Saturday, 22 March 2014

Pernikahan (Part 2)


Gimana-gimana?
Masih mau denger kisah pernikahan saya? Mau ya… Please mau donk… *narik-narik ujung baju. Hehehehe…

Yup. Jadi setelah bertukar CV, saya pun melanjutkan proses taaruf saya ini dengan pertemuan langsung dengan suami saya sekarang. Tempatnya adalah di rumah guru ngaji saya. Beliau pun didampingi guru ngajinya.

Pertemuan Pertama dalam Forum Bersejarah

Hehehehe… Judulnya… >.<
Jadi, di kampus, saya jarang ketemu beliau. Karena memang jurusan kami berbeda. Saya jurusan ekonomi, beliau jurusan Fiqih (Syariah). Beliau pagi-sore kerja, sore-malem kuliah. Jadi saya curiga sepertinya beliau jatuh cinta pada pandangan pertama sama saya pada pertemuan kami yang amat jarang itu. Ataukah radar saya yang terlalu kuat sehingga narik-narik radarnya beliau? *kemudian semuanya muntah berjamaah. Hehehe… Bercanda ^_^v

Akhirnya ditentukanlah waktu pertemuan kami. Saya ingat, paginya saya diberi amanah untuk menjadi MC di acara seminar kampus. Saat jadi MC, saya udah ga konsen karena fokus saya ada pada acara penting siang nanti.

Tujuan pertemuan langsung kedua belah pihak adalah untuk mengkonfirmasi isi CV, menanyakan hal-hal yang tidak dicantumkan di dalam CV, dan untuk menguatkan keputusan. Karena dari pertemuan tersebut kita bisa tau hati kita sreg ga sih sama calon pasangan kita. Well, our heart cannot lie.

Saya ingat. Hari itu hari Minggu tanggal 10 Maret 2013.
Jam 3 sore pun ditentapkan sebagai waktu pertemuan kami.
Jam 2.30 saya sampai di rumah guru ngaji saya. Saya ingin curhat dulu sebentar sama guru ngaji saya. Wajar lah perempuan, pasti perlu curhat.
Sebenarnya saya bukan curhat sih, saya ingin bertanya ke beliau apakah pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan nanti boleh apa engga? Sekitar 10 pertanyaan yang saya siapkan. Kata guru saya, “Qorry, justru saat ini adalah kesempatan kamu untuk lebih mengenal siapa dia. Manfaatkan kesempatan ini. Tanyakan saja semuanya, jangan ragu-ragu.” #okesip

Gak lama, pintu rumah guru ngaji saya pun diketuk.
Datanglah ia. Memakai kemeja putih, celana hitam. Adem sih liatnya. Rasa #nyes gitu dalam hati. Hehehe.. Saya tetiba deg-degan. Haduh… Gimana ini?
Tidaaaaakkkkk…. *lebay :D

Beberapa menit kemudian pun, guru ngaji beliau pun yang merupakan dosen di Madinah International University, Shah Alam, datang bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Oh ya, suami guru ngaji saya dan anaknya yang masih kecil pun ada di rumah tersebut. Jadi, total kami berdelapan berada di dalam ruangan tersebut.

Btw… Kok adegan ini mirip di scene Ayat-Ayat Cinta ya? Hehehehe… *tiba-tiba ngerasa kaya Aisyah dan Fahri.

Sekitar pukul 3 acara pun dimulai. Yang memimpin jalannya sidang, eh kok sidang… hehehe… maksudnya diskusi adalah guru ngaji beliau. Acara pun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Ini serius. Kata Ustadnya agar lebih berkah pertemuan saat itu.

Mulailah kami yang saling berdiskusi. (Calon) Suami memulai dengan memaparkan tentang dirinya sekali lagi. Kemudian, setelah beliau selesai berbicara, saya diberikan kesempatan untuk bertanya. Cukup banyak yang saya tanyakan, misalnya, “Ingin istri berada di rumah atau boleh berkarier?”, “Bagaimana cara mendidik anak?”, “Kakak orangnya sabar ga?” dan masih banyak pertanyaan (yang menurut saya) penting lainnya. (Calon) Suami pun menjawab satu per satu pertanyaan yang saya ajukan. Hmm… So far jawabannya bikin saya tenang. Hehehe…

Lalu giliran saya yang ditanya. Saya udah siapin mental mau ditanya-tanya ini itu. Eh ternyata, pertanyaan dari beliau cuma, “Apakah Qorry mau menerima saya apa adanya?” #Doeng! Hihi… Entah karena beliau memang tidak neko-neko, atau karena udah percaya, atau karena apa, tidak ada pertanyaan lain yang diajukan.

