Thursday, 11 May 2017

Pengalaman Pulang ke Bogor Berdua dengan Afifa

Doa adalah yang pertama dan utama.
Ikhtiar adalah usaha kita sbg manusia dalam rangka "mengundang" rahmat Allah untuk mengabulkan doa kita.


Saya mau share sedikit ya tentang pengalaman saya šŸ˜€ Kemarin adalah pengalaman pertama saya perjalanan KL-Jakarta berdua aja dengan Afifa. Biasanya setiap kami safar selalu ada temennya, entah itu Papa Afifa, Eninnya Afifa, atau kakak-kakak saya.

Tapi karena kemarin saya harus pulang mendadak, dan ternyata Papa Afifa ga bisa anter saya ke Bogor, bismillah biidznillah saya beranikan diri untuk pulang meski hanya berdua dengan Afifa. Saya yakin banyak juga pengalaman sukses teman-teman saya yang safar cuma berdua dengan anaknya yang berusia balita dengan rute yang lebih jauh seperti pengalaman sabahat saya Keke dan anaknya Aliya yang berusia di bawah satu tahun pada saat itu dari Jakarta ke Seoul, dan bahkan ada transitnya juga selama beberapa jam.

Karena pulang mendadak, jadinya saya tidak membawa bagasi, secara apa juga yang mau dibawa. Baju-baju Afifa ya pinjem aja punya AmirašŸ¤£ Pun baju saya masih ada yang ditinggalkan di rumah Bogor. InsyaAllah aman kalau masalah baju.

Tapi masalahnya adalah saya harus bawa laptop. Sebagai mahasiswa PhD yang lagi nulis disertasi, ibaratnya laptop itu adalah belahan jiwa saya yang harus saya bawa kemana-mana. Masalah ngerjain disertasi atau engga selama di Bogor ini, adalah soal kedua. Yang penting saya merasa tenang. Hehehe..

Plus saya harus bawa obat-obatan Afifa kaya obat asma dia, obat demam, dll untuk jaga-jaga yang ternyata setelah diakumulasikan bersama dengan ganti baju Afifa, susu, cemilan, dan laptop saya ga cukup untuk dimasukan ke dalam handbag atau backpack saya. Mau ga mau saya harus bawa tas koper dorong buat cabin donk. 

Yang jadi masalah juga adalah Afifa ini "anak stroller banget", which is dia akan lebih nyaman kalau bobo di stroller. Saya juga sih yang merasa nyaman dengan stroller karena kalau Afifa bobo saya ga mesti gendong-gendong. Hehe.. Nah kebayang kan dorong stroller plus dorong tas cabin. Pasti ga sesimple itu.

Tapi bismillah, saya yakinkan diri saya dan Afifa bisa. Saya harus PD biar suami tenang melepas kami berdua. Saya kemudian berdoa aja semoga Allah nolong dan jaga kami agar selamat sampai tujuan, tanpa kurang sesuatu apapun juga. Saya meyakinkan diri ada Allah SWT yang menjaga hambaNya. InsyaAllah..

Dan ternyata bantuan-bantuan Allah SWT sangat nyata adanya, lewat orang-orang yang berbaik hati menolong kami.

Titik kritis pertama adalah saat naik train di KLIA setelah imigrasi menuju gate pesawat. Saat naik kereta tersebut, saya harus "mengangkat" stroller Afifa. Alhamdulillah tiba-tiba ada seorang Bapak baik yang juga orang Indonesia bantuin saya. "Sini bu, biar saya bantu.."  dan Alhamdulillah selama di train tersebut pun Sang Bapak bantu nahan stroller Afifa yang mesti rodanya udah dikunci, masih suka ngegeser ke sana sini karena goncangan keretašŸ¤£ Si Bapak ini juga bantuin saya menggotong stroller Afifa saat turun. Bahkan mau anterin saya sampai gate pesawat. Cuma saya tolak karena selain kami beda gate, saya juga bisa sendiri. Terima kasih Pak atas bantuannya. Semoga Allah yang balas kebaikan Bapak dan keluarga.

