My Words. My World.

Thursday, 5 November 2015

On Time


Salah satu nasihat dan contoh nyata yang saya dapatkan langsung dari Papa saya adalah tentang bagaimana sikap beliau terhadap waktu. Well.. I can probabbly say that he is one of the most on time person I have ever met in my life. Bahkan seringkali beliau itu “before time”, bukannya on time. Datang lebih awal. Jauuuhh lebih awal. Hehehehe…
Jika saya libur, beberapa kali saya ikut beliau bekerja. Kami tinggal di Bogor, sedangkan banyak dinas yang Papa lakukan di Jakarta. Suatu hari saya diajak Papa untuk mengisi beberapa acara di Jakarta. Acara pertama yaitu pengajian bulanan yang diadakan oleh salah satu bank syariah di Jakarta. Pengajian tersebut dimulai pukul 7.30 pagi. Can you guess what time did we depart from our home? Jam 4 pagi! Kami pun melakukan sholat subuh di salah satu mushola di pombensin pinggir jalan tol. Kata beliau, “Kalau ke jakarta di pagi hari, pilihannya cuma dua: kalau ga kepagian, ya kesiangan. Nah.. lebih baik kita lebih awal datang.” Dan jam berapa kami sampai di tempat acara? Jam 5.30 pagi! Bahkan office boy belum ada yang datang. Matahari belum keliatan. Masih gelap, serius. Saat itu hanya ada satpam di tempat. Kemudian tempat yang kami cari pertama untuk menunggu waktu adalah mushola. Papa bilang, “Nah kan kalau begini enak, kita bisa ngaji dulu sambil nunggu waktu dhuha. Terus kalau udah masuk waktu dhuha kita bisa langsung solat dan berdoa. Enak kan?” *dalam hati, “Iya sih, tapi ngantuk Pah… -_-“ *sumpel mata pake korek api*
Pernah suatu saat Papa diundang mengisi ceramah di kampus. Saat itu panitianya adalah para mahasiswa S1, di salah satu kampus di Bogor. Di dalam surat undangan, tertulis bawa acara dimulai pukul 9 pagi. As expected, my Dad came 30 minutes earlier. Ternyata ruangan acara bahkan belum dibuka, dan baru ada seorang panitia yang hadir. Papa pun menunggu. Jam 9 pagi baru para panitia mulai berdatangan. Pukul 9.45 acara pun belum dimulai. Kemudian Papa mengambil tindakan untuk pergi dari acara tersebut karena harus menghadiri acara lain setelahnya. Beliau tidak mau terlambat untuk menghadiri agenda berikutnya. Kata beliau kepada panitia, “Mohon maaf, saya sudah menghargai undangan Anda dan menepati janji untuk datang. Di undangan, Anda sendiri yang menulis pukul 9 acara dimulai. Tapi hingga pukul 9.45 acara belum juga dimulai, jadi saya harus pergi untuk memenuhi janji saya di tempat lain.” Halus sih…. Tapi dalem…  Just wondering if I were the committee, I might have blamed my self for the inconvenience happened. *Sambil nangis di ujung jendela pas hujan rintik-rintik.  Tapi memang kala itu Papa ada acara di tempat lain dan beliau tidak mau sampai telat.

“De, kalau Papa ngaret, semua agenda Papa hari itu akan berantakan. Makanya Papa harus berusaha tepat waktu.” Begitu beliau menjelaskan saat saya protes, “Kok Papa on time melulu.” *Dasar anak bungsu manja! *Tunjuk diri sendiri :D
Ketika Papa mengadakan rapat pun gak jauh beda. Misalnya beliau mengundang rapat staff-nya untuk hadir pukul 10 pagi, maka rapat pun akan diadakan pukul 10 pagi. Berapa pun yang hadir. Kata beliau, “Kebanyakan dari kita lebih menghargai orang-orang yang suka terlambat. Mengundur suatu agenda demi menunggu mereka yang telat. Bagaimana dengan yang sudah hadir tepat waktu? Tidakkah waktu mereka pun harus dihargai?” Iya sih iya… Tapi…. *Tetep mau protes

“De, tau gak bahwa Allah SWT sendiri lho yang Maha Menghargai waktu. Coba liat di beberapa surat di dalam Al-Quran, Allah SWT mengawali firman-Nya dengan bersumpah menggunakan waktu. ‘Demi waktu..’ ‘Demi duha..’ Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu. Maka salah satu cara kita menghargai waktu selain mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, adalah dengan menjadi pribadi yang tepat waktu. Kecuali memang ada alasan yang ‘syar’i’ sebenarnya menjadi on time itu adalah masalah kita membiasakan diri.” Jelas Papah.

Ya…
Sejujurnya saya pribadi kadang masih suka telat. Tapi kalau inget lagi apa yang telah Papa saya contohkan, rasanya malu. Apalah saya dibandingkan dengan kesibukan beliau. Maka kalau telat, muka manusia pertama yang saya ingat adalah muka Papa saya. Maluuuu rasanya kalau ingat betapa beliau menghargai waktu.

