rumah aja ya.." kata saya akhirnya.

Hikmah di balik kejadian ini adalah saya harus lebih konsisten lagi di dalam mempraktikan poin-poin komunikasi produktif. Pokonya praktek, praktek, praktek.. konsisten, konsisten, konsisten :D jangan mengharapkan pasangan langsung paham kalau poin pembicaraan yang disampaikan pun ga langsung pada intinya. Hehehehe.. itu aja.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sunday, 4 June 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP : Day 5 "Curhat"

Sore ini kelompok halaqah (pengajian) saya dan teman saya diberikan amanah untuk menjadi panitia persantren Ramadhan dengan pesertanya adalah para TKW Indonesia di Malaysia yang berprofesi sebagai pekerja kilang (pabrik). Kami menyiapkan sebuah acara seminar dengan tema "Love your dien, get your dreams" dengan berbagai doorprize bagi para peserta dan games yang dapat mencairkan suasana. Pada intinya acara ini mengajak teman-teman TKW untuk berani bermimpi dan merealisasikan mimpi tersebut tapi dalam koridor yang diridhai oleh agama kita. Jadi bermimpi apapun boleh, tapi orientasi utamanya adalah untuk kehidupan akhirat.

Saya dan teman-teman panitia


Alhamdulillah secara garis umum acara persantren Ramadhan tadi berjalan lancar. Acara ditutup dengan muhasabah, ifthar jamai dan dinner bersama. Kami panitia pun menyiapkan berbagai macam makanan pembuka seperti es buah, kolak pisang dan kue-kue plus makanan inti yaitu nasi, lauk pauk (tempe, ikan dan ayam rendang), dan sayur kol gulai serta sambalnya. Nikmat alhamdulillah :")

Iftar Jama'i

Nasi, sayur dan lauk pauk

Kolak pisang dan es buah 



Pada acara itu saya diberikan amanah sebagai Master of Ceremony (MC) yang memandu jalannya acara. Selain itu, saya dan suami pun diberi amanah untuk mengantarkan beberapa rekan panitia lain hingga sampai ke depan kediaman mereka. Sebagai informasi, suami mengantar saya ke tempat acara dan menunggui saya hingga acara selesai. Hiks terima kasih suamiku. Kau memang andalanku❤️

MC dan Asisten MC :p


Ada percakapan yang kocak saat kami masih di rumah bersiap-siap menuju tempat acara. Saya bermaksud menanyakan pendapat suami tentang baju apa yang harus saya kenakan. Yes his opinion matters a lot (sometimes)😆

Me : "Yang.. aku mending pake baju item kerudung ungu atau baju item kerudung coklat? Soalnya dresscode panitia bajunya item nih.."
Him : "Bagusan yang coklat."
Me : "Ohh.. oke..."
Beberapa saat kemudian..
Me : "Eh yang tapi kerudung coklat aku yang ini kurang bagus. Mendingan yang ungu. Menurut ayang gimana?"
Him : *ketawa "Ayang nih kebiasaan.. nanya pendapat aku tapi sebenernya di pikirannya sendiri udah punya pilihan.." 
Me : "hhahah masa sih?" *ikutan ketawa
Saya pun berganti baju. Namun Saat keluar kamar, akhirnya baju yang saya kenakan adalah hitam hitam. Dua pilihan yang ditanyakan ke pak suami ga ada yang dipilih pada akhirnya 😂
Him : *ketawa sambil garuk tembok

Hihi percakapan di atas hanya intermezzo saja. Ternyata meme-meme percakapan suami istri yang bertebaran di internet dialami oleh saya sendiri 😂

Baik.. masuk kepada inti cerita.. karena kami diamanahkan untuk mengantar pulang beberapa rekan panitia lain, maka saat semua telah selesai diantar dengan selamat, ada momen dimana kami bisa bercerita dengan apa adanya. Mengeluarkan uneg-uneg yang ada di pikiran saya. Curhat lah tentang berbagai hal. Karena untuk mengekspresikan uneg-uneg tersebut saya harus memilih waktu yang tepat.