Titik kritis yang kedua adalah saat masuk pesawat. Saya gendong Afifa sambil dorong tas di aisle pesawat nan sempit itušŸ¤£ Dan alhamdulillah pramugari dengan sigap membantu saya membawakan tas cabin. Pun saat akan dinaikan ke atas, seorang Bapak baik hati pun membantu saya. Alhamdulillah.. terima kasih ya Pak :")

Titik kritis yang ketiga adalah selama di pesawat. I cannot expect Afifa would stay still at her seat for the two hours unless she sleeps. Namanya anak-anak, kalau sehat pasti akan aktif atau melakukan sesuatu yang membuat dia bisa fokus. Saya persiapkan buku, alat tulis (Afifa emang lagi suka nulis), dan cemilan-cemilan kesukaan dia. Tapi tentunya saya lebih berharap Afifa tidur aja. Saya berdoa, "Ya Allah sehatkan Afifa lahir batin, mohon juga berikan rasa kantuk baginya saat take off hingga landing."

Makanya saat sebelum di boarding room dan saat di boarding room saya biarkan Afifa berlarian ke sana sini, main apapun yang aman, dengan harapan energinya terkuras sebelum masuk pesawat. Dan ternyata benar.. sebelum take off, afifa masih aktif di pesawat, nulis-nulis di kertas, berdiri-berdiri di kursi, dll. Tapiii sekitar 5 menit sebelum take off, tiba-tiba dia minta dipeluk dan ternyata Afifa tertidur.. and guess what? She slept until the plane landed. Bahkan sebenarnya dia akan terus tidur kalau engga saya bangunkan untuk turun pesawat. Jadi selama di pesawat semua begitu aman terkendali.. Alhamdulillah :") 

Titik kritis yang keempat saat menuju imigrasi. Ada eskalator untuk turunnya. Dan alhamdulillah ada petugas Malindo Air yang sigap membantu saya membawakan tas saya. "Biar saya bawakan bu tasnya dan saya antar ke bawah." Hiks alhamdulillah terima kasih Mba.. :")

Dan saat saya landing, Mang Predi sudah siap menjemput saya. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?

Begitu banyaaak sekali bantuan-bantuan dari manusia baik hati yang bersedia untuk membantu saya. Kalau bukan Allah yang meniupkan kebaikan dalam hati mereka, mungkin mereka ga akan tergerak untuk menolong saya. Terima kasih ya Allah.. :") semoga Allah membalas kebaikan orang-orang baik tersebut dengan balasan kebaikan yang tidak terhingga. Aamiin..

Ada beberapa hikmah yang mungkin bisa diambil dari pengalaman saya ini:

Pertama, berdoa adalah hal yang utama dan pertama. Ga ada penolong yang hakiki selain Allah SWT. Manusia adalah perantara bantuan Allah kepada kita. Tapi sejatinya itu berasal dari Allah. Siapa yang menggerakan hati-hati manusia agar menolong orang lain? :")

Kedua, persiapan itu amat penting. Jadi sebelum perjalan, saya dan suami mengkomunikasikan tentang perjalanan ini kepada Afifa. Intinya agar Afifa juga "siap mental" bahwa ia akan melakukan perjalanan berdua dengan Mamanya. "Afifa yang pinter ya sama Mama. Denger apa kata Mama. Kalau ngantuk bobo aja ya.." begitu nasihat pamungkas Papa Afifa sebelum saya masuk ke imigrasi. Dan briefing ini sesungguhnya sangat berefek positif bagi anak. Yang ideal sebenarnya sih dilakukan juga dengan role playing. Tapi karena waktunya tidak memungkinkan (tiket dibeli jam 10 malem, dan saya take off jam 7.30 pagi), jadi kami hanya briefing secara verbal saja.

Selain briefing, persiapan lain juga adalah membawa peralatan aktivitas yang akan membuat anak kita nyaman. Dalam kasus saya, saya membawakan alat tulis, buku cerita, dan cemilan yang bisa bikin Afifa anteng.

Ketiga, PD dan positive thinking. Yakinkan diri sendiri bahwa kita bisa. Dzikir terus, baca shalawat terus. InsyaAllah, Allah akan menolong kita.

Keempat, tentu saja kita harus bersyukur pula kepada manusia. Kepada orang-orang yang telah menolong kita, kita ucapkan terima kasih atas ketulusan mereka. Doakan kebaikan bagi mereka.. Saya yakin balasan yang dapat kita berikan kepada mereka yang paling simple tapi sangat kuat adalah dengan doa kebaikan bagi mereka.

