Wednesday, 22 March 2017

Nice Homework 9 (Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional)


Nice Homework (NHW) #9
Bunda sebagai Agen Perubahan

Disusun oleh :
Qurroh Ayuniyyah
(Kuala Lumpur, Malaysia)

Gak kerasa ya kita sudah memasuki minggu ke-9 alias minggu terakhir di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Ada perasaan bahagia karena mendapatkan ilmu yang luar biasa dari para fasil dan guru di IIP, serta dapat bersilaturahim dengan para Bunda luar biasa keren yang tinggal di berbagai negara baik itu ASEAN, Non-ASEAN, maupun Indonesia Timur... Saya belajar banyak dari mereka. Alhamdulillah atas kesempatan ini ya Allah :')

Sejujurnya selama kurang lebih dua bulan fokus di dalam dunia parenting, ketertarikan terhadap dunia ini menjadi lebih besar dibandingkan dengan bidang lainnya. Namun, setelah saya pertimbangkan saya tetap akan fokus terhadap bidang ekonomi syariah yang telah saya pelajari kurang lebih selama enam tahun terakhir ini.

Selama ini, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sudah cukup baik, namun jika melihat potensi sumber daya manusia yang ada, realisasi dari penerapan ekonomi syariah secara umum masih cukup stagnan. Di antara faktor penyebab ada minimnya pertumbungan dan perkembangan ekonomi syariah ini adalah kurangnya pengetahuan (awareness) masyarakat terhadap ekonomi syariah, sehingga dominasi sistem ekonomi konvensional masih begitu merajalela di dalam sistem perekonomian Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Dengan memiliki hobi mengajar dan membaca ditambah saya merasa bahwa skill yang saya miliki adalah mengajar dan menulis, maka ide sosial yang ingin saya kembangkan adalah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait ekonomi syariah ini baik melalui lisan seperti seminar-seminar atau kegiatan kreatif lainnya maupun secara tulisan baik formal maupun nonformal. Ini dapat diawali dari siswa dan mahasiswa, karena mereka adalah salah satu pengemban amanah sebagai agent of change di dalam dunia pendidikan. Tentu saja, ke depannya target yang lebih besar adalah masyarakat secara umum. Berikut ini adalah Tabel yang merangkum ide sosial saya.  

Minat, Hobi, Ketertarikan
Skill (Hard and Soft)
Isu Sosial
Masyarakat
Ide Sosial
Mengajar, Membaca,
Isu-isu berkaitan Ekonomi Syariah
Mengajar, Menulis, Komunikasi,
Percaya Diri
1.      Kurangnya pengetahuan masyarakat akan ekonomi syariah.
2.      Dominasi sistem ekonomi konvensional selama berabad-abad.
Siswa
Mahasiswa
Masyarakat secara umum

Edukasi dan Sosialisasi  kepada masyarakat terkait Ekonomi Syariah melalui lisan maupun tulisan

Friday, 17 March 2017

Seminar Parenting “Komunikasi Efektif untuk Generasi Gemilang” Bagian 4 (Tamat)


Alhamdulillah kita sudah sampai kepada bagian terakhir dari seri seminar parenting yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 11 Maret 2017 yang lalu. Sesi terakhir dari seminar ini adalah sharing pengalaman pribadi oleh Mba Iranty Purnamasari alias Mba Ranty. Saat pertama kali beliau datang, saya langsung berbisik dalam hati, “Ih itu si Emak yang suka bilang, ‘Oh… seperti itu.’ di sinetron Ojeg Pengkolan…” Hehehhee… Saya sungguh bersyukur pada hari itu kami berkesempatan tidak hanya mendapatkan materi dari para certified trainer yaitu Mba Chita dan Mba Iwed, tapi juga mendapatkan ilmu dari pengalaman pribadi seorang public figure yang tentunya dapat kita ambil ibroh alias hikmahnya. Baik kita mulai ya :’)

Sekilas tentang Mba Ranty
Di awal sharingnya, Mba Ranty memperkenalkan diri sebagai Ibu dari seorang remaja putri berusia 16 tahun yang bernama Selika. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama Mba Ranty diberikan amanah oleh Allah SWT. Tiga bulan setelah pernikahan, Mba Ranty pun hamil Selika. Saat mengetahui kehamilannya, Mba Ranty langsung menghentikan segala kegiatannya dan hanya ingin berfokus pada kehamilannya. Bahkan maternity leave (cuti melahirkan) yang ia jalani pun di-extend hingga dua tahun lamanya demi menyusui sang buah hati. MasyaAllah ya, betapa saya sangat salut saat Mba Ranty bercerita bahwa dia vakum dari segala kegiatan hanya untuk fokus pada kondisi kehamilannya dan menyusui Selika. Barakallah Mba Ranty… :’) Mba Ranty pun melanjutkan kegiatannya saat Selika sudah disapih.
Mba Ranty