Maka poin penting lain di dalam komunikasi produktif selain 2C dan kaidah 7-38-55 adalah "choose the right time" alias "pilih waktu yang tepat" di dalam menyampaikan komunikasi tersebut. Artinya pesan disampaikan harus melihat situasi dan kondisi yang tepat yaitu pada waktu-waktu yang nyaman bagi kedua belah pihak.

Karena saat itu suasananya malam, tenang, Afifa tertidur di pelukan saya, saya merasakan inilah waktu yang tepat untuk curhat kepada suami tentang masalah akademis. Ya.. di dalam mobil, di perjalanan kami menuju rumah.

Me : "Yang aku suka sedih kalau ada orang yang berpedapat bahwa aku ambil Ph.D itu semata-mata ingin mengejar dunia. Ada yang komentar bahwa kelak di akhirat bahkan gelar Akademik ini gak akan Allah tanyakan, gak akan ada gunanya.."
Him : *fokus mendengarkan
Me : "Justru menurut aku itu pandangan yang sangat sekuler: memisahkan kegiatan dunia (akademik) dengan agama (akhirat). Bukankah dalam Islam segalanya dianggap sebagai ibadah kepada Allah jika kita meniatkannya untuk ibadah padaNya?"
Him : *masih fokus mendengarkan
Me : "Justru aku yakin Allah ga akan menyia-nyiakan ikhtiar akademis kita karena kita berniat kuliah setinggi-tingginya dalam rangka beribadah sama Allah. Dengan ilmu yang aku dapet ini, aku berusaha untuk berkontribusi untuk ummat. Dan Islam sendiri kan sangat menghargai ilmu pengetahuan yang bermanfaat.. Iya kan?"
Him : "Iya aku setuju.. aku juga pernah kok dikomentarin kaya Ayang gitu.."
Me : "oh ya? Terus Ayang jawab apa?"
Him : "Ya ga jawab apa-apa. Diemin aja, karena percuma kan kalau didebat juga. Manusia itu punya pemikiran dan pembawaannya masing-masing. Ada yang mesti kita jawab, tapi ada juga yang cukup kita dengar tapi ga perlu ditanggapi apalagi dipikirin. Toh kita sendiri kan yang menjalani.. Niat kita ambil Ph.D dalam rangka beribadah kepada Allah ya cuma kita yang tau. Biarlah orang menilai apa, yang penting kita berusaha menyelesaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya.."
Me : "Ih aku setuju banget.."
Him : "Iya.. kita jadi orang berilmu dan bermanfaat itulah sebenarnya kontribusi nyata kita untuk Islam. Bukan menjadi beban bagi yang lain. Iya kan?"
Me : "ih setujuuu.."
Him : *tersenyum
Me : "Makasih ya yang.. eh btw yang, kalau misalnya aku lagi bersikap nyebelin, itu tandanya aku perlu disayang lebih banyak lagi. Jadi kalau aku ngambek suatu saat misalnya, peluk aja.. pasti aku berubah manis lagi.. hahahahaha.."
Him : *ketawa cekikikan *pasrah aja deh doi mah

Begitulah di malam perjalan pulang kami menuju rumah kami manfaatkan untuk saling curhat. Biasanya setelah curhat dengan suami, saya merasa lebih lega karena mendapatkan insight baru. Alhamdulillah :")

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Saturday, 3 June 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP : Day 4 "I Love You"

Salah satu hal yang saya suka dari Kuala Lumpur kota yang kami tinggali saat ini adalah tersedianya public space yang dapat dimanfaatkan warga untuk melakukan berbagai aktivitas outdoor seperti bersepeda, jogging, bersepatu roda atau bahkan hanya sekedar gelar tikar dan buka timbel. Hehehe..