Sip sekian share saya kali ini. Tulisan ini dibuat di perjalanan Bogor ke Jakarta untuk menemani Ibu saya check up mata di Jakarta Eye Center, Menteng. Doakan agar Ibu saya segera pulih pasca operasi katarak mata ya :")

Monday, 3 April 2017

Ini tentang Rasa, Rasaku pada Kelas Matrikulasi IIP :")



"Qorry.. apa sih manfaatnya ikutan kelas Matrikulasi IIP?"

Pertanyaan itu yg terlontar dari salah satu sahabat mahmud saya saat saya berusaha menularkan "virus IIP" kepada komunitas mahmud yang saya ikuti..

Ini jawaban saya:

"Yang gw rasain dari matrikulasi IIP ini:  Pertama, Dapet ilmu udah pasti. Dan ilmu yg didapet bertahap dan ada kurikulumnya. Kebayang kan di zaman sekarang kita ada 'badai' alias 'tsunami' informasi terutama tentang parenting, keluarga, anak dll. Informasi tsb bisa bikin kita semakin baik atau bahkan malah kontraproduktif. Pernah ga ngerasain 'Duh gw oon banget sih sebagai ibu? Dibanding ibu lain apalah gw?' Hal ini karena kebanyakan informasi dari luar sana yang kita lahap sedemikian rupa, tanpa tau mana prioritas ilmu yang mesti didahulukan. Nah di IIP kita akan di-guide secara step by step gimana mengoptimalkan peran kita sebagai manusia (bagian dari masyarakat) secara umum serta sebagai istri dan ibu secara khusus. Sehingga bukannya kita malah jadi insecure atau jiper terhadap kondisi kita, tapi kita malah lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.  Inilah yang diberikan IIP secara bertahap, ga sekaligus. Makanya kenapa matrikulasi IIP ampe 9 minggu.

Kedua, kita bergabung dengan komunitas yang punya visi sama: memperbaiki diri kita agar menjadi lebih baik lagi di dalam menjalani peran kita sebagai ibu, istri, dan sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Fungsi komunitas ini luar biasa positif, karena membuat kita merasa "ada penyemangat dan motivator" agar kita berada pada track yang bener. Kerasa kan saat kita gabung di group WA *sensor* ilmu kita ttg anak tuh terup-grade banget dan bantu kita bgt dalam menjaga serta merawat anak-anak kita?

Ketiga, kita berkesempatan "bertemu" langsung dengan orang-orang hebat di balik IIP ini. Foundernya, pengurusnya, dan para fasilitator yang ilmunya luar biasa. Belum lagi kita memperluas silaturahim dengan para wanita hebat, temen sekelas kita dari berbagai latar belakang yang bisa memperluas ilmu dan persaudaraan kita. InsyaAllah.

Itu ya yang menurut gw paling gw rasain setelah melewati kelas Matrikulasi IIP ini.."

Ya itulah rasa yang saya rasakan terhadap Kelas Matrikulasi IIP ini. Saya bahagia dan bersyukur kepada Allah SWT karena digerakkan hati ini untuk gabung komunitas ini :")




Wednesday, 22 March 2017

Nice Homework 9 (Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional)


Nice Homework (NHW) #9
Bunda sebagai Agen Perubahan

Disusun oleh :
Qurroh Ayuniyyah
(Kuala Lumpur, Malaysia)

Gak kerasa ya kita sudah memasuki minggu ke-9 alias minggu terakhir di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Ada perasaan bahagia karena mendapatkan ilmu yang luar biasa dari para fasil dan guru di IIP, serta dapat bersilaturahim dengan para Bunda luar biasa keren yang tinggal di berbagai negara baik itu ASEAN, Non-ASEAN, maupun Indonesia Timur... Saya belajar banyak dari mereka. Alhamdulillah atas kesempatan ini ya Allah :')

Sejujurnya selama kurang lebih dua bulan fokus di dalam dunia parenting, ketertarikan terhadap dunia ini menjadi lebih besar dibandingkan dengan bidang lainnya. Namun, setelah saya pertimbangkan saya tetap akan fokus terhadap bidang ekonomi syariah yang telah saya pelajari kurang lebih selama enam tahun terakhir ini.