Tapi…
Karena Mba Ranty merasa bahwa bonding yang terbangun antara dirinya dengan Selika amat kuat karena selama tiga tahun fokusnya hanya untuk Selika, Mba Ranty merasa bahwa dia-lah yang mengetahui yang terbaik untuk anaknya. Di sebagian hal memang benar, namun  di sebagian yang lain Mba Ranty menyadari bahwa itulah kesalahannya di dalam mendidik Selika. Misalnya, saat Selika kecil Mba Ranty sudah menyiapkan makan sesuai dengan porsi yang Mba Ranty pikir adalah yang terbaik untuk Selika. Saat Selika bilang kenyang tapi makanan belum habis, maka Mba Ranty akan tetap memaksa Selika untuk menghabiskannya. Padahal mungkin respon tubuh Selika sudah berkata kenyang, tapi tetap dipaksa untuk menghabiskan makanannya. Suami Mba Ranty sudah mengingatkan, daripada Selika memuntahkan apa yang sudah dimakannya, lebih baik sudahi saja makannya. Tapi Mba Ranty berpikir bahwa apa yang sudah disiapkan, maka itulah yang mesti dihabiskan. Dan… ternyata benar, di suapan terakhir, Selika memuntahkan semua makanannya. Belum cukup sampai di situ, bukannya Mba Ranty menyudahi makan Selika, tapi Mba Ranty malah menyiapkan makanan lagi untuk Selika karena ia berpikir makanan di perut Selika sudah dimuntahkan sehingga perutnya kosong… Begitu sering terjadi dahulu… Mba Ranty amat menyesal jika harus mengingat kejadian itu…

Kesalahan Komunikasi
Mba Ranty menyadari bahwa salah satu kesalahan komunikasi yang terjadi antara dirinya dengan Selika adalah adanya komunikasi yang sifatnya satu arah. Bahwa di dalam benak Mba Ranty saat itu, anak harus menurut apapun yang diperintahkan oleh Ibunya karena Ibu-lah yang mengetahui yang terbaik bagi anaknya.  Mba Ranty selalu mencukupi apa pun yang Selika butuhkan (menurut perspektif Mba Ranty), sehingga ia menjadi merasa superior atas Selika. Jika Selika menunjukkan sikap tidak suka, maka Mba Ranty akan langsung menegur Selika. Bahkan Mba Ranty pernah bilang, “Jika kamu tolak pinggang, maka saya bisa tolak kepala…” dengan suara naik beberapa oktaf.

Children see. Children do.
Mba Ranty pun bercerita bahwa apa yang anak lihat, maka itulah yang akan dia lakukan. Beberapa sikap yang kurang baik yang pernah Mba Ranty lakukan di depan Selika, ternyata dicontoh pula oleh Selika. Misalnya sikap memarahi asisten rumah tangga. Awalnya Mba Ranty amazed dan berpikir, “Ih lucu ya Selika kaya mini-me…” Tapi lama kelamaan dia berpikir bahwa Selika mencontoh hal-hal yang kurang baik dari dirinya, pasti ada sesuatu yang salah.

Titik Balik
Sampai suatu saat Mba Ranty menyadari bahwa ada perubahan di dalam diri Selika, dari pribadi Selika yang ceria menjadi pribadi yang tertutup. Setiap ditanya, jawaban Selika selalu oke, she is fine, nothing is wrong. Tapi feeling Mba Ranty sebagai seorang Ibu mengatakan bahwa sepertinya ada yang salah.

Kesedihan Mba Ranty memuncak saat ia mendapati Selika telpon-telponan dengan orang lain, mencurahkan segala isi hatinya terutama kegundahan di dalam hatinya. Ternyata yang Selika telpon adalah gurunya. Saat itu Mba Ranty sedih, mengapa saat Selika perlu cerita, Selika malah mencurahkan segalanya pada orang lain, bukan pada dirinya sebagai ibunya. Mba Ranty sedih, bukan karena apa-apa, tapi dia menyadari bahwa belum terbangun kenyamanan dan kepercayaan Selika terhadap dirinya.

Mengikuti Pelatihan Enlightening Parenting
Suatu saat di tahun 2015, Mba Ranty diminta oleh sahabatnya yang bernama Mba Arie untuk membacakan narasi di acara launching buku “The Secret of Enlightening Parenting”. Saat itu pertama kalinya ia terpapar akan informasi dan ilmu tentang ilmu parenting yang dibawakan oleh Mba Okina. Sejak saat itu ia sering berdiskusi dengan Mba Arie mengenai parenting dan segala yang berkaitan dengannya. Mba Arie pun menyarankan Mba Ranty untuk mengikuti pelatihan selama dua hari bersama Mba Okina Fitriani. Dengan niat untuk terus memperbaiki diri sebagai seorang Ibu, maka diikutinyalah seminar tersebut. Pada saat itu, Mba Ranty benar-benar tersadarkan akan kesalahan-kesalahan komunikasinya dengan Selika selama ini. Ia segera tau mengapa Selika menjadi pribadi yang amat tertutup terhadap dirinya. Kata Mba Ranty, “Saat saya mengikuti pelatihan, saya ibarat ditampar bolak-balik..” sambil menirukan gaya orang menampar. Hehehe… You are not alone Mba Ranty… Saya juga di seminar kemarin merasa ditampar ko… Hehehehhe :D

Mba Ranty mendapatkan banyak pencerahan setelah mengikuti seminar tersebut. Ia langsung berbenah diri, apa yang bisa diperbaiki akan ia perbaiki seoptimal yang ia bisa. Maka Mba Ranty mulai sharing dari hati ke hati dengan Selika, terutama mengenai apa yang Selika rasakan… Kemudian Selika berkata, “Jika Mama marah, itu akan merusak satu hari saya…” Ternyata apa yang Mba Ranty lakukan akan memengaruhi kondisi anaknya secara langsung. Ia tersadar bahwa selama ini Selika menurut kepadanya hanya karena Selika takut dimarahi Mama bukan karena Selika sadar bahwa itu adalah untuk kebaikan dirinya. Kalau dimarahi Mama, Selika akan kehilangan mood baik dalam satu hari. Saat itu Mba Ranty tersadar dan bertekad untuk terus memperbaiki komunikasi yang ia bangun dengan Selika.