Adalah Taman Tasik Titiwangsa, sebuah taman umum di tengah kota Kuala Lumpur yang tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal yang sering kami kunjungi untuk jogging atau bersepeda. Afifa pun selalu super excited setiap kami membawanya ke sana karena ia akan kami sewakan sepeda anak-anak dan kami bawa keliling taman.

Taman Tasik Titiwangsa dengan pemandangan KLCC dan KL Tower

Jogging track


Sebagai informasi, di Taman Tasik Titiwangsa banyak sekali vendor yang menyediakan jasa sewa sepeda dan sepatu roda. Harganya bervariasi tergantung dari jenis sepedanya. Biasanya sepeda single baik untuk anak-anak ataupun dewasa dicharge sekitar RM10 per jam. Sedangkan sepeda triple biasanya dicharge RM20-25 per jam.

Penyewaan Sepeda dengan Berbagai Jenis Sepeda #1

Penyewaan Sepeda lainnya #2


Sore itu kami pun mengajak Afifa untuk bersepeda berkeliling danau di Taman Titiwangsa sekalian ngabuburit menunggu adzan maghrib. Meski cuaca panas, Afifa sangat bahagia saat menaiki sepeda dan bahkan dia sendiri yang memilih sepeda mana yang akan ia naiki.

Afifa dengan Sepeda Pilihannya :D

Selain mengajak Afifa berkeliling sambil kami berjogging, momen seperti ini pun saya dan a Hambari manfaatkan untuk bercengkrama, saling bertukar cerita dan bahkan saling menyatakan perasaan masing-masing.

Me and My Husband :D


Seperti di postingan sebelumnya, bahwa selain pesan itu sendiri, yang sangat penting di dalam berkomunikasi adalah bagaimana kita mengirimkan pesan tersebut yang terlihat dari bagaimana intonasi suara kita dan bahasa tubuh kita. Masih ingat kan tentang Kaidah 7-38-55?

Meski pesannya adalah "I love you" tapi kalau disampaikan dengan muka yang sedang cemberut atau suara bentakan, pasti sang penerima pesan akan ragu.. beneran cinta ga sih? Hehehe..

Nah momen-momen kebersamaan sederhana sore itu saya manfaatkan untuk mengungkapkan perasaan saya kepada suami saya bahwa saya mencintainya (insyaAllah karena Allah). Pesan itu disampaikan sambil kami bergandengan tangan mengelilingi taman, sambil kami saling tersenyum dan bahkan tertawa saat menemani Afifa bermain di playground yang tersedia di taman tersebut. 


Afifa bermain di Playground


Alhamdulillah.. "Ya Allah.. jadikanlah keluarga kami sebagai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, yang saling setia dan mencintai karena-Mu. Jaga kami ya Allah dan masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.. persatukan kami kembali bersama anak keturunan kami tanpa terkecuali  di dalam syurga FirdausMu ya Allah.. aamiin.. I love you my husband :")"

Holding Hands :')



#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Friday, 2 June 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP : Day 3 "Cappuccino Dingin"



Selain kaidah 2C (Clear and Clarify), salah satu aspek penting dari komunikasi produktif lainnya adalah "Kaidah 7-38-55". Apa itu?

Menurut Albert Mehrabian, seorang professor psikologi dari UCLA yang terkenal akan publikasinya tentang "verbal and non-verbal message", aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Justru komponen yang lebih berpengaruh adalah intonasi suara (38%) dan juga bahasa tubuh (55%).

Artinya sebaik apapun kata-kata atau nasihat pada pasangan namun disampaikan dengan intonasi suara dan bahasa tubuh (gesture) yang salah, maka komunikasi tersebut tidak akan menjadi produktif.

Pagi ini saat sahur, saat saya masih menyelesaikan shalat malam, terdengar suara gumaman kekesalan suami dari dapur. Begitu selesai shalat, saya datangilah suami.