Selama ini, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sudah cukup baik, namun jika melihat potensi sumber daya manusia yang ada, realisasi dari penerapan ekonomi syariah secara umum masih cukup stagnan. Di antara faktor penyebab ada minimnya pertumbungan dan perkembangan ekonomi syariah ini adalah kurangnya pengetahuan (awareness) masyarakat terhadap ekonomi syariah, sehingga dominasi sistem ekonomi konvensional masih begitu merajalela di dalam sistem perekonomian Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Dengan memiliki hobi mengajar dan membaca ditambah saya merasa bahwa skill yang saya miliki adalah mengajar dan menulis, maka ide sosial yang ingin saya kembangkan adalah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait ekonomi syariah ini baik melalui lisan seperti seminar-seminar atau kegiatan kreatif lainnya maupun secara tulisan baik formal maupun nonformal. Ini dapat diawali dari siswa dan mahasiswa, karena mereka adalah salah satu pengemban amanah sebagai agent of change di dalam dunia pendidikan. Tentu saja, ke depannya target yang lebih besar adalah masyarakat secara umum. Berikut ini adalah Tabel yang merangkum ide sosial saya.  

Minat, Hobi, Ketertarikan
Skill (Hard and Soft)
Isu Sosial
Masyarakat
Ide Sosial
Mengajar, Membaca,
Isu-isu berkaitan Ekonomi Syariah
Mengajar, Menulis, Komunikasi,
Percaya Diri
1.      Kurangnya pengetahuan masyarakat akan ekonomi syariah.
2.      Dominasi sistem ekonomi konvensional selama berabad-abad.
Siswa
Mahasiswa
Masyarakat secara umum

Edukasi dan Sosialisasi  kepada masyarakat terkait Ekonomi Syariah melalui lisan maupun tulisan

Friday, 17 March 2017

Seminar Parenting “Komunikasi Efektif untuk Generasi Gemilang” Bagian 4 (Tamat)


Alhamdulillah kita sudah sampai kepada bagian terakhir dari seri seminar parenting yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 11 Maret 2017 yang lalu. Sesi terakhir dari seminar ini adalah sharing pengalaman pribadi oleh Mba Iranty Purnamasari alias Mba Ranty. Saat pertama kali beliau datang, saya langsung berbisik dalam hati, “Ih itu si Emak yang suka bilang, ‘Oh… seperti itu.’ di sinetron Ojeg Pengkolan…” Hehehhee… Saya sungguh bersyukur pada hari itu kami berkesempatan tidak hanya mendapatkan materi dari para certified trainer yaitu Mba Chita dan Mba Iwed, tapi juga mendapatkan ilmu dari pengalaman pribadi seorang public figure yang tentunya dapat kita ambil ibroh alias hikmahnya. Baik kita mulai ya :’)

Sekilas tentang Mba Ranty
Di awal sharingnya, Mba Ranty memperkenalkan diri sebagai Ibu dari seorang remaja putri berusia 16 tahun yang bernama Selika. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama Mba Ranty diberikan amanah oleh Allah SWT. Tiga bulan setelah pernikahan, Mba Ranty pun hamil Selika. Saat mengetahui kehamilannya, Mba Ranty langsung menghentikan segala kegiatannya dan hanya ingin berfokus pada kehamilannya. Bahkan maternity leave (cuti melahirkan) yang ia jalani pun di-extend hingga dua tahun lamanya demi menyusui sang buah hati. MasyaAllah ya, betapa saya sangat salut saat Mba Ranty bercerita bahwa dia vakum dari segala kegiatan hanya untuk fokus pada kondisi kehamilannya dan menyusui Selika. Barakallah Mba Ranty… :’) Mba Ranty pun melanjutkan kegiatannya saat Selika sudah disapih.
Mba Ranty