Sesi diskusi pun selesai. Ustad kemudian mengambil alih kendali diskusi. Kata beliau, “Alhamdulillah… Diskusi antara Hambari dan Qorry  sudah selesai. Sekarang saya ingin menanyakan apakah proses ini mau dilanjutkan ke tahap khitbah dan pernikahan? Bisa diutarakan saat ini, ataupun bisa meminta waktu untuk berpikir.”

(Calon) Suami pun diminta untuk menjawab terlebih dahulu. “Saya sudah mantap, Ustad. Insya Allah saya siap lanjutkan proses ini.” katanya. Mantap. Gak ragu-ragu. Wuih… Boleh juga keyakinannnya.

Kalau saya? Saya jawab, “Ustad, tapi saya belum yakin, saya masih harus berpikir lagi. Satu minggu insya Allah paling lambat saya berikan keputusan.”

“Baik, insya Allah, dalam satu minggu kita akan mendapatkan keputusan apakah proses ini berlanjut atau tidak. Jika berlanjut, maka tugas kami sebagai mediator untuk memperkenalkan cukup sampai di sini. Libatkan keluarga untuk proses selanjutnya, yaitu lamaran dan pernikahan. Kami doakan yang terbaik.” kata Ustadz.

Begitulah. Proses pertemuan saya dengan (calon) suami berjalan lancar, Alhamdulillah. Saya dapatkan beberapa gambaran lebih jelas tentang dirinya. Tapi satu hal yang begitu terekam dalam ingatan saya, bahwa dia begitu yakin untuk menikahi saya. Satu point plus buat beliau.

*to be continued

Pernikahan (Part 1)


Alhamdulillah… Hari ini, tepat 3 bulan saya dan suami menikah.
Waktu berjalan cepet banget rasanya. Padahal kaya baru kemarin riweuh ngurusin ini itu buat syukuran pernikahan kami.

Mau bilang ini untuk Suami :

“Selamat tiga bulan ya Suamiku… Semoga kita menjadi pasangan sakinah mawadah wa rahmah, tidak hanya di dunia ini, tapi kelak hingga syurga Firdaus-Nya nanti. Aamiin…”

“Terima kasih atas segala cinta, kasih sayang, penerimaan, pemakluman, dan kesabaran yang selama ini diberikan. Insya Allah, meski masih jauh, aku akan terus belajar memperbaiki diri dan menjadi istri yang shalihah. Aamiin…”

***

Oke… Seperti yang udah saya janjikan di blog sebelumnya, saya akan cerita tentang proses kami mulai dari perkenalan sampai akhirnya ke jenjang pernikahan. Tiada maksud lain, hanya sekedar berbagi. Mudah-mudahan dapat memotivasi. Aamiin…

Bismillah…

Sebelum Taaruf

Jadi, kisah ini berawal dari seseorang yang tiba-tiba menanyakan status saya pada bulan Februari tahun 2013.  Apakah saya available jika ada seorang ikhwan yang ingin melakukan taaruf? Karena memang saat itu posisi saya single and very happy, hehehe, ya udah saya jawab aja apa adanya kondisi saya pada saat itu.

Singkat cerita, proses pun dilanjutkan via guru ngaji. Ternyata… Ikhwan yang berniat taaruf itu bernama Hambari Nursalam. Hmm… Kaget juga dengernya. “Hambari? Kok bisa sih?” batin saya. Kami gak saling kenal secara personal. Ngobrol aja gak pernah.  Betul memang kami kerja bareng di 3 organisasi yang sama: Forum Tarbiyyah IIUM (beliau ketua, saya anggota divisi keputrian), UPZ Baznas cabang KL (beliau sekretaris, saya anggota divisi pendayagunaan), dan IAEI cabang KL (Saya di bendahara, kalau beliau apa ya? Hehehe lupa :p). Tapi intinya adalah meski gabung di 3 organisasi yang sama, gak pernah ada moment saya dan beliau kerja bareng secara langsung. Gak ada sms, pesan pribadi, atau apapun itu untuk koordinasi tentang kerjaan. Karena kami memang ada di bidang yang berbeda. Ketemu pun hanya saat rapat besar, itu pun gak pernah saling sapa atau ngapain gitu… (Emang mau ngapain? ;p)