Me: "Ada apa yang?"
Him: "Ini lho aku kesel, aku lagi buat white cappuccino eh malah aku masukin air dingin bukan air panasnya."
Me: "Ya udah, ganti aja lagi." (Maksudnya buat baru lagi aja)
Him: "Ini sachet terakhir yang.." *sambil wajah kesel

Nah kalau saya ikuti emosinya, saya bisa aja bilang, "Ya udahlah cuma gitu aja ga usah berlebihan reaksinya. Ngabisin energi aja. Lagian cappuccino yang biasa masih ada." Tapi itu tidak akan membuahkan hasil yang baik. Karena pasti kekesalan suami akan bertambah-tambah.

Kemudian saya tersenyum, mengusap punggung suami, kemudian bilang dengan lembut, "sabar ya.." :")

Alhamdulillah wajah suami langsung berubah dari kesal berangsur-angsur menjadi biasa lagi. Bahkan saya pun dibuatkan olehnya segelas milo hangat kesukaan saya. Alhamdulillah :")

Jadi benar ya, dalam komunikasi produktif kata-kata saja tidak cukup. Emosi kitalah yang paling utama. Kata Mba Okina Fitriani di dalam buku "The Power of Enlightening Parenting", emosi dan logika itu ibarat timbangan, jika emosi tinggi (berat ke bawah) maka logika akan rendah (ringan ke atas). Jadi kalau emosi, logika gak akan jalan. Maka selesaikan dulu emosi kita. Baru berkata-kata yang sesuai, dengan intonasi suara yang baik dan bahasa tubuh yang tepat.

Cappuccino dan Milo. Yang satu dingin, satu panas :D :D


#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP : Day 2 "Berbagi Tugas Rumah"




Sesampainya di rumah tanggal 2 juni 2017 jam 15.30 waktu kuala lumpur, kami menyadari bahwa pekerjaan rumah menunggu. Terbayang pakaian kotor kami bertiga "oleh-oleh" dari mudik, ditambah rumah yang sudah pasti berdebu karena ditinggal hampir satu minggu lamanya.. 

Begitu sampai rumah, kami lantas shalat dzuhur berjamaah (masih 1.5 jam menuju ashar). Kemudian kami membagi tugas pekerjaan rumah.

Penerapan komunikasi produktif poin 2C (clear and clarify) pun kami terapkan. Hasil yang kami setujui adalah sebagai berikut :

1. Pak suami menangani bersih-bersih rumah yaitu menyapu, mengepel, mengganti seprei kasur, plus memandikan Afifa, dan menjemur pakaian.
Cling bersih maha karya Paksu :D

2. Saya bagian unpacking barang-barang, mencuci pakaian kotor (pakai mesin cuci tentu saja, sampai 4 kali muter), memasak untuk Afifa (Afifa memilih makan bihun dan sup wortel bakso), menyuapi Afifa dan memasak menu berbuka (pak suami pilih menu ayam sayur dan sayur tumis kangkung).

Made in my kitchen :D

Dan selama kami bekerja, alhamdulillah Afifa sangat kooperatif dengan bermain buku Halo Balita plus e-pen yang telah lama tidak dia mainkan karena ditinggal mudik :D Ba'da ashar suami mengajak Afifa untuk membeli susu untuknya, sedangkan saya di rumah merapikan tugas-tugas perintilan yang belum terselesaikan.

Alhamdulillah.. tugas terlaksana dengan baik. Meski badan terasa begitu lelah karena telah melalui perjalanan yang cukup panjang, tapi semua pekerjaan rumah dapat terselesaikan. 