Tapi…
Karena Mba Ranty merasa bahwa bonding yang terbangun antara dirinya dengan Selika amat kuat karena selama tiga tahun fokusnya hanya untuk Selika, Mba Ranty merasa bahwa dia-lah yang mengetahui yang terbaik untuk anaknya. Di sebagian hal memang benar, namun  di sebagian yang lain Mba Ranty menyadari bahwa itulah kesalahannya di dalam mendidik Selika. Misalnya, saat Selika kecil Mba Ranty sudah menyiapkan makan sesuai dengan porsi yang Mba Ranty pikir adalah yang terbaik untuk Selika. Saat Selika bilang kenyang tapi makanan belum habis, maka Mba Ranty akan tetap memaksa Selika untuk menghabiskannya. Padahal mungkin respon tubuh Selika sudah berkata kenyang, tapi tetap dipaksa untuk menghabiskan makanannya. Suami Mba Ranty sudah mengingatkan, daripada Selika memuntahkan apa yang sudah dimakannya, lebih baik sudahi saja makannya. Tapi Mba Ranty berpikir bahwa apa yang sudah disiapkan, maka itulah yang mesti dihabiskan. Dan… ternyata benar, di suapan terakhir, Selika memuntahkan semua makanannya. Belum cukup sampai di situ, bukannya Mba Ranty menyudahi makan Selika, tapi Mba Ranty malah menyiapkan makanan lagi untuk Selika karena ia berpikir makanan di perut Selika sudah dimuntahkan sehingga perutnya kosong… Begitu sering terjadi dahulu… Mba Ranty amat menyesal jika harus mengingat kejadian itu…

Kesalahan Komunikasi
Mba Ranty menyadari bahwa salah satu kesalahan komunikasi yang terjadi antara dirinya dengan Selika adalah adanya komunikasi yang sifatnya satu arah. Bahwa di dalam benak Mba Ranty saat itu, anak harus menurut apapun yang diperintahkan oleh Ibunya karena Ibu-lah yang mengetahui yang terbaik bagi anaknya.  Mba Ranty selalu mencukupi apa pun yang Selika butuhkan (menurut perspektif Mba Ranty), sehingga ia menjadi merasa superior atas Selika. Jika Selika menunjukkan sikap tidak suka, maka Mba Ranty akan langsung menegur Selika. Bahkan Mba Ranty pernah bilang, “Jika kamu tolak pinggang, maka saya bisa tolak kepala…” dengan suara naik beberapa oktaf.

Children see. Children do.
Mba Ranty pun bercerita bahwa apa yang anak lihat, maka itulah yang akan dia lakukan. Beberapa sikap yang kurang baik yang pernah Mba Ranty lakukan di depan Selika, ternyata dicontoh pula oleh Selika. Misalnya sikap memarahi asisten rumah tangga. Awalnya Mba Ranty amazed dan berpikir, “Ih lucu ya Selika kaya mini-me…” Tapi lama kelamaan dia berpikir bahwa Selika mencontoh hal-hal yang kurang baik dari dirinya, pasti ada sesuatu yang salah.

Titik Balik
Sampai suatu saat Mba Ranty menyadari bahwa ada perubahan di dalam diri Selika, dari pribadi Selika yang ceria menjadi pribadi yang tertutup. Setiap ditanya, jawaban Selika selalu oke, she is fine, nothing is wrong. Tapi feeling Mba Ranty sebagai seorang Ibu mengatakan bahwa sepertinya ada yang salah.

Kesedihan Mba Ranty memuncak saat ia mendapati Selika telpon-telponan dengan orang lain, mencurahkan segala isi hatinya terutama kegundahan di dalam hatinya. Ternyata yang Selika telpon adalah gurunya. Saat itu Mba Ranty sedih, mengapa saat Selika perlu cerita, Selika malah mencurahkan segalanya pada orang lain, bukan pada dirinya sebagai ibunya. Mba Ranty sedih, bukan karena apa-apa, tapi dia menyadari bahwa belum terbangun kenyamanan dan kepercayaan Selika terhadap dirinya.

Mengikuti Pelatihan Enlightening Parenting
Suatu saat di tahun 2015, Mba Ranty diminta oleh sahabatnya yang bernama Mba Arie untuk membacakan narasi di acara launching buku “The Secret of Enlightening Parenting”. Saat itu pertama kalinya ia terpapar akan informasi dan ilmu tentang ilmu parenting yang dibawakan oleh Mba Okina. Sejak saat itu ia sering berdiskusi dengan Mba Arie mengenai parenting dan segala yang berkaitan dengannya. Mba Arie pun menyarankan Mba Ranty untuk mengikuti pelatihan selama dua hari bersama Mba Okina Fitriani. Dengan niat untuk terus memperbaiki diri sebagai seorang Ibu, maka diikutinyalah seminar tersebut. Pada saat itu, Mba Ranty benar-benar tersadarkan akan kesalahan-kesalahan komunikasinya dengan Selika selama ini. Ia segera tau mengapa Selika menjadi pribadi yang amat tertutup terhadap dirinya. Kata Mba Ranty, “Saat saya mengikuti pelatihan, saya ibarat ditampar bolak-balik..” sambil menirukan gaya orang menampar. Hehehe… You are not alone Mba Ranty… Saya juga di seminar kemarin merasa ditampar ko… Hehehehhe :D