Awalnya agak ragu mau proses apa engga. Dilemaaaa banget.
Bukan apa-apa, he was a stranger to me.
Tapi untungnya, A Irfan, kakak pertama saya kenal beliau saat kuliah S3 di IIUM ini. A Irfan bilang, “Insya Allah Hambari adalah orang yang baik dan agamanya pun baik.” Kata A Irfan lagi, “Bismillah dicoba aja dulu Qorry, toh kan melakukan proses taaruf bukan berarti udah pasti sampe ke pernikahan.”

Iya juga ya… Dipikir-pikir, justru lewat taaruf inilah dari gak kenal menjadi kenal, sehingga bisa mengira-ngira apakah akan lanjut ke tahap selanjutnya atau cukup sampai di sini saja… *tsah… :p

Oke… Karena ada rekomendasi dari kakak sendiri (Suami, you owe a lot to my brother ;P), bismillah aja dicoba. Umur saya juga udah 25 tahun, sepertinya udah waktunya menikah. Kalau ga dimulai prosesnya, gimana mau menikah? Doa udah pasti. Tapi doa harus diaktulisasikan lewat ikhtiar, dan taaruf ini salah satu jalan ikhtiar. “Baik ka, insya Allah aku siap jalani proses taaruf ini.” kata saya akhirnya kepada guru ngaji saya.


Kenapa harus lewat Taaruf?

Ada satu doa yang selalu saya panjatkan sejak tahun 2012, “Ya Allah… Tolong tumbuhkan perasaan cinta dalam hatiku kepada seseorang yang halal buatku. Tolong tumbuhkan perasaan cinta dalam hatiku, yang membuat-Mu tidak cemburu. Dan tolong tumbuhkan perasaan cinta dalam hatiku yang terlandaskan oleh cintaku kepada-Mu.”

Saya gak bilang taaruf adalah jalan yang terbaik, karena setiap orang punya jalannya masing-masing untuk bertemu jodoh mereka. Tapi menurut saya pribadi, sepertinya berproses lewat cara seperti ini akan lebih menjaga hati dan pikiran saya. Sedari awal saya tetapkan bahwa tujuan saya menikah salah satunya adalah untuk ibadah dan dapatkan ridho Allah. Saya menginginkan proses menuju gerbang pernikahan pun adalah cara yang benar-benar Allah sukai. Gak bikin Dia cemburu. Gimana mau dapat ridho-Nya kalau dari awal aja udah bikin Dia cemburu. Iya kan?

Jadi, adegan butterfly effect inside my tummy, atau kumbang terbang di dalam hati bisa dieliminasi. Atau… adegan (maaf) pegang-pegangan tangan, atau bahkan lebih dari itu (naudzubillah himindzalik) bisa dihindari. Atau adegan patah hati karena salah satu pergi bisa diminimalisir.

Percayalah, saya bukan manusia yang sempurna.
Justru karena ketidaksempurnaan saya inilah menyampaikan saya pada tahap bagaimana saya memandang hubungan perempuan dan laki-laki yang ideal itu seperti apa.
Saya belajar. Saya introspeksi. Saya evaluasi diri. Atas segala kesalahan, kekurangan, dan kealpaan diri saya sebelumnya.

Dari usia saya remaja, saya selalu punya keinginan.
Saya ingin kelak tangan laki-laki pertama (selain Ayah dan keluarga tentunya :p) yang saya cium adalah tangan suami saya.
Saya ingin kelak laki-laki yang menggenggam tangan saya atau mengecup kening saya yang pertama kali adalah suami saya.
Saya ingin laki-laki yang menghapus air mata yang jatuh di pipi saya pertama kali adalah suami saya.
Saya ingin saya adalah wanita pertama baginya, dan dia adalah laki-laki pertama bagi saya.
Saya ingin menjaga itu semua.
Menjaga kesucian cinta.

Maka, proses taaruf inilah yang saya rasakan aman. Karena selalu ada pihak ketiga yang memantau. Bismillah… Proses ini pun kami jalani…

Bertukar CV

“CV? Emangnya mau lamaran kerja?”
Hampir semua orang punya pertanyaan tersebut. Termasuk kamu kan? Hehehehe…

Jawabnya, “Iya… Kan menikah itu bekerja seumur hidup.” #eeeaaaaaa :D

Jadi, tahapan pertama adalah kami bertukar CV. Tapi, CV bukan sembarang CV.
CV ini terdiri dari beberapa bagian. Pertama, biodata diri. Nah ini isinya hal-hal dasar dalam diri kita, kaya nama lengkap, alamat, golongan darah, riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, sampai pengalaman kerja. Makanan favorit dan minuman favorit juga boleh dicantumin kok (hehehe jadi inget pas SD).

Kedua, data keluarga. Nama ayah, ibu, saudara kandung, saudara ipar, dan keponakan kalau ada. Hehehe… Saya cantumin nama Atqiya, Aufa, dan Amira juga soalnya :D Sekaligus pekerjaan keluarga hingga riwayat pendidikan mereka secara umum. Ini penting, karena pernikahan bukan sekedar menyatukan dua insan saja, tapi juga menyatukan dua keluarga.

Ketiga, riwayat kesehatan. Nah… Ini juga penting banget. Harus diisi dengan sejujurnya. Pernah sakit apa, tahun berapa. Karena kita inginnya pasangan kita adalah orang yang sehat secara lahir dan batin. Lalu kalau mau ditambah riwayat kesehatan orang tua kita juga boleh. Jadi kita tau kira-kira penyakit turunan yang mungkin akan dibawa.

Keempat, kelebihan dan kekurangan diri kita, menurut diri kita sendiri. Misalnya kita punya sifat manja, cengeng, cepet nangis, atau sangat sensitif *duh kesindir! Hehehe.. Ungkapkan apa adanya bagaimana kita menilai diri kita sendiri. Karena, calon pasangan kita ingin tau gambaran diri kita. Apalagi kalau kasusnya gak saling kenal. Kalau temen saya, bahkan dia mencantumkan pula gambaran dirinya menurut orang lain. Katanya biar calon pasangan dapat gambaran yang lebih objektif. Bisa juga idenya :)

Kelima, dan ini yang paling penting, tentang pernikahan itu sendiri. Cantumkan kriteria pasangan yang kita dambakan seperti apa. Tujuan menikah kita itu apa. Visi dan misi kita menikah itu bagaimana. Ini bisa jadi pertimbangan gambaran kelak rumah tangga akan dibawa kemana. Dari pemaparan seseorang tetang pernikahan, sedikit banyak kita akan mengetahui apa yang jadi dasar dia dalam berpikir dan bertindak.

Terakhir, daftar referensi beserta email dan nomor hape. Maksudnya adalah orang-orang yang dipercaya, yang bisa memberikan penilaian objektif tentang diri kita, jika calon pasangan ingin menanyakan lebih jauh tentang diri kita. Misalnya di list suami, beliau mencantumkan nama beberapa orang sabahatnya, sebagian saya kenal, sebagian lagi tidak.

Jadi… Yang bilang proses taaruf ibarat membeli kucing dalam karung sekarang bisa melihat kan? Justru proses perkenalan seperti ini menampilkan diri kita apa adanya. Gak boleh ada fake atau dusta. Harus jujur. Jujur apa adanya.

Lalu bagi yang ingin menikah, ini pun dapat dijadikan referensi. Sudahkan persiapkan CV pernikahannya? Siapkanlah… Insya Allah dengan menyiapkan CV pernikahan, merupakan salah satu bentuk aplikasi praktek dari niat kita.

Oke… Back to my story, sekitar awal bulan Maret, kami pun bertukar CV via guru ngaji kami masing-masing. Saya melihat proposal pernikahan beliau, dan beliau pun melihat proposal yang saya buat. Kalau saya, begitu saya mendapatkan CV beliau, saya langsung forward ke Mamah, Papah, dan Kakak-kakak saya. Saya ingin mereka terlibat dalam proses yang saya jalani ini. Ya iyalah… They are my significant people in my life. Their comments do matter to me. Bisa jadi bahan pertimbangan saya dalam memberikan keputusan. Bisa jadi bahan penilaian kami dalam bermusyawarah. Kan yang sedang taaruf ini akan menjadi calon keluarga mereka. Intinya, peran keluarga amat penting dalam proses taaruf ini. Jangan ditutup-tutupi atau disembunyikan. Catet ya, ini penting banget.

Dari bertukar CV, kami diberi waktu sekitar satu minggu untuk memutuskan apakah proses ini akan dilanjutkan ke tahap taaruf bertemu atau tidak. This is crucial. Makanya, saya libatkan keluarga di Bogor untuk ikut mengistikharahkan dan memusyawarahkannya. I let everyone in my family to ask Allah’s guidance. I want to attract His bless by attracting my family’s interests and tendencies. If they feel comfortable, I will continue the process. Otherwise, I will just say bye-bye to the guy. Hihi…

Akhirnya… Setelah istikharah tiada henti dan musyawarah dengan keluarga, saya pun memutuskan untuk melanjutkan dari tahap pertukaran CV ke tahap selanjutnya: Pertemuan langsung. Duh!

Penasaran ga denger kisah selanjutnya?
Tungguin cerita saya di bagian selanjutnya… Sengaja ah dibikin penasaran.. Hehehehe…
*padahal mah cape nulis

*to be continued

Thursday, 13 March 2014

Flashback 2013


Assalamualaikum sahabatku semua…

Gimana kabarnya? Udah lama banget rasanya ga update blog lagi. Kangennnn banget!!!

Gak kerasa, tahun 2014 udah memasuki bulan ketiga. Akan ada insya Allah sembilan bulan ke depan yang pastinya akan memberikan banyak warna di dalam kehidupan kita.
Begitu banyak moment penting, bahagia, dan bersejarah yang belum saya share di blog ini.

Flashback di Tahun 2013

Tahun 2013 saya gambarkan sebagai tahun penuh dengan keberkahan. Bukan berarti tahun-tahun sebelumnya tidak berkah, naudzubillah… Engga sama sekali.
Cuma yang saya rasakan, banyak chapter baru di dalam hidup saya, yang saya mulai di tahun 2013 kemarin.

Diawali dengan kisah saya menghadiri konfrensi ekonomi syariah di Hannover, Jerman pada bulan Februari. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk melakukan perjalanan jauh sendirian. Di konfrensi tersebut saya mempresentasikan sebuah paper yang saya tulis bersama kakak saya, A Irfan dan Teh Laliy. Dan Alhamdulillah… Paper tersebut diberi pernghargaan sebagai “Best Presentation Award” untuk sesi saya.

Dengan musafirnya saya ke Jerman, saya merasakan punya banyak saudara baru. Sebut saja Ibu Ernah Tangim yang baik hati menemani dan menjamu saya selama di Hannover. Lalu ada Ayas, Igna, dan Neni yang bikin hari-hari saya di Berlin seru banget. Dan… Tentu saja Tante Diana Hesse dan Om Gregor yang menganggap saya sebagai anaknya sendiri selama saya berada di Goettingen. Di Goettingen pun saya bertemu dosen dan sahabat-sahabat dari IPB seperti Kak Iqbal Irfani dan keluarga, Triana, Riska, Ahmad, Puspi, dan masih banyak lagi. Kesemuanya menyimpan cerita yang indah kalau dikenang. Dan bahkan rasa syukur saya semakin berlipat ganda karena hingga saat ini saya masih menjalin komunikasi baik dengan sahabat-sahabat di Jerman.

Bersama Igna dan Ayas saat nunggu kereta subway


Kisah berlanjut dengan *akhirnya* kelulusan S2 saya di IIUM pada bulan Juni. Setelah tiga kali ganti topik, setelah dibanjiri pertanyaan “Gimana thesis?” atau komentar “Kok lo lama banget sih bikin thesisnya?”, setelah bolak balik ke perpustakaan Bank Negara Malaysia yang nyaman, setelah nangis-nangis sendiri karena ngerasa stuck, setelah perasaan campur aduk itu jadi satu… Akhirnya.. akhirnya kesempatan untuk presentasi hasil penelitian, dan dinyatakan lulus oleh IIUM sebagai Master of Economics pun saya dapatkan. Huhuhu… Terima kasih ya Rab…

Kebahagiaan atas kelulusan tersebut pun semakin lengkap, saat saya lagi-lagi diberikan kesempatan oleh Allah menjadi lulusan terbaik dari Master of Economics pada wisuda bulan November. Pertama kalinya saya bikin Mama Papa menitikkan air mata bahagia. Well.. That means the world to me: make my parents proud of me. Alhamdulillah.. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini ;)

My Malaysian Bestfriends


Maha Suci Allah atas segala karunia-Nya, lagi-lagi saya bersyukur karena pada bulan Oktober saya diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji bersama keluarga. Masya Allah… Merinding kalau ingat kejadian haji tahun kemarin. Rindu dan semakin rindu jika mengingatnya kembali. Saya rindu Ka’bah. Saya rindu raudhah. Saya rindu Baitullah. Saya rindu Nabawi. Ya Allah, perkenankanlah saya dan suami saya, mama papa saya, dan mertua saya untuk mengunjungi rumah agung-Mu ya Rab. Aamiinn… :’)

Madinah Al-Munawwarah


Eeehhh.. Apa?? Suami?? Mertua??
Hihi.. *keluar malu-malu
Iya-iya.. Jadi… Tahun 2013 ditutup indah dengan pernikahan saya dengan seorang laki-laki beruntung (hahahaha :p) bernama Hambari Nursalam tanggal 22 Desember 2013. Alhamdulillah pada hari Minggu tersebut, Allah menganugerahi saya sebuah amanah, yang dengannya saya akan berjuang bersama dan Insya Allah perjuangan tersebut tidak hanya untuk di dunia, tapi kelak di syurga-Nya. Aaamiin..

Penasaran sama detail kisah pernikahan kami? Hihi.. Insya Allah akan ada episode khusus yang bahas tentang proses pernikahan kami ya. Mudah-mudahan cerita ini bisa menginspirasi dan memotivasi sahabat semua. Memotivasi kebaikan, tentu saja. Semoga… :)

Love of My Life :)

Jadi… Setelah flashback kisah tahun 2013 ini, saya selalu berharap agar Allah terus meridhoi dan menyayangi saya dan keluarga. Saya berharap semoga menjadi hamba-Nya yang senantiasa bersabar dan bersyukur atas segala moment yang telah Allah gariskan untuk saya. Aamiin…



Wisuda, 16 November 2013


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya pada hari Sabtu tanggal 16 November 2013 yang lalu, orang tua saya menitikkan air mata karena merasa bangga dan terharu atas prestasi yang saya raih sebagai “Best Graduate of Master of Economics winner” pada acara wisuda ke-­‐29 di International Islamic University Malaysia. Jujur, saya tidak menyangka bahwa orang tua saya akan merasa terharu sedemikian sehingga benar-­‐benar terpancar dari ekspresi wajah mereka saat penghargaan tersebut diberikan kepada saya. Belum pernah saya melihat mereka begitu terharu atas apa yang saya capai. Belum pernah.

Merasa Dihargai

Menurut cerita mereka, salah satu yang membuat orang tua saya terharu, selain prestasi yang saya raih, adalah perlakukan panitia yang benar-­‐benar menghargai dan menghormati mereka. Saat orang tua saya masuk ruangan, panitia langsung menyambut mereka dan berkata, “Selamat ya Ibu dan Bapak karena telah berhasil mendidik putri terbaik.” Deg! Seketika hati Ibu dan Ayah saya terenyuh. Mereka merasa universitas memiliki pandangan bahwa prestasi yang dicapai oleh para mahasiswa bukan semata-­‐mata karena kerja keras dan doa dari mahasiswa sendiri, tetapi tidak lain adalah terutama berkat jasa para orang tua. Oleh karena itu, apresiasi prestasi para mahasiswa, tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa yang bersangkutan saja, tetapi juga ditujukan kepada para orang tua yang telah berkorban tenaga, harta, benda, bahkan air mata demi keberhasilan mereka.

Setelah masuk ke dalam ruangan, kemudian orang tua saya dipersilahkan untuk menduduki tempat VIP yang posisinya berada di paling depan ruang wisuda, sehingga mereka dapat menikmati prosesi wisuda dengan lebih nyaman dan jelas. Setelah acara selesai, Ayah dan Ibu saya beserta para orang tua peraih penghargaan dijamu khusus oleh rektor untuk menikmati hidangan bersama para mahasiswa berprestasi tersebut.

Jika menilik ke belakang, saya menyadari bahwa memang peran orang tua saya di dalam mendidik saya dan kakak-­‐kakak saya sangat memotivasi saya untuk mempersembahkan yang terbaik di dalam apapun yang saya lakukan. Ayah dan Ibu saya menanamkan nilai “orientasi proses”, bukannya “orientasi hasil” di dalam belajar dan berusaha. Menurut mereka, yang penting adalah berusaha dan berdoa dengan jalan yang benar, jujur, dan sungguh-­‐sungguh, karena hasil terbaik pun akan mengikuti. Hasil adalah urusan Allah, sedangkan porsi manusia hanya sebatas mengikhtiarkan dengan usaha yang terbaik. Sikap berharap namun disertai dengan kepasrahan atas usaha yang dilakukan harus ditanamkan di dalam diri kami masing-­‐masing. Jika demikian, maka kita tidak akan pernah kecewa, karena kita yakin bahwa apapun hasilnya, itulah yang terbaik menurut pandangan-­‐Nya, sekalipun terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.

Sebaliknya, Ibu dan Ayah saya sangat keras kepada anak-­‐anak mereka untuk tidak berorientasi pada hasil. Karena menurut mereka, jika hasil yang menjadi
satu-­‐satunya tujuan, maka manusia akan menghalalkan segala macam cara demi mendapatkan hasil yang diidamkan, terlepas dari cara tersebut benar ataupun salah. Mereka tegas mengingatkan kami untuk bersikap jujur dan tidak mencontek saat ujian. Mereka mendidik kami agar berusaha dengan cara yang memang Allah ridhai. Karena itulah hakikat kesuksesan yang hakiki, yaitu keberhasilan di dalam mempersembahkan yang terbaik di dalam ikhtiar dan doa yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Sang Pemilik Rezeki.
Maka, biasanya penghargaan kepada kami diberikan bukan karena apa yang kami raih, tapi karena apa yang telah kami jalani. Seringkali kami diberikan hadiah setelah ujian selesai, padahal hasil ujian tersebut belum keluar. Kata mereka, “Hadiah karena kalian sudah belajar dan berdoa sungguh-­‐sungguh.” Begitulah orang tua saya mendidik para anak mereka. Penanaman nilai tersebut begitu terpatri di dalam diri saya, dan saya akan terus berusaha untuk memenuhi amanah ini.

Alhamdulillah... Penghargaan yang baru saya terima ini saya dapatkan melalui proses yang Insya Allah jujur dan sungguh-­‐sungguh. Terasa berat memang saat dijalaninya, tapi selalu saja ada pertolongan dari-­‐Nya dari jalan yang tidak disangka-­‐sangka. Saya belajar, membaca buku, membaca jurnal, diskusi kelompok dengan teman-­‐teman, sampai pulang ke Indonesia hanya demi mempelajari materi yang tidak saya paham kepada seorang guru di Bogor yang memiliki pemahaman baik atas materi kuliah yang saya anggap susah. Dan kesemuanya itu didukung oleh kedua orang tua saya. Mereka menyemangati, memotivasi, dan mendorong saya untuk terus belajar sekuat tenaga agar memiliki ilmu yang bermanfaat.

Membawa Nama Indonesia

Penghargaan kemarin pun terasa lain karena saya membawa nama Indonesia. Penerima penghargaan berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Palestina, India, Bangladesh, Cina, Somalia, dan sebagainya. Ketika nama saya dipanggil, “Qurroh Ayuniyyah from Indonesia”, di layar besar pun terpampang tulisan “INDONESIA”. Saat rektor menyalami dan memberikan penghargaan, beliau berkata, “Oh... So you are from Indonesia? So great. Keep up with the good work.” Ada rasa haru dan bangga menyeruak dalam hati saya pada saat itu. Meski mungkin tidak terlalu banyak memberikan arti menurut sebagian orang, tapi membawa nama Indonesia di hadapan mahasiswa dan orang tua dari berbagai negara sangat berarti bagi saya. Semoga kelak akan ada kesempatan lagi bagi saya membawa nama Indonesia di dunia internasional dan memberikan manfaat nyata bagi negara ini. Aamiin... 

Kumpulan Foto saat Wisuda



Bersama Mamah, Papah, Kak Sumayyah, Ibu Kak Sumayyah setelah wisuda


Bersama Kak Sumayyah, sahabat selama S2