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Thursday, 1 June 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP : Day 1 "Mudik ke Riau"

Alhamdulillah pada tanggal 27 Mei hingga 2 juni 2017 ini saya, a Hambari dan Afifa diberikan kesempatan oleh Allah swt untuk bersilaturahim ke rumah kedua orang tua suami di Desa Batang Malas, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Terakhir saya berkunjung ke tempat mertua adalah tiga hari setelah kami menikah yaitu tanggal 25 desember 2013. Jadi sudah 3.5 tahun lamanya saya belum bersilaturahim lagi ke kediaman mertua. Huhu maafkan ya keluargaku. Baru ada rezeki dan kesempatannya sekarang. InsyaAllah kami niatkan untuk bersilaturahim minimal setahun sekali :") 

Untuk catatan, desa asal suami adalah sebuah desa yang berada di pesisir selat Melaka, sehingga untuk mencapainya kami harus naik kapal ferry setelah sebelumnya naik pesawat dari Kuala Lumpur ke Batam. Sebenarnya banyak alternatif pilihan jalan untuk menuju tempat suami, tapi melihat kondisi Afifa yang baru pertama kali melakukan perjalanan laut, jadi kami putuskan untuk memilih jalur Batam. Dari KL (Bandara Subang Jaya) kami berangkat tanggal 27 mei ke Bandara Hang Nadim Batam. Kami lalu menginap semalam di Batam (di Hotel Harmoni One), kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat suami di hari berikutnya. Selama empat jam perjalanan ferry dari Pelabuhan Sekupang Batam ke Selat panjang, kemudian dilanjutkan naik mobil ke tempat mertua sekitar 45 menit lamanya. Perjalanan yang cukup lama.. 

Kekhawatiran saya yang paling utama adalah kenyamanan Afifa. Tahankah ia melalui perjalanan sepanjang itu dengan moda transportasi yang belum pernah ia gunakan sebelumnya? 

Lalu selama di tempat mertua akan nyamankah ia? Akan nyamankah saya? Karena kondisi kampung halaman suami 180 derajat berbeda dengan apa yang saya dan Afifa biasa temui. 

Namun, saya kembalikan niat saya. Bahwa perjalanan ini dilakukan dalam rangka bersilaturahim, mendekatkan diri dengan keluarga suami, dan tentunya dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. 

Maka yang saya lakukan pertama kali adalah membrainstroming diri saya sendiri. Melakukan komunikasi produktif bagi diri saya sendiri dulu. Karena sugesti dan pandangan dari dalam diri saya sendiri akan berpengaruh terhadap bagaimana saya berkomunikasi dengan suami dan Afifa dalam melalui perjalanan ini.

Yang pertama saya lakukan adalah tentunya berdoa kepada Allah swt agar semua pihak diberikan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kenyamanan selama kami melakukan perjalanan ini. Saya berkeyakinan bahwa Allah-lah yang mengendalikan segalanya, maka hal wajib pertama dan utama yang harus dilakukan adalah dengan meminta tolong padaNya agar semua berjalan dengan penuh keberkahan. Intinya adalah berkah dariNya yang membuat kami semua nyaman dan bahagia. Iya kan? :")

Alhamdulillah ternyata selama perjalanan kami tidak mengalami hambatan yang berarti. Afifa yang saya pikir akan merasa tidak nyaman, justru super excited selama perjalanan. Tidak muntah alias mabuk laut. Makannya pinter. Bermain-main dan begitu bahagia melihat laut.

Yang kedua adalah saya kemudian mengingat kembali bahwa pasti ada perasaan rindu dari Bapak dan Ibu mertua atas kehadiran fisik kami. Maka inilah salah satu cara bakti kami kepada mereka, yaitu menjalin silaturahim. 

Dan benar.. saat kami datang, suasana haru begitu terasa. Apalagi ibu mertua sampai menangis saat memeluk suami. Ya Allah.. ada desir kebahagiaan saat melihat pemandangan tersebut. Bahagiaaa sekali rasanya.. alhamdulillah. Emak (begitu kami memanggil ibu suami) bilang bahwa seorang ibu akan terus merindukan kehadiran anaknya, setiap detik seorang ibu akan senantiasa ingat anaknya. 

Yang ketiga adalah saya mensugesti diri saya sendiri bahwa selama bukan hal-hal yang sifatnya prinsipil seperti akidah, kita harus memiliki sikap fleksibilitas dan sikap adaptif terhadap berbagai kondisi yang kita hadapi. Bukan kondisinya yang menjadi masalah tapi bagaimana reaksi kita terhadap kondisi tersebut.