Mba Ranty mendapatkan banyak pencerahan setelah mengikuti seminar tersebut. Ia langsung berbenah diri, apa yang bisa diperbaiki akan ia perbaiki seoptimal yang ia bisa. Maka Mba Ranty mulai sharing dari hati ke hati dengan Selika, terutama mengenai apa yang Selika rasakan… Kemudian Selika berkata, “Jika Mama marah, itu akan merusak satu hari saya…” Ternyata apa yang Mba Ranty lakukan akan memengaruhi kondisi anaknya secara langsung. Ia tersadar bahwa selama ini Selika menurut kepadanya hanya karena Selika takut dimarahi Mama bukan karena Selika sadar bahwa itu adalah untuk kebaikan dirinya. Kalau dimarahi Mama, Selika akan kehilangan mood baik dalam satu hari. Saat itu Mba Ranty tersadar dan bertekad untuk terus memperbaiki komunikasi yang ia bangun dengan Selika.

Saat Ini
Memperbaiki diri sesungguhnya merupakan proses seumur hidup. Selama kita hidup, maka proses perbaikan diri akan terus dan harus kita jalani. Mba Ranty terus memperbaiki diri, meski tidak gampang tapi ia terus berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalan karena kesalahan komunikasinya dengan anak semata wayangnya ini.

Dan ternyata, usaha tidak akan pernah mengkhianati orang yang berusaha. Setelah terus menerus memperbaiki diri, Mba Ranty merasakan adanya perubahan yang lebih baik terutama pada hubungannya dengan Selika. Selika menjadi anak yang selalu terbuka pada Mba Ranty, menceritakan apa yang selalu dirasakannya. Ada moment-moment kedekatan yang biasa ia lakukan bersama Selika. Misalnya saat mereka di mobil, mereka berpegangan tangan tanpa berbicara apapun sambil Selika menyandar pada bahu Mba Ranty atau Mba Ranty tiduran di atas paha Selika. Pun Mba Ranty selalu menyediakan quality time bersama Selika. Ia menyadari kesibukannya, maka kualitas kebersamaan dengan Selika adalah yang utama. Mba Ranty menyingkirkan segala hal yang dapat mendistract fokusnya pada Selika… Ia singkirkan handphone, karena tidak ada yang lebih penting daripada kedekatannya dengan Selika.  Hingga suatu saat Selika sendiri yang berkata, “My Mom is my best friend.” Di situ Mba Ranty menitikkan air matanya, atas pengalamannya bersama Selika, bagaimana kondisi mereka dulu dan saat ini.

Mba Ranty bertekad bahwa ia akan terus memperbaiki kualitas komunikasi di antaranya dengan Selika. Karena bagaimanapun, anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus senantiasa dijaga dan dididik dengan penjagaan serta pendidikan yang terbaik karena suatu saat ia akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Aamiin ya Rabbal aalaamiin…

MasyaAllah… saat mendengar cerita dari Mba Ranty kami merasa diingatkan oleh suatu pengalaman yang begitu luar biasa dan berharga… Mba Ranty tidaklah sendirian, kami semua para orang tua pasti mengalami kesalahan terhadap anak kami. Tapi… kita harus terus memperbaiki diri kita ke arah yang lebih baik lagi, Aaamiin..

Sekian notulensi dari saya atas seminar minggu lalu. Semoga bermanfaat. Sesungguhnya kebenaran sumbernya dari Allah SWT dan kesalahan murni berasal dari saya sebagai manusia yang penuh khilaf. Mohon maaf yaa :)
(Atas kiri ke kanan: Pupu, Qorry, Aci, dan Keke)
(Bawah kiri dan kanan: Mba Chita, Mba Iwed, dan Mba Ranty)

Cheers...

Tamat.