Saat Ini
Memperbaiki diri sesungguhnya merupakan proses seumur hidup. Selama kita hidup, maka proses perbaikan diri akan terus dan harus kita jalani. Mba Ranty terus memperbaiki diri, meski tidak gampang tapi ia terus berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalan karena kesalahan komunikasinya dengan anak semata wayangnya ini.

Dan ternyata, usaha tidak akan pernah mengkhianati orang yang berusaha. Setelah terus menerus memperbaiki diri, Mba Ranty merasakan adanya perubahan yang lebih baik terutama pada hubungannya dengan Selika. Selika menjadi anak yang selalu terbuka pada Mba Ranty, menceritakan apa yang selalu dirasakannya. Ada moment-moment kedekatan yang biasa ia lakukan bersama Selika. Misalnya saat mereka di mobil, mereka berpegangan tangan tanpa berbicara apapun sambil Selika menyandar pada bahu Mba Ranty atau Mba Ranty tiduran di atas paha Selika. Pun Mba Ranty selalu menyediakan quality time bersama Selika. Ia menyadari kesibukannya, maka kualitas kebersamaan dengan Selika adalah yang utama. Mba Ranty menyingkirkan segala hal yang dapat mendistract fokusnya pada Selika… Ia singkirkan handphone, karena tidak ada yang lebih penting daripada kedekatannya dengan Selika.  Hingga suatu saat Selika sendiri yang berkata, “My Mom is my best friend.” Di situ Mba Ranty menitikkan air matanya, atas pengalamannya bersama Selika, bagaimana kondisi mereka dulu dan saat ini.

Mba Ranty bertekad bahwa ia akan terus memperbaiki kualitas komunikasi di antaranya dengan Selika. Karena bagaimanapun, anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus senantiasa dijaga dan dididik dengan penjagaan serta pendidikan yang terbaik karena suatu saat ia akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Aamiin ya Rabbal aalaamiin…

MasyaAllah… saat mendengar cerita dari Mba Ranty kami merasa diingatkan oleh suatu pengalaman yang begitu luar biasa dan berharga… Mba Ranty tidaklah sendirian, kami semua para orang tua pasti mengalami kesalahan terhadap anak kami. Tapi… kita harus terus memperbaiki diri kita ke arah yang lebih baik lagi, Aaamiin..

Sekian notulensi dari saya atas seminar minggu lalu. Semoga bermanfaat. Sesungguhnya kebenaran sumbernya dari Allah SWT dan kesalahan murni berasal dari saya sebagai manusia yang penuh khilaf. Mohon maaf yaa :)
(Atas kiri ke kanan: Pupu, Qorry, Aci, dan Keke)
(Bawah kiri dan kanan: Mba Chita, Mba Iwed, dan Mba Ranty)

Cheers...

Tamat.

Nice Homework #8 (Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional)


Nice Homework (NHW) #8
Misi Hidup dan Produktivitas

Disusun oleh :
Qurroh Ayuniyyah
(Kuala Lumpur, Malaysia)


a.      Ambil satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7).
Berikut ini adalah kuadran yang saya buat di NHW#7. Ada enam peran yang saya kategorikan sebagai BISA dan SUKA yaitu communicator (senang berkomunikasi), creator (penemu inovasi), evaluator (yang mengevaluasi), motivator (senang memajukan orang lain), ambassador, dan synthesizer (educator, senang mempelajari hal baru dan menyampaikannya pada orang lain). Dari keenam peran tersebut, maka satu peran yang saya pilih adalah synthesizer-educator (pembelajar hal baru dan pendidik).


BISA

TIDAK BISA


SUKA
Communicator
Creator
Evaluator
Motivator
Ambassador
Synthesizer

Administrator
Designer
Operator


TIDAK SUKA
Distributor

Seller
Treasury
Producer
Commander



b.      Setelah menemukan satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :
1.      Kita ingin menjadi apa? (BE)
Berdasarkan hasil tes minggu lalu dan peran yang saya pilih, maka saya semakin yakin bahwa saya ingin merealisasikan mimpi saya sebagai DOSEN.
2.      Kita ingin melakukan apa? (DO)
Saya ingin menjadi dosen yang bukan hanya sekedar mengajar (deliver the knowledge) tapi juga mendidik (educate people) dan menulis hal-hal yang bermanfaat agar ilmu saya dapat dinikmati oleh banyak orang. Saya ingin sekali banyak orang yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari saya di dunia dan akhirat. Selain itu, saya ingin mendidik mahasiswa dengan nilai-nilai. Bahwa mengajar bukan semata-mata saya mentransfer ilmu, tapi saya pun ingin menanamkan nilai-nilai baik kepada para mahasiswa sehingga mereka dapat bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Hal lainnya yang ingin saya lakukan sebagai dosen adalah dengan menulis karya-karya ilmiah baik melalui media formal dan non-formal yang bermanfaat bagi banyak orang.
3.      Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Yang ingin saya miliki adalah ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Jika kelak saya bertemu dengan-Nya, ada manfaat yang telah saya berikan kepada orang lain saat saya hidup. Bahkan janji-Nya adalah salah satu dari tiga hal yang akan terus mengalir meski orang tersebut telah meninggal dunia adalah ilmu bermanfaat. Dan di dalam hadist Rasulullah SAW pun dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Jadi dua hal utama yang ingin saya miliki dari profesi dosen ini adalah : ilmu yang bermanfaat dan manfaat diri saya bagi orang lain.