Kenyamanan-ketidaknyamanan, kemudahan-kesukaran, kepraktisan-kerumitan, dan sebagainya merupakan sunatullah yang bergiliran terjadi. Ibaratnya mereka adalah dua sisi dari sebuah koin, yang ada dan beriringan. Yang harus dipersiapkan adalah bagaimana kita merespon itu semua. 

Alhamdulillah.. karena tempat orang tua suami masih sangat alami, dengan kebun yang amat luas, sederhana namun bersahaja, justru saya merasa nyaman dan langsung bisa beradaptasi dengan baik. 

Emak sebelumnya khawatir apakah saya akan betah di sana karena suasananya mungkin berbeda dengan apa yang biasa saya hadapi. Tapi nyatanya alhamdulillah karena saya mensugesti diri saya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang ada, maka diri ini rasanya cepat beradaptasi. Justru saya banyak sekali bersyukur dengan segalanya. Bahagiaaa sekali. Alhamdulillah..

Jadi memang benar, komunikasi produktif dengan diri sendiri amat penting. Karena ia akan berpengaruh terhadap alam bawah sadar kita sendiri. Alam bawah sadar nantinya akan berpengaruh terhadap pikiran kita. Pikiran akan berpengaruh terhadap reaksi dan respon diri kita di dalam menjalani apa yang ada di hadapan. 

Selanjutnya komunikasi produktif yang harus diterapkan adalah komunikasi dengan suami. Poin yang pertama saat berdiskusi dan merencanakan perjalanan ini adalah menerapkan kaidah 2C: Clear and Clarify (Jelas dan Klarifikasi). Jangan pake kode-kodean, karena biasanya laki-laki suka lama nangkep kode dari perempuan. Makanya kita to the point aja biar ga merasa di-PHP-in. Eeaaa 😆😆

Jadi saya dan suami berdiskusi apa yang kami persiapkan. Saat di perjalanan dan saat di tempat suami.
Kami membagi tugas. Misalnya jika suami pegang tas dan barang bawaan kami, maka saya fokus menjaga Afifa. Jika saya yang kebagian tugas menyuapi Afifa atau menemaninya bermain, maka tugas suami adalah memandikan Afifa. Jadi semua membagi tugas dan menjalankannya dengan baik.

Misalnya diskusi dengan metode 2C yang diterapkan saya, "Yang, aku yang suapin Afifa sarapan, habis itu Afifa mandi sama Ayang ya." Singkat, padat, jelas. Tapi tentunya dengan penuh senyum manis dan kedipan mata.. hahahahaha.. engga sambil cemberut dan jutek :D

Pun saat di tempat suami, saya minta suami  dekat dengan keluarganya, memanfaatkan kebersamaan dengan waktu yang ada tapi  tetap mengikutsertakan saya ke dalam kebersamaan tersebut. Hal ini bertujuan agar saya pun semakin mengenal dekat keluarga suami.

Saya bilang, "Yang, ayo ngobrol sama Emak, Bapak dan kakang-kakang. Tapi aku ikut ya. Kalau ada yang ga ngerti tolong diterjemahin.." (Karena keluarga suami pake bahasa Jawa jadi saya roaming).

Suami pun meminta saya fokus menjaga Afifa saat dirinya pergi ke masjid. "Sekarang aku tarawih di masjid dulu. Ayang temenin Afifa dulu ya. Shalatnya gantian aja." Oke deh saya manut wae mas😆

Begitulah.. ternyata memang komunikasi produktif pada poin 2C sangat penting untuk diterapkan agar pesan yang tersampaikan sesuai dengan maksud sang pemberi pesan :")

Alhamdulillah secara umum perjalanan kami sangat berjalan baik. Semua bahagia dan merasa nyaman.

Bersama keluarga A Hambari di malam terakhir kami disana


#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip