Sunday, 10 June 2018

Tafsir QS Saba Ayat 23

Pengajian Al-Hijri Air Mancur Bogor
Ahad, 10 Juni 2018

Tafsir QS Saba ayat 23 oleh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Ayat ini menceritakan bahwa ada anggapan bahwa dari orang kafir dan orang yang belum mendapatkan hidayah bahwa kehidupan dunia akan sama dengan kehidupan akhirat.

Misalnya ketika di dunia kita punya posisi, maka di akhirat kita punya posisi juga. Atau misalnya di dunia kita dekat dengan keluarga kita, maka di akhirat kita juga akan dekat dengan keluarga kita.

Ini merupakan anggapan yang salah. Karena sesungguhnya Hari Akhir atau Hari Kiamat akan berbeda dengan kehidupan di dunia ini meski antara kehidupan di dunia dan hari akhir merupakan satu kesatuan.

 Adapun perbedaan tersebut adalah:

1. Jika kita ingin dekat dengan keluarga di dunia, justru kita nanti di Hari Kiamat kita akan lari dari masing-masing keluarga kecuali keluarga yang beriman dan beramal soleh. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam QS Abasa ayat 33-37. 

Juga di dalam QS. An najm ayat 38-41 dikatakan bahwa seseorang tidak akan mau menanggung dosa orang lain. Semua orang akan dibalas secara sempurna atas apa yang diusahakannya selama di dunia.
Artinya pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT masalah individu.

Kelak di Hari Kiamat, syafaat atau pertolongan dari manapun tidak ada. Kecuali beberapa hal:

Pertama, Bacaan Al-Quran. Ternyata Al-Quran yang kita baca, tadaburi, hafalkan dan amalkan isinya akan menambah keselamatan dan pahala di sisi Allah kepada kita. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,
“Iqraul Qur’an fainnahu syafii’un li ashabihi yaumal qiyamah (Bacalah Al-Quran karena ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya di hari Kiamat).” (HR. Muslim)

Kedua, “syaafatul uzma” atau syafaat paling dahsyat yaitu Rasulullah SAW. Di antara manusia dari Nabi Adam as hingga manusia terakhir, hanya Rasulullah SAW yang mempunyai syafaat ini.

Kelak di padang mahsyar orang akan dikumpulkan berdasarkan Nabinya dalam keadaan matahari berada hanya sejengkal dr kepala kita saja. Dalam kondisi tersebut, semua orang akan meminta kepada nabinya masing-masing untuk memberikan syafaatnya kepada mereka. Tapi para Nabi dan Rasul tersebut tidak bisa. Para Nabi dan Rasul ini akan datang kepada Rasulullah SAW agar mereka dan pengikutnya untuk diberi syafaat.
Jadi Rasulullah SAW adalah orang yang memiliki “maqama mahmuda” atau tempat terbaik dari Allah SWT khusus untuk Rasulullah SAW.

Ketiga, akan ada  tujuh kelompok yang akan mendapat naungan dari Allah SWT di hari akhir kelak yaitu sebagai berikut:
A. Pemimpin yang adil, jujur dan amanah.
B. Pemuda yang besar ibadahnya kepada Allah SWT.
C. Dua kelompok orang yang saling mencintai dan membela karena Allah SWT. Mereka bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah.
D. Orang yang selalu hatinya terkait dan terpaut dengan masjid. Dimanapun ia berada, ia akan selalu menjadi golongan yang memakmurkan masjid.
E. Orang yang selalu berinfaq.
F. Seorang lelaki yang memiliki posisi, jabatan, kedudukan dan harta kemudian ia diajak zina oleh wanita cantik dalam kondisi tidak ada yang mengetahui, tapi ia tidak mau karena takut pada Allah.
G. Orang yang bangun malam, memohon ampun kepada Allah SWT sehingga air matanya bercucuran.

Semoga kita semua menjadi manusia yang mendapatkan syafaat dari Allah SWT di Hari Kiamat kelak. Aamiin..

Dirangkum oleh Qurroh Ayuniyyah

Jika ingin menyalurkan wakaf untuk masjid Al-Hijri 2 Bogor (Jl. KH. Soleh Iskandar KM2 Kampus Ibn Khaldun), dapat disalurkan melalui:

Panitia Pembangunan Masjid Raya Al-Hijri 2 UIKA Bogor
BRI Syariah nomor rekening 
1003040158

Saturday, 2 June 2018

Aliran Rasa Level 11

Aliran Rasa Level 11

Sejujurnya mengerjakan level 11 ini benar-benar penuh perjuangan. Selain karena ada tugas tambahan berupa presentasi, setoran T10 pun memaksa kita untuk banyak membaca. Di tengah kejaran deadline disertasi, plus target tilawah Ramadhan, melakukan ini semua amatlah berat.

Awalnya saya ingin rapel saja, tapi kalau ingat tentang komitmen dan perjuangan bunda lain yang lebih berat dari saya, langsung saya urungkan niat tersebut.

Selama setoran sebanyak 15 posts, sebanyak dua kali saya menyetor hanya 1 paragraf saja. Hal ini dikarenakan dua hari tersebut bertetapatan dengan loading kerja disertasi yang sangat menyita perhatian saya. Sehingga untuk membaca sumber baru tentang fitrah seksualitas anak, sangat berat.. 

Tapi alhamdulillah.. saya berhasil juga untuk melewati level 11 ini dengan cukup baik: tanpa rapel selama 15 hari, meski level-level sebelumnya hingga 17 hari. 

Dua postingan yang paling saya sukai adalah terkait kunjungan saya ke rumah ka Wina Risman dan berdiskusi dengannya, juga postingan terkait Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) sebuah rangkuman kecil dari buku karya Sa’id Hawwa (terjemahan bahasa Indonesia). Di situ saya benar-benar mencurahkan pikiran dan energi saya untuk membuat tulisan sampai-sampai saya pending mengerjakan yang lainnya (disertasi)😅 Dan alhamdulillah tulisan favorit pertama saya mendapatkan apresiasi dari Bunes sebagai “The Most Inspiring Post of the Day”. Jazakillah khairan katsiran :)

Itu terkait T10, terkait tugas presentasi, saya berikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua kelompok yang telah mengerjakan tugasnya dengan amat maksimal. I know how hard it was to manage such presentation while doing job as a mom :”) Really proud of all mommies in the class!!

Dan supernya adalah semua kelompok dapat membuat media edukasi yang sangat kreatif. Saya super salut.. mulai dari busy book, game-game, lagu-lagu, komik hingga video.. Barakallah untuk kita semua. Semoga media edukasi yang telah kita buat bermanfaat bagi sesama. Aamiin.. insyaAllah..

#Level11
#AliranRasa
#FitrahSeksualitasAnak
#LearningByTeaching

Wednesday, 30 May 2018

“Tazkiyyatun Nafs” : Review 15

Dalam diskusi di kelas Bunsay Gabungan 2 beberapa hari lalu, ada seorang Bunda yang mengatakan tentang urgensi memahami fitrah diri sendiri sebelum memahami fitrah anak.

Selama ini fokus pembahasan adalah bagaimana kita membangkitkan, merawat, memelihara, dan menjaga fitrah anak. Selalu pusat atensi kita adalah anak-anak dan anak.. padahal sesungguhnya fitrah diri kita sendiri pun amat penting. 

Bagaimana kita ingin benar-benar mengurusi fitrah anak kita secara benar, jika fitrah diri kita sendiri saja belum tentu benar? Maka dari itu dalam rangka memahami fitrah diri ini, saya membaca buku Sa’id Hawwa yang berjudul “Tazkiyyatun Nafs” (Pensucian Jiwa). Kebetulan buku ini menjadi salah satu target buku yang ingin saya selesaikan untuk dibaca selama Bulan Ramadhan ini.

Mungkin saya tidak akan mengulas secara keseluruhan dari isi buku ini, karena buku ini terdiri dari 4 bagian yaitu terkait adab guru dan murid, ibadah dan amal perbuatan, hakikat tazkiyyatun nafs, serta mengendalikan lisan dan adab berbagai hubungan.

Buku ini merupakan intisari dari kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Pada zamannya, Imam al-Ghazali menghadapi situasi dimana kemiskinan spiritual dialami oleh para muslimin dan muslimat. Sehingga pada zaman tersebut umat Islam banyak mengalami kemunduran di dalam berbagai bidang kehidupan.

Saya hanya akan merangkum beberapa poin penting di bagian mukadimah. Semoga dengan rangkuman super singkat ini, kita bisa memahami fitrah diri kita sehingga kita dapat secara benar menjaga fitrah anak dan keluarga kita insyaAllah.

Kenapa buku ini dipilih? Saya ingat di dalam buku Dr. Ary Ginanjar (ESQ 165) dikatakan bahwa di dalam diri setiap manusia ada satu titik fitrah yang selalu ingin menuju kepada Tuhan Sang Penciptanya. Maka saya berpikir bahwa jika titik fitrah ini benar, maka fitrah-fitrah yang lain insyaAllah akan terbawa benar juga. Karena landasan fitrahnya dikuatkan dulu.

Buku Tazkiyyatun Nafs karya Sa’id Hawwa dibuka dengan meng-highlight beberapa ayat di dalam Al-Quran yang menggambarkan pentingnya ikhtiar di dalam tazkiyyatun nafs. Misalnya pada tiga ayat berikut ini.

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikankamu dan mengajarkan al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa
 yang belum kamu ketahui. " (al-Baqarah: 151)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (asy-Syams: 9-10)

Dari ketiga ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa mensucikan jiwa merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan seorang manusia. Mengapa? Karena jiwa yang bersih akan menghasilkan perilaku dan akhlak yang yang bersih pula.  Maka jiwalah yang menentukan suatu perbuatan itu baik atau buruk.

Lalu apa Tazkiyatun Nafs itu?

“Tazkiyah secara etimologis punya dua makna: Penyucian dan
 pertumbuhan. Demikian pula maknanya secara istilah. Zakatun-nafsi artinya penyucian (tathahhur) jiwa dari segala penyakit dan cacat, merealisasikan (tahaqquq) berbagai maqam padanya, dan menjadikan asma' dan shifat sebagai akhlaqnya (takhalluq).”

“Makna tazkiyatun-nafs secara istilah adalah penyucian jiwa dari segala penyakit dan cacat, merealisasikan berbagai maqam kepadanya, dan menjadikan asma' dan shifat sebagai akhlaqnya.”

Sa’id Hawwa menjelaskan bahwa jika dapat menjadi suci apabila kita melakukan berbagai ibadah dengan sesempurna mungkin yang dapat kita kerjakan. Ibadah tersebut diantaranya adalah shalat, infaq, puasa, haji, dzikir, dzikrul maut (mengingat kematian) dan tilawah al-Qur'an.

Hasil yang paling nyata dari jiwa yang tersucikan ialah adab dan mu'amalah yang baik kepada Allah (hablumminallah) dan manusia (hablumminannas). Artinya jiwa yang bersih ini akan memperbaiki hubungan kita tidak hanya secara vertikal kepada Allah, tetapi juga hubungan secara horizontal kepada manusia dan semua makhluk-Nya.

Hubungan baik kepada Allah terealisasi melalui pelaksanaan hak-hak-Nya. Termasuk di dalamnya mengorbankan jiwa dalam rangka jihad di jalan-Nya. Dan hak Allah ini merupakan hak yang paling utama di atas hak-hak apapun yang ada di dunia ini. Jadi, hak asasi manusia itu dibatasi oleh hak Allah. Dahulukan dulu di dalam penunaian hak Allah atas diri kita (kewajiban asasi) barulah hak manusia. Sedangkan hubungan baik kepada manusia terealisasi dengan akhlak dan adab sesuai dengan ajaran Islam.

Maka di antara pengaruh dari tazkiyyatun nafs yang benar ialah terealisisasinya tauhid, ikhlas, shabar, syukur, cemas, harap, santun, jujur kepada Allah dan cinta kepada-Nya di dalam hati. Selain itu, tazkiyyatun nafs pun akan menghindarkan diri kita dari hal-hal yang bertentangan dengan semua hal tersebut seperti riya', 'ujub, ghurur, marah karena nafsu atau karena syetan.
 
Dengan demikian jiwa menjadi tersucikan lalu hasil-hasilnya nampak pada terkendalikannya anggota badan sesuai peritah Allah dalam berhubungan dengan keluarga, tetangga, masyarakat dan manusia.

Maka sangat relevan sekali sebuah hadist Rasulullah SAW yang artinya,
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Artinya kondisi hati dan jiwa di dalam diri kita akan sangat memengaruhi keseluruhan diri kita sendiri. Bagaimana kita bersikap, berbuat, beramal solih, berkontribusi.. itu semua sangat bergantung pada kondisi hati dan jiwa kita.

Seperti perkaatan terkenal dari Imam al-Ghazali “What comes from the heart goes to the heart” (apa yang berasal dari hati akan diterima oleh hati). Maksudnya jika kita memang benar-benar bersungguh-sungguh berkata-kata yang berasal dari hati akan juga diterima secara baik oleh hati yang mendengarnya. Indah ya..

Saya jadi ingat pengalaman pribadi saya sendiri bagaimana kondisi hati yang dijaga oleh ibadah-ibadah saya pada malam hingga pagi harinya akan berdampak pada bagaimana saya merespon apapun, termasuk perilaku anak dan pasangan.

Jika saya solat malam dengan baik, berkhalwat dan bermunajat kepada Allah dengan menghadirkan hati yang sesungguhnya.. kemudian membaca kalam-Nya disertai dengan pemahaman maknanya.. rasanya seperti dicharge kembali energi dan ruh saya, sehingga saya dapat bersikap lebih sabar dan syukur atas segalanya. Saya jadi lebih sabar ke Afifa dan suami. Saya jadi lebih bersyukur dan bisa mengambil semua sisi positif dari berbagai hal-hal yang mungkin bisa bikin saya kesal kalau energi saya gak dicharge dengan baik.

Afifa berantakin rumah, alhamdulillah saya bersyukur karena artinya ia sehat dan potensi energinya luar biasa karena anak sekecil itu bisa memindahkan banyak barang di rumah. Hehehhe..

Afifa nangis karena hal sepele, alhamdulillah saya juga bersyukur artinya ia adalah manusia normal yang bisa mengekspresikan perasaannya termasuk perasaan sedih dan kecewanya.

Afifa minta dibacakan buku berulang kali, atau gak mau ditinggal sedikit dan sebentar pun sampai saya susah untuk mengerjakan hal lain pun saya syukuri karena artinya ia memiliki bonding yang kuat dengan saya.. terlihat ia sayang dan cinta sama saya. Iya kan? Hehehe..

Afifa mulai banyak alesan kalau saya bilang A alias enggak langsung nurut.. itu pun harus disyukuri karena artinya ia punya potensi untuk mempertahankan apa yang menjadi pendapatnya. Hehehe.. Daaaan.. masih banyak lagi yang bisa disyukuri.

Itu semua bisa relatif lebih mudah dijalankan saat saya memang menjaga hubungan saya dengan Allah SWT. Makanya kalau saya merasa sedang banyak emosi, sumbu pendek, senggol kepret mode on... saya evaluasi lagi ibadah saya. Sudah dilakukankah? Sudah berkualitaskah? Apa yang terlewat? Karena insyaAllah dengan kita memperbaiki sarana-sarana tazkiyyatun nafs tsb, maka Allah akan membereskan pula urusan kita di dalam hal apapun, termasuk menjaga fitrah anak kita. InsyaAllah.

Mari kita jadikan momentum bulan Ramadhan ini sebagai latihan diri kita untuk ber-tazkiyyatun-nafs, agar fitrah diri kita dapat terjaga. Dengan terjaganya fitrah diri kita, insyaAllah kita akan mampu menjaga fitrah anak-anak kita kelak. Aamiin.. :”)

#Level11
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitasAnak
#LearningbyTeaching
#Review15

Tuesday, 29 May 2018

Kunci Syurga Perempuan: Review 14

Gak terasa akhirnya presentasi kelompok pun sampai pada kelompok terakhir yaitu Group 10 yang beranggotakan Bunda Anisa, Bunda Dery, Bunda Luthfita dan Bunda Sri. Kali ini mereka membahas mengenai Fitrah Seksualitas Anak pada Usia Pra-Aqil Baligh yaitu rentang usia antara 7-10 tahun dan 11-14 tahun.

Dua periode usia ini merupakan masa-masa krusial di dalam pendidikan fitrah seksualitas. Karena merupakan masa peralihan. Maka lagi-lagi peran orang tua amat krusial.

Bila anak pada usia ini tidak mendapatkan ilmu terkait fitrah seksualitas dari kedua orang tuanya langsung, maka para remaja ini akan mendapatkannya dari sumber lain seperti teman, buku, internet dan sebagainya.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Group 10 adalah dengan melakukan edukasi kepada anak-anak terkait kisah-kisah zaman Rasulullah SAW dan para sahabat dengan kaitannya terhadap peran gender. Dan ini menjadi topik pembahasan yang menarik pada diskusi malam tadi.

Ternyata di zaman Rasul SAW peran perempuan pada ranah publik pun amat banyak. Misalnya bagaimana Shafiyyah binti Mutalib yang sigap di dalam membantu pasukan kaum Muslimin di saat Perang Uhud. Pun dengan Siti Khadijah ra yang melakukan ekspansi bisnis sehingga menjadi pebisnis sukses di masa itu. Belum lagi Siti Aisyah ra yang terkenal akan kecerdasannya pada bidang ilmu lintas disiplin, mulai dari perawi hadist Rasulullah SAW yang terbanyak hingga bidang kedokteran pun Siti Aisyah ra sangat ahli.

Ini menujukan bahwa Rasul SAW tidak melarang perempuan untuk berkontribusi pada ranah publik.
Namun jika dilihat di dalam Al-Quran, menurut Ust Budi Ashari porsi kiprah perempuan pada ranah ini hanya 20 persen. Yang mayoritas 50 persen adalah sebagai istri dan sisanya 30 persen adalah sebagai ibu.

Saya pun cukup tertegun mendengar pemaparan ini. Tapi kemudian saya teringat kembali nasihat Papa saya mengenai kunci syurga seorang perempuan.

 Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang perempuan (isteri) itu telah melakukan solat wajib lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dari yang haram baginya (marwah) dan menaati perintah suaminya, maka akan dipersilahkan baginya di akhirat untuk masuk Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya.”
(Hadis Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)

Allahu akbar!!
*Merinding :(

Papa saya menasihati saya sebelum saya menikah.. “De, jika kamu solat wajib saja, gak ditambah solat sunnah lainnya, lalu kamu puasa wajib saja, gak ditambah puasa sunnah lainnya.. dan kamu jaga pergaulan kamu.. dede dijamin masuk syurga.. asalkan dede taat sama suami. Meski berat, taatlah sama suami dalam rangka ketaatan kepada Allah.. Selama suami gak menyuruh kepada kemaksiatan.”

“Apalagi kalau dede nambahin solat sunnahnya, dan juga shaum sunnahnya.. insyaAllah syurga balasannya.” 

MasyaAllah.. indah ya Islam. Betapa ia sangat memuliakan perempuan. Bahkan syarat seorang perempuan masuk syurga pun tidak dipersulit.

Semoga kita bisa semakin menjadi istri yang lebih shalihah, lebih taat, lebih mengayomi, lebih mencintai dan menghargai suami kita ya. Aamiin.. allahumma aamiin..

#Level11
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitasAnak
#LearningbyTeaching
#Review14

Monday, 28 May 2018

Youtube Ads : Review 13

Selesai sahur dan Sambil menunggu adzan subuh, saya membuka handphone. Kebetulan ada teman saya share link berita video youtube Hanum Rais tentang perjuangan beliau memiliki anak selama 11 tahun.

Karena penasaran saya klik lah.
Link tersebut langsung mengantarkan saya pada aplikasi youtube saya. Dan video pun dimulai. Baru beberapa detik, langsung muncul pop up youtube ads (advertisements) warrior ninja perempuan berpakaian sexy, yang diminta untuk dipegang. Saat ada yang memegang bagian (maaf) bokongnya, ia pun mengeluarkan suara genit mendesah.

Ya Rab..
Langsung saya screen shoot (SS). Lalu setelah solat subuh saya share lah SS tersebut ke ka Wina Risman via wa. 

Kami pun berdiskusi cukup panjang. Bagaimana keresahan saya yang tiba-tiba dimunculkan iklan tsb padahal yang saya tonton adalah video yang baik, dan related videosnya pun gak ada yang macem-macem.

Saya ceritakan bahwa saya langsung cek ads setting di aplikasi saya. Ternyata by default, semua category termasuk Blues category dicentang oleh setting Youtube akun saya. Artinya by default memang mungkin hampir semua akun youtube akan disuguhkan banyak ads dengan variasi porn ads. Itu saya yang melihat. Bagaimana jika anak-anak yang sedang melihat film kartun atau tayangan mendidik di youtube tiba-tiba disuguhkan ads tersebut dan mereka penasaran? Hiks tragedi zaman now😢

Ka Wina pun mengingatkan.. Bayangin berapa juta orang tua yang terlena? Sementara fenomena diluar sana, kita lihat balita sangat attached to gadget, terutama pas makan. Kalau gak dikasih, gak makan.

And the sad part is, those balita, will be our children's classmate, roommate, workmate....in life.

Sedih ya.. 

Lalu ka Wina kembali mengingatkan..
We keep trying to do our best. That is why it is EXTREMELY important, that our children have a good environment to grow up in. Until they are strong enough to decide which to follow which not. It takes villages to raise our children.

And that is why while doing out best at raising our children, we help others being aware and educate them as well.

Bukan krn kita sudah betul/bagus, tapi karena kita sudah tahu, walau masih berjuang. May Allah protect us always. Aamiin..

Saya pun berdoa..
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dan generasi penerus bangsa dan agama agar terhindar dari hal-hal yang tidak benar. Agar mereka memiliki self defense dan self filter yang baik untuk membedakan mana yang hak dan yang bathil. Aamiin..

Our enemy to protect our children is real. Let us be aware and educate as well as raise our children as best as we could..


#Level11
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitasAnak
#LearningbyTeaching
#Review13

Fitrah Seksualitas Anak: Review 12

Gak terasa Ramadhan sudah memasuki malam ke 13. Setelah libur dua hari, kali ini kelompok 9 yang terdiri dari bunda Ade, bunda Mardhatillah, bunda Titik dan Bunda Zulfia mendapat giliran untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka yang membahas tentang “Fitrah Seksualitas Anak dalam Menangkal Kekerasan Seksual Pada Anak”.

Tema ini diangkat dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kasus kekerasan seksualitas pada anak, terutama pada anak laki-laki. Bentuk kekerasan dan pelecehan seksual ini dilakukan di banyak tempat mulai dari lingkungan rumah, sekolah dan tempat anak bermain. Naudzubillah..

Dan biasanya pelaku adalah korban pelecehan seksual juga. Ibaratnya pelaku “membalas dendam” atas apa yang terjadi padanya di masa lalu, kemudian melakukan kembali hal tsb kepada orang lain. Kalau dipikir-pikir ini seperti lingkaran setan (vicious circle) yang terus berputar jika sedari awal tidak ada tindakan preventif apapun untuk mencegahnya.

Maka Group 9 sangat menganjurkan peran keluarga yang paling utama untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan tersebut. Orang tua harus membersamai anak, mengajak anak untuk berdiskusi, memperkenalkan batasan aurat, memperkuat keimanan dan doa agar anak keturunan kita dilindungi oleh Allah SWT. Aamiin..

Dan sebagai media edukasi, Group 9 menampilkan media edukasi berupa lagu untuk melindungi tubuh masing-masing karya bunda Ade dan komik karya bunda Titik. Super keren dan the best banget :”)

Barakallah Group 9. Really proud of you!!


#Level11
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitasAnak
#LearningbyTeaching
#Review12

Friday, 25 May 2018

Fitrah Seksualitas Anak: LGBT dalam Kehidupan Review 10

Group 8 yang beranggotakan Bunda Ita, Bunda Sanni, Bunda Suci dan Bunda Veve tadi malam membahas tentang bahaya LGBT bagi kehidupan. Pembahasan yang ditampilkan sangat menarik berikut dengan media edukasi yang ditawarkannya.

Saya jadi teringat ada sebuah video yang menarik terkait bahaya (akibat) zina, termasuk perilaku LGBT, yang dijelaskan oleh dr. Dewi Inong, spKK pada acara ILC (Indonesia Lawyer Club) di TV One beberapa waktu yang lalu. Lebih lengkapnya disini ya:

dr. Dewi Inong menjelaskan secara terperinci terkait bahaya apa yang terjadi dari sisi kesehatan jika manusia berperilaku LGBT. Tentunya yang paling jelas adalah adanya IMS (Infeksi Menular Seksual) dengan berbagai jenis wujud penyakit. Bahwa ternyata IMS ini paling banyak terjadi jika hubungan badan dilakukan melalui (maaf) kelamin dengan anal, bukan semata-mata kelamin dengan kelamin.

Saya mengurut dada saat dr. Inong membeberkan begitu banyak fakta mengejutkan terkait perilaku LGBT ini. Dan marahnya saya, para korban penyakit IMS karena perilakunya sendiri, yang memerhatikan kehidupan mereka adalah orang tua dan orang-orang yang memang concern menolak LGBT. Dr. Inong melakukan penyuluhan dan juga membekali mereka dengan keterampilan agar mereka mandiri. 

Dan program-program yang memanusiakan LGBT itu tidak dibantu orang-orang pro LGBT yang teriak sana sini mempromosikannya atas nama HAM. Sedih.. 😢

Apalagi ditambah penjelasan dari Prof. Euis Sunarti, seorang guru besar ilmu konsumen dan keluarga, Institut Pertanian Bogor. Ini dapat dilihat pada link berikut..

Memang Indonesia sudah darurat LGBT. Jangan sampai perilaku ini malah dibenarkan secara legal oleh negara. Jangan sampai atas nama hak asasi manusia yang terlewat batas hingga melupakan hak paling utama: hak Allah atas kehidupan kita. 

Apa hak Allah atas kita? Yaitu kewajiban kita untuk beribadah sesuai dengan apa yang Ia perintahkan. Kalau Allah menjelaskan bagaimana hancurnya Kaum Nabi Luth akibat perilaku sodom, maka itulah hak Allah yang harus kita jaga.. Artinya Allah melarang dengan keras perilaku tersebut.. 

Semoga anak keturunan kita dilindungi dari hal-hal yang Allah murkai. Aamiin..


#Level11
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitasAnak
#LearningbyTeaching
#Review10