c.      Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah :
1.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)?
Melanjutkan hal yang saya jelaskan pada poin sebelumnya bahwa yang ingin saya miliki adalah ilmu yang bermanfaat dan manfaat diri saya bagi orang lain, maka yang sebenarnya ingin saya capai adalah keridhaan-Nya. Saya meyakini bahwa kehidupan dunia yang hanya sebentar ini dibandingkan dengan kehidupan abadi di akhirat kelak harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Kehidupan di dunia ini sangat singkat, namun ia sejatinya yang menentukan apakah kelak kita akan menjadi manusia yang diridhai-Nya sehingga kita selamat di akhirat (mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki) ataukah kita malah menjadi manusia yang dimurkai-Nya sehingga kita tidak selamat di yaumil akhir (naudzubillah).
2.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)?
Saya ingin menjadi dosen di sebuah universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. Sudah ada universitas di Indonesia yang saya bidik sebagai home base university saya, dimana saya ingin mengabdikan diri saya. Tapi suami pun menginginkan agar kami memiliki pengalaman sebagai dosen di luar negeri dahulu agar kami kaya akan pengalaman dan ilmu dari banyak perspektif.
Selain itu, saya ingin menerbitkan jurnal ilmiah dan buku bersama dengan suami, ayah, kakak dan keluarga saya agar ilmu kami dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh orang lain.
3.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)?
Dalam satu tahun ke depan, saya ingin sekali bisa lulus pendidikan Ph.D. on economics yang telah saya jalani dari bulan Februari 2014 yang lalu. Selain itu, saya ingin sekali dapat menerbitkan jurnal bersama dengan suami dan ayah saya sebanyak minimal satu hingga dua buah jurnal, serta mengikuti international conference di tiga negara.

Monday, 13 March 2017

Seminar Parenting “Komunikasi Efektif untuk Generasi Gemilang” Bagian 3


Lima Pilar Komunikasi

Melihat betapa krusialnya komunikasi antara orang tua dan anak di dalam meng-install berbagai values yang dapat menjaga fitrah baik anak, maka diperlukan metode komunikasi efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Mba Iwed menjelaskan bahwa setidaknya ada lima pilar dasar komunikasi, dimana sebenarnya pilar ini tidak hanya khusus untuk komunikasi antara orang tua dengan anak, tetapi umum untuk komunikasi di antara manusia. Jadi metode ini pun dapat digunakan untuk komunikasi dengan pasangan, sahabat, dan sebagainya.

Pertama, selesaikan dulu emosinya. Ini merupakan bagian yang paling mendasar di antara pilar komunikasi lainnya. Karena, emosi dengan logika sifatnya saling bersubstitusi alias saling menghilangkan. Ibarat timbangan, jika emosi naik (semakin berat ke bawah), maka logika akan turun (semakin ringan ke atas). Demikian pula jika emosi turun, maka logika pun akan naik. Maka wajar sekali jika agama kita melarang untuk kita membuat keputusan di saat sedang marah, karena keputusan tersebut dibuat berdasarkan emosi sesaat dan abai dengan logika. Bahkan, jika keputusan itu tetap dibuat, maka kemungkinan ia akan menjadi sesuatu yang akan kita sesali di kemudian hari. Jadi, sebelum berkomunikasi, maka penting untuk meredam dahulu emosi kita, karena emosi ini menular. Jika kita marah, maka kemungkinan lawan bicara kita akan ikut marah. Inhale exhale.. Sabar… Sabar… :D

Untuk menyelesaikan emosi ini, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. Namun Mba Iwed tidak menjelaskan semuanya secara terperinci, karena adanya keterbatasan waktu. Salah satu teknik penyelesaian emosi adalah dengan cara “framing vs. reframing”. Apa itu? Framing merupakan makna pertama yang kita pilih terhadap suatu peristiwa. Misalnya nih saat kita menyetir mobil, tiba-tiba ada mobil lain menyalib mobil kita dengan kecepatan tinggi, kemudian reaksi dan pikiran kita terhadap mobil yang menyalib tersebut jika disertai emosi adalah: “Dasar nih mobil kurang ajar!” lalu dengan emosi kita kejar mobil tersebut lalu kasih sumpah serapah %$#@^&!*!@XY!!!!!! Hehehhee… Nah itulah framing awal kita jika kita marah atau yang disebut discouraging framing. Nah apakah discouraging framing ini dapat diubah? Jawabannya bisa!! Syaratnya adalah adsal kita mau memperluas cara pandang kita. Mba Okina di dalam bukunya menjelaskan bahwa reframing adalah penggantian bingkai makna menjadi makna baru. Nah balik lagi contoh di atas, reframing yang dapat kita lakukan adalah mengganti pandangan kita terhadap mobil lain yang menyalib dengan kecepatan tinggi itu menjadi “Oh… kasihan, mungkin mobil itu supirnya kebelet pingin ke toilet…” atau “Oh… kasihan, mungkin mobil itu penumpangnya ada yang sakit atau mau melahirkan sehingga harus segera ke Rumah Sakit.” Nah… kalau sudah seperti itu, kita tidak akan marah dan emosi. Artinya kita telah meluaskan makna atas suatu peristiwa ke arah yang lebih positif, yang disebut dengan “enlightening reframing”. Kita akan selalu berusaha untuk berprasangka dan berpikiran positif dalam rangka meredam dan mengendalikan emosi kita… Susah ga untuk dipraktekan? Kata Mba Iwed, teknik ini harus terus dilatih. Jika sekali tidak berhasil, maka teruslah dicoba. Konsisten tapi fleksibel alias kreatif mencari suatu cara yang sukses.

Ada pengalaman pribadi yang saya alami sendiri. Pulang dari seminar kemarin, Afifa langsung berlari ke arah saya dan minta gendong. Mungkin Afifa kangen saya karena sudah saya tinggal selama kurang lebih enam jam (termasuk perjalanan dan makan siang setelah acara). Langsung saya gendonglah ia. Tapi ternyata Afifa maunya digendong terus, saya turunkan sedikit dia langsung nangis. Nah… kemudian saya coba untuk mempraktekan teknik reframing ini. Awalnya perasaan saya adalah kesel dan capek, ya kebayang lah baru pulang harus menggendong Afifa yang hampir 14 kg itu :D Hehehehe… Tapi saya berusaha untuk meluaskan makna. Saya ubah cara pandang saya dari, “Aduh Afifa manja nih pinginnya digendong aja padahal dia udah gede dan berat…” menjadi “Alhamdulillah Afifa kangen Mamanya, dia merasa nyaman berada dekat saya. Palingan dia minta gendong-gendong gini ga akan lama lagi… Dan Alhamdulillah Allah kasih saya fisik yang sehat sehingga kuat untuk menggendong Afifa.” Saya lakukan self-talk ini kepada diri saya. Dan… Benar lho, saya langsung merasakan mood saya menjadi jauh lebih baik. Dan ketika saya menggendong Afifa, saya malah merasa semakin sayang padanya dan yang ada di hati dan pikiran saya adalah doa-doa terbaik untuk Afifa padahal awalnya adalah keluhan… :”) Masya Allah yah betapa kekuatan sebuah pikiran dan cara pandang kita akan suatu hal berdampak luar biasa kepada diri kita.

Kedua, fokus pada tujuan. Mba Iwed menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan harus memiliki tujuan, termasuk komunikasi. Karena dengan menentukan tujuan, kita akan dapat menentukan strategi dan langkah kongkrit apa untuk mencapai tujuan kita. Pun kita dapat melakukan evaluasi apakah cara tersebut sudah mendekati tujuan yang hendak dicapai, ataukah justru malah menjauhinya. Dan kesuksesan sebuah komunikasi dapat dilihat tercapai atau tidaknya tujuan dari komunikasi tersebut.

Ketiga, membangun kedekatan (rapport). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rapport merupakan koneksi dan kedekatan hati di antara pasangan komunikasi. Ini sangat menentukan keberhasilan suatu komunikasi apakah tujuan komunikasi dapat tercapai atau tidak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membangun kedekatan di antara pasangan komunikasi yaitu :
1.     Fokus pada hal baik dengan cara perbanyak memuji dan hindari mencela,
2.     Ikuti nada suara. Misalnya jika anak bersemangat, maka tanggapilah dengan semangat. Jangan malah saat anak excited menceritakan sesuatu kita malah datar dan memperlihatkan ekspresi tidak peduli.
3.     Ungkapkan emosi dengan benar. Seringkali kita meluapkan emosi atas segala kejadian dengan marah. Misalnya, anak nyaris celaka kita marahi padahal sebenarnya kita khawatir atau anak gagal ujian pun kita marahi padahal sebenarnya kita sedih. Jadi, emosi yang kita letakkan itu tidak pada tempatnya.
4.     Hadirkan diri kita sepenuhnya untuk anak kita, meski tanpa kata-kata. Singkirkan gadget atau hal-hal yang dapat men-distract perhatian kita pada saat kita membersamai anak kita. Misalnya kita menemani anak kita bermain lego tanpa banyak mengarahkan anak harus membuat apa, cukup berikan senyuman.
5.     Luangkan waktu berkualitas dengan anak dalam satu hari tanpa ada gangguan sama sekali. Misalnya Mba Iwed mencontohkan, ia selalu memiliki waktu us-time antara dirinya dengan anak pertamanya saja, dengan anak kedua-nya saja, dan dengan anak ketiga-nya saja. Tidak perlu berlama-lama, hanya sekitar 20 hingga 30 menit sehari, tapi kita benar-benar memfokuskan diri kita sepenuhnya terhadap anak kita, berdiskusi mengenai hal-hal yang anak kita rasakan dan perlukan.
6.     Menjadi pendengar yang baik dan tulus. Seringkali orang tua melakukan komunikasi satu arah saja. Banyak dari kita berpikir bahwa orang tualah yang harus didengar oleh para anak. Padahal, sejatinya komunikasi sifatnya dua arah, yang artinya siapapun kita, maka kita memiliki hak untuk didengar sekaligus kewajiban untuk mendengar. Jadilah pendengar yang baik untuk anak kita, agar tumbuh kepercayaan dari anak kita terhadap kita yang akhirnya akan menumbuhkan kedekatan hati alias rapport.
7.     Kenali indra mana yang sedang aktif digunakan. Misalnya anak bercerita akan suatu peristiwa, kita harus tau indra mana yang sedang ia ceritakan. Apakah perasaannya kah? Apakah penglihatannya kah? Atau pendengarannya kah?