Nice Homework #8 (Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional)


Nice Homework (NHW) #8
Misi Hidup dan Produktivitas

Disusun oleh :
Qurroh Ayuniyyah
(Kuala Lumpur, Malaysia)


a.      Ambil satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7).
Berikut ini adalah kuadran yang saya buat di NHW#7. Ada enam peran yang saya kategorikan sebagai BISA dan SUKA yaitu communicator (senang berkomunikasi), creator (penemu inovasi), evaluator (yang mengevaluasi), motivator (senang memajukan orang lain), ambassador, dan synthesizer (educator, senang mempelajari hal baru dan menyampaikannya pada orang lain). Dari keenam peran tersebut, maka satu peran yang saya pilih adalah synthesizer-educator (pembelajar hal baru dan pendidik).


BISA

TIDAK BISA


SUKA
Communicator
Creator
Evaluator
Motivator
Ambassador
Synthesizer

Administrator
Designer
Operator


TIDAK SUKA
Distributor

Seller
Treasury
Producer
Commander



b.      Setelah menemukan satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :
1.      Kita ingin menjadi apa? (BE)
Berdasarkan hasil tes minggu lalu dan peran yang saya pilih, maka saya semakin yakin bahwa saya ingin merealisasikan mimpi saya sebagai DOSEN.
2.      Kita ingin melakukan apa? (DO)
Saya ingin menjadi dosen yang bukan hanya sekedar mengajar (deliver the knowledge) tapi juga mendidik (educate people) dan menulis hal-hal yang bermanfaat agar ilmu saya dapat dinikmati oleh banyak orang. Saya ingin sekali banyak orang yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari saya di dunia dan akhirat. Selain itu, saya ingin mendidik mahasiswa dengan nilai-nilai. Bahwa mengajar bukan semata-mata saya mentransfer ilmu, tapi saya pun ingin menanamkan nilai-nilai baik kepada para mahasiswa sehingga mereka dapat bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Hal lainnya yang ingin saya lakukan sebagai dosen adalah dengan menulis karya-karya ilmiah baik melalui media formal dan non-formal yang bermanfaat bagi banyak orang.
3.      Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Yang ingin saya miliki adalah ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Jika kelak saya bertemu dengan-Nya, ada manfaat yang telah saya berikan kepada orang lain saat saya hidup. Bahkan janji-Nya adalah salah satu dari tiga hal yang akan terus mengalir meski orang tersebut telah meninggal dunia adalah ilmu bermanfaat. Dan di dalam hadist Rasulullah SAW pun dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Jadi dua hal utama yang ingin saya miliki dari profesi dosen ini adalah : ilmu yang bermanfaat dan manfaat diri saya bagi orang lain.

c.      Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah :
1.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)?
Melanjutkan hal yang saya jelaskan pada poin sebelumnya bahwa yang ingin saya miliki adalah ilmu yang bermanfaat dan manfaat diri saya bagi orang lain, maka yang sebenarnya ingin saya capai adalah keridhaan-Nya. Saya meyakini bahwa kehidupan dunia yang hanya sebentar ini dibandingkan dengan kehidupan abadi di akhirat kelak harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Kehidupan di dunia ini sangat singkat, namun ia sejatinya yang menentukan apakah kelak kita akan menjadi manusia yang diridhai-Nya sehingga kita selamat di akhirat (mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki) ataukah kita malah menjadi manusia yang dimurkai-Nya sehingga kita tidak selamat di yaumil akhir (naudzubillah).
2.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)?
Saya ingin menjadi dosen di sebuah universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. Sudah ada universitas di Indonesia yang saya bidik sebagai home base university saya, dimana saya ingin mengabdikan diri saya. Tapi suami pun menginginkan agar kami memiliki pengalaman sebagai dosen di luar negeri dahulu agar kami kaya akan pengalaman dan ilmu dari banyak perspektif.
Selain itu, saya ingin menerbitkan jurnal ilmiah dan buku bersama dengan suami, ayah, kakak dan keluarga saya agar ilmu kami dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh orang lain.
3.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)?
Dalam satu tahun ke depan, saya ingin sekali bisa lulus pendidikan Ph.D. on economics yang telah saya jalani dari bulan Februari 2014 yang lalu. Selain itu, saya ingin sekali dapat menerbitkan jurnal bersama dengan suami dan ayah saya sebanyak minimal satu hingga dua buah jurnal, serta mengikuti international conference di tiga negara.