Keempat, ketajaman indera. Mba Okina di dalam bukunya menjelaskan bahwa ketajaman indera diperlukan untuk menangkap gerakan tubuh, predikat yang digunakan, reaksi spontan, dan membaca tanda-tanda apakah rapport sudah terbangun atau belum.

Kelima, fleksibel di dalam bertindak. Mba Iwed menjelaskan bahwa bersikap fleksibel artinya kreatif di dalam melakukan komunikasi. Fleksibel ini bukan berarti tidak konsisten dan tidak kongruen. Fleksibel ini maksudnya jika satu cara komunikasi gagal atau tidak mencapai tujuannya, maka kita harus kreatif mencari cara lain agar komunikasi tersebut bisa sukses. Mungkin seperti pepatah yang mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma” :’)

Menanamkan Nilai dan Keyakinan

Setelah pillar komunikasi, Mba Iwed menjelaskan bahwa agar nilai dan keyakinan dapat ter-install dengan baik di dalam diri anak, ada beberapa hal yang mesti orang tua lakukan, yaitu sebagai berikut :

Pertama, jadilah teladan yang baik dulu. Artinya lakukanlah terlebih dahulu dan mulai dari diri sendiri dahulu sebelum menanamkan suatu hal kepada anak kita. Misalnya kita ingin menanamkan nilai kebersihan kepada anak kita, maka contohkan dulu dari diri kita bahwa pun menjaga dan mencintai kebersihan. Sekali lagi, “Children do. Children see.” Atau ketika ingin menerapkan disiplin, maka orang tua pun harus menjadi disiplin terlebih dahulu. Untuk menerapkan disiplin ini, harus ada kesepakatan antara orang tua dan anak. Artinya tidak ada disiplin tanpa kesepakatan. Maka penting untuk orang tua membuat aturan yang disepakati oleh anak, bahkan Mba Iwed bilang kalau bisa aturan tersebut tertulis dan ditandatangani oleh orang tua dan anak di atas materai. Hehehehe… Misalnya, saat orang tua memberikan hand phone kepada anak, maka orang tua berikan dulu apa saja aturan yang harus dipatuhi dan disepakati oleh anak.

Kedua, katakana nilai dan keyakinan tersebut secara langsung, sering, konsisten dan di banyak kejadian. Misalnya saat moment makan malam bersama, “Nak, Allah itu Maha Baik ya, Dia berikan kita lidah yang sehat jadi kita bisa merasakan lasagna buatan Mama ini enak sekali.” Atau saat di mobil sambil melihat sekeliling kita katakana, “Nak, Allah itu Maha Kuasa ya, coba lihat ada awan, matahari, dan gunung semuanya adalah ciptaan Allah.

Ketiga, gunakan metafora dan story telling. Artinya kita memberikan nasihat melalui kisah, dongeng, dan perumpamaan agar lebih mudah diterima oleh anak karena kita berbicara dengan bawah sadar anak. Misalnya Mba Iwed memberikan pengalaman pribadinya. Saat sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, anak pertama Mba Iwed mengeluh, “Aduh malas pergi sekolah ih…” Karena emosi menular, maka anak keduanya pun menanggapi, “Iya males ya, mendingan libur kaya kemarin.” Dan sukses membuat anak bungsunya berkata, “Iya aku juga ga mau sekolah hari ini.” Kalau ikutin nafsu, pinginnya Mba Iwed langsung bilang, “Kalian kok gak bersyukur sih bisa sekolah, banyak anak di luar sana yang ga bisa sekolah…” Tapi kebayang donk reaksi penolakan dari anak-anak kalau Mba Iwed langsung frontal to the point bilang hal tersebut saat itu juga.

Mba Iwed kemudian melakukan self-talk pada dirinya. “Okay, anak saya lagi merasakan malas pergi ke sekolah… Maka tugas saya untuk membuat mereka semangat lagi untuk berangkat ke sekolah…” Mba Iwed tenangkan diri dulu. Ia terapkan poin pertama dari pilar komunikasi: Selesaikan emosi, jangan terpancing untuk marah karena logika akan turun dan malah merunyamkan proses komunikasi itu. Kemudian ia beralih ke poin kedua: tentukan tujuan. Mba Iwed punya tujuan, “Saya harus bikin anak-anak semangat lagi…”

Setelah emosi selesai dan Mba Iwed sudah memiliki tujuan komunikasi, kemudian dengan tenang ia berkata pada anak-anaknya, “Nak, yuk kita bayangin… Suatu pagi kalian pakai baju yang lusuuuh sekali, lapar belum sarapan, kemudian jalan kaki sambil mengambil sampah. Kemudian kalian melihat ada anak-anak lain di seberang jalan yang pakai baju seragam yang bersih dan wangi, mau berangkat sekolah dalam keadaan kenyang karena sudah sarapan masakan Ibunya… Kira-kira gimana ya perasaan kalian?” Tanpa ba-bi-bu ketiga anak Mba Iwed langsung bubar dan berkata, “Aku mau mandi ah mau siap-siap sekolah…” Yeay mission complete: bikin anak-anak semangat sekolah. Itulah contoh metafora, mengajak anak membayangkan jika mereka berada di atas sepatu orang lain. Dan itu membuat anak-anak berpikir secara jernih di bawah sadar mereka sehingga mereka dapat menarik kesimpulan : “Betapa beruntungnya saya bisa bersekolah, sedangkan di luar sana banyak anak yang ga bisa sekolah.” Begitulah salah satu contoh komunikasi efektif yang dilakukan Mba Iwed. Bisa dicoba ya :’)

Keempat, reinforcement and gossiping.  Eits… Ini bukan sembarang nge-gosip ya. Tapi ini adalah salah satu cara agar anak dapat fokus mendengar apa yang kita bicarakan, sehingga tujuan komunikasi berhasil. Misalnya seorang Ibu ingin memuji anaknya karena telah menjaga kebersihan kamarnya, nah untuk memberikan pujian ini, sang Ibu tidak langsung mengatakan kepada anaknya, tapi malah kepada suaminya di depan anaknya, bisik-bisik tapi masih sangat jelas terdengar sang anak. “Pah, Alhamdulillah Kakak hari ini membereskan kamarnya sendiri tanpa disuruh, rumah kita jadi semakin rapi… Aku bahagia dan Allah juga pasti bahagia karena Dia menyukai kebersihan…” Anak yang mendengar orang tuanya berbisik-bisik (yang jelas ya hehehe) cenderung akan lebih fokus untuk mendengarkan dan dia akan bahagia atas pujian efektif tersebut. Ingat lagi ya tentang prinsip memuji efektif :”)

Hypnotic Language Pattern

Hypnotic Language Pattern (HLP) merupakan salah satu cara menanamkan nilai dan keyakinan dengan menggunakan bahasa yang memengaruhi hingga ke bawah sadar pasangan komunikasi. Jadi ini merupakan cara instalasi nilai dan keyakinan selain empat cara di bagian sebelumnya.  Ada beberapa contoh metode bagaimana menggunakan HLP yang efektif ini :

Pertama, energy flows where attention goes as directed by intention. Misalnya kita memotivasi anak menghadapi ujian dan pertandingan dengan membayangkan hasil yang baik. Misalnya, “Papa pingin tau, gimana ya rasanya jika Kakak bisa lulus ujian akhir ini dengan baik?” Jadi perhatian anak akan berfokus pada “lulus ujian akhir dengan baik” dan dia akan membayangkan hal tersebut.

Kedua, using choices to reach your goals. Artinya kita memberikan pilihan kepada anak agar tujuan komunikasi kita tercapai. Berikan anak pilihan dan biarkan dia yang memutuskan. Misalnya, “Adek mau mandi sekarang atau mandi 10 menit lagi?” Tujuannya jelas, kita ingin menyuruh anak mandi, jadi apapun pilihannya dia akan mandi. Kalau memilih 10 menit lagi, maka pasang stop watch dan alarm yang menandakan waktunya mandi.

Saya pun mencoba teknik ini pada Afifa kemarin. “Afifa mandi sore yuk…” Afifa jawab, “Engga mau mah…” karena dia lagi asyik bermain. Oke ga sukses, kemudian saya ubah ajakan dengan memberikan pilihan, “Afifa mau mandi sama Mama, Papa, atau Bibi?” Dia malah jawab sambil mau menangis, “Afifa engga mandi mah..” (maksudnya dia gak mau mandi). Wah pilihan aja tetap ditolak. Oke selesaikan emosi saya dulu jangan ampe terpancing untuk memaksa dia, fokus pada tujuan yaitu agar Afifa mandi sore, dan fleksibel dalam bertindak, cari cara lain. Saya pun ganti pertanyaan menjadi, “Afifa mau mandi sore sambil bawa gelas-gelasan atau piring-piringan?” Kemudian Afifa diam sebentar sambil berpikir kemudian menjawab, “Main gelas.” (maksudnya dia memilih mandi dengan membawa gelas-gelasannya). Kemudian dia sendiri ke belakang, “Mama mandi yuk…” sambil membawa gelas-gelasannya. Alhamdulillah tujuan mengajak Afifa mandi sukses tanpa ada drama :’)


Ketiga, positive alternatives. Mba Iwed menjelaskan maksudnya adalah kita tidak berasumsi bahwa pasangan komunikasi kita sudah tau dan kita pun memberikan alternatif yang mengasyikan atas suatu hal. Misalnya, kita ingin anak kita berhenti nonton TV  karena itu tidak baik bagi kesehatan mata dan ingin anak melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Jangan kita malah bilang gini, “Jangan menonton TV aja, lakukan hal lain yang bermanfaat donk…” Nah komunikasi kaya gini ga jelas. “Hal lain” apa yang dimaksud? “Lebih bermanfaat” seperti apa yang diharapkan? Kita bisa mengubah kalimat menjadi, “Udahan yuk nonton TV-nya, sekarang kita naik sepeda yuk keliling komplek sama Papa.” Kalimat ini lebih jelas: 1. Kita ingin anak kita berhenti nonton TV, 2. Kita berikan alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat dan mengasyikkan juga karena naik sepeda sama artinya dengan anak menggerakkan fisiknya. Tapi jangan sampai alternatifnya malah lebih ga asyik, misalnya, “Udahan yuk nonton TVnya, sekarang tolong sikat kamar mandi…” padahal anaknya ga suka disuruh nyikat kamar mandi. Hehehehe…

Keempat, “setelah” dan “sambil”. Kita dapat menggunakan dua kata ini sebagai cara meminta anak kita melakukan sesuatu. Misalnya, “Sayang, ‘setelah’ kamu kerjakan PR, anter Mama beli buku di toko buku yuk.” Atau “Adek, ‘sambil’ adek mengerjakan PR, mau mama buatkan cemilan apa?” Tujuannya jelas, kita ingin anak kita mengerjakan PR tanpa memerintah langsung. Ini merupakan semacam “reward”. Nah tapi Mba Iwed mengingatkan bahwa komunikasi seperti ini pun tidak harus selalu dan sering, karena khawatir anak akan melakukan sesuatu karena reward dari orang lain. Jadi, balik lagi kita harus fleksibel dalam berkomunikasi. Jangan melalukan cara yang “itu-itu aja” :D

Kelima, questioning v.s. commanding. Mba Iwed mengatakan bahwa ketika anak diberikan kesempatan untuk memutuskan dan memberikan ide, maka komunikasi akan cenderung berhasil. Dalam hal ini, kita dapat melalukan metode yang membuat seolah-olah itu ide mereka sendiri tentunya dengan memerhatikan intonasi suara kita. Misalnya kita ingin menyuruh anak kita gosok gigi. Dialog yang dapat dilakukan oleh kita (K) dan anak kita (A):
K : “Ayo siapa yang belum gosok gigi??”
A : “Saya!!”
K : “Kalau belum gosok gigi, gigi kita gimana ya?
A : “Gigi kita kotor donk bunda..”
K : “Kalau gitu kita harus gimana ya agar gigi kita bersih?”
A : “Gosok gigi bunda…” kemudian anak pun gosok gigi atas ide mereka sendiri.

Keenam, acknowledging and reorienting. Ini efektif terutama di dalam mengatasi keluh kesah pasangan komunikasi kita. Misalnya anak kesal karena nilainya jelek semua. Kita dapat menanggapinya dengan, “Iya Mama tau kamu kesal, menurut Kakak apa yang bisa dilakukan agar bisa meningkatkan nilai Kakak?”

Ketujuh, starting-increasing effect. Maksudnya adalah kita dapat memuji dengan menggunakan kata “semakin” yang bermakna anak sudah seperti itu sebelumnya dan sekarang semakin baik. Misalnya, “Wah Alhamdulillah Adek ‘semakin’ baik merapikan kamarnya.” Artinya sebelumnya sudah baik dalam merapikan kamar. Juga kita harus hati-hati menggunakan kata “mulai”. Misalnnya, “Kamu ‘mulai’ bohong sama Papa ya…” Artinya kalimat ini seolah-olah aka nada kelanjutan bohongnya.

Kedelapan, be careful with why. Mba Iwed menjelaskan bahwa dengan kita menanyakan “mengapa” atas suatu kesalahan anak, maka anak akan cenderung merasa bahwa hal tersebut kita yakini benar dan anak akan mencari-cari alasan pembenaran untuk hal tersebut. Misalnya, “Kenapa kamu terlambat bangun terus?” Kalimat ini menunjukkan bahwa adalah benar bahwa kita menganggap anak kita selalu terlambat dan mereka akan mencari-cari alasan pembenarannya. Coba diubah menjadi, Bagaimana ya caranya agar Kakak gak terlambat bangun?” Jadi anak akan lebih fokus pada solusi.

Kesembilan, briefing and role playing. Maksudnya adalah kita memberikan pengarahan sebelum anak akan melakukan sesuatu atau akan kita ajak kemana. Pengarahan ini akan menyiapkan mental anak dan anak menjadikan anak lebih tertib. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan secara berkesinambungan yaitu : “tell, show, do/role playing, ask, and evaluate”. Misalnya anak akan dibawa ke dokter untuk vaksin, maka sebelumnya kita dapat melakukan briefing dan bahkan role playing proses apa saja yang akan dilalui anak saat bertemu dokter.
“Adek, besok kita ke dokter jam 4 sore buat vaksin. Sampai di Rumah Sakit, adek nanti ketemu suster dulu, kemudian adek akan ditimbang dan diukur tingginya. Kemudian kita akan menunggu sampai suster memanggil nama kita untuk bertemu dokter. Nah… Saat ketemu dokter, adek akan diperiksa, kemudian divaksin. Mama tau adek mungkin akan merasa sakit sedikit, tapi ini baik untuk kesehatan Adek. Abis itu selesai deh…” Kemudian dilanjutkan dengan role playing semua proses tersebut.

Selesai deh sesi dengan Mba Iwed. Masya Allah ya ilmunya luar biasa sekali dan sangat bisa diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih Mba Iwed ilmunya. Semoga dapat kita praktekan :”) Kisah sharing dari Mba Ranty saya tuliskan di bagian selanjutnya yaa… Stay tuned.



Peserta tertawa saat mendengar penjelasan Mba Iwed dan Mba Ranty