Dan kejadian tadi pagi saat saya memberikan ujian midterm kepada mahasiswa saya, ada seorang mahasiswi yang telat selama 42 menit. Alasannya adalah “Saya mencari-cari ruangan, tapi gak ketemu Madam.” Padahal sehari sebelumnya saya sudah ingatkan berkali-kali tentang waktu mulai ujian, berapa durasi waktunya, dan terutama tempatnya. Sudah saya kasih tau kepada mereka. Berkali-kali. Dan saya ingat betul mahasiswi tersebut hadir. Dan saat diingat kembali, pada saat test 1 dimana ujian dilakukan di kelas kami yang biasa, dia pun terlambat sekitar 20 menit. But she managed her time well at that first test.

Kemudian mahasiswi tersebut meminta tambahan waktu karena dia telah kehilangan 40 menit waktunya. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya kok malah ga adil buat mahasiswa lain yang sudah datang tepat waktu. Saya datang pukul 8.10 tadi pagi. Ketika saya ke kantin untuk sarapan sebelum memulai ujian, sudah ada beberapa mahasiswa yang datang. They came earlier than me. 

Akhirnya saya bilang, "Sorry sister, but I cannot give you any extra time. Because I already told you yesterday about the time and the venue of our test. I have to be fair for your friends as well.” Kemudian dia seperti tidak puas dan sedikit ‘bete’ sama saya. Yes, I know that from her facial expression. Akhirnya dia pun mengumpulkan lembar jawaban ujiannya bersama dengan mahasiswa yang lain.

Sejujurnya, ada sedikit perasaan bersalah dalam diri saya… Saya tau betul pasti tidak nyaman kehilangan 40 menit waktu ujian. If I were her, I might cry like baby. That 40 minutes is a huge and significant thing. Very huge. Tapi di sisi lain, pertimbangan saya adalah sebagai dosen saya harus adil dan memberikan contoh pula kepada mahasiswa yang lain. Bahwa tepat waktu adalah sangat penting, terutama saat ujian. Kalau tidak tau ruangan, maka sudah seharusnya datang lebih awal, untuk memastikan ruangan yang dituju. Entah mungkin dia memiliki alasan ‘syar’I’ lain, tapi alasan yang diberikan hanyalah dia kesusahan mencari ruangan. Tidak untuk yang lain.
Entahlah tindakan saya benar atau tidak. Saya hanya berusaha objektif kepada semua mahasiswa saya. Semoga Allah mengampuni dosa saya bila tindakan saya tersebut salah… Hiks… I really hope the best for all of my students, without any exception. I really do.

Posted by Qurroh Ayuniyyah at 20:29 1 comment:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Thursday, 22 October 2015

"Da aku mah apa atuh..."

"Da aku mah apa atuh..."

Suka ga ngomong gt? Salah satu kalimat yg sempet hits beberapa waktu yang lalu. Biar lebih dramatis, ditambah kata-katanya jadi: "Da aku mah apa atuh.. Cuma bubuk rengginang di kaleng Kong Guan." Nunjukin ngenes banget gitu...

Hehehe dulu saya juga ikut-ikutan ngomong gitu. Kalau lihat orang yang memiliki berbagai macam kelebihan, keunggulan dan fortunate lainnya yang belum kita miliki, langsung deh bilang, "Da aku mah apa atuh dibanding dia.. Cuma remahan kerupuk di piring ketoprak.." Minimal di dalam hati. Hehehe...

Tapi tapi...
Suatu saat saya buka-buka catatan materi kajian yang pernah saya ikuti dulu.. Jadi saya membiasakan setiap ikut kajian, selalu mencatat biar ada oleh-oleh. Karena manusia kecenderungannya mudah lupa. Nah untuk mengikat ilmu tersebut biasanya saya selalu mencatat deh. Hehehe...

Nah... Saya membuka catatan lama saya. Di situ berjudul "Peran Seorang Muslimah".
Pemateri saat itu menjelaskan bahwa saat seorang muslimah dilahirkan, paling tidak dia (lanngsung dan akan) mengemban berbagai posisi penting. Peran yang serius. Wuihhh sereeemm... Hehehe...Nah apa aja itu?

Pertama, yang paling utama, seorang muslimah mengemban amanah sebagai seorang hamba Allah SWT.
Tugas kita dilahirkan ke dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ini sesuai dalam QS. Adz-Zariyat ayat 56 yang berbunyi, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Sama juga di dalam QS Al-Baqarah ayat 21 dimana Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa."

Nah jelas banget kan di kedua ayat tersebut bahwa tujuan kita diciptakan-Nya adalah untuk mengabdikan diri kita kepada Allah. Bahkan Allah SWT memberikan tanggung jawab yang sangat besar yaitu dengan menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin di dunia ini. Hal ini sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 30. Sok atuh dibuka Al-Qurannya :)

Jadi hidup kita di dunia ini sudah Allah tentukan peran asasinya. Bahwa kita harus senantiasa beraktivitas dalam rangka beribadah kepadanya, baik ibadah dalam arti khusus (kaya shalat, puasa, membaca Al-Quran, bayar zakat, haji, dll), juga ibadah yang sifatnya umum alias luas (misalnya mulai dari tidur, makan, mandi, belajar, bekerja, dll). Semuaaaaaanyaaaaa *sengaja a-nya dibanyakin* kita lakukan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Makanya sikap-sikap seperti ikhlas, sabar, syukur, selalu merasa diawasi-Nya, dan senantiasa memperbaharui niat dan taubat mesti kita tanamkan. Tapi kan susaaaahhhhhhhh *sengaja a dan h-nya juga dibanyakin :D*.. Iya emang susah. Tapi Allah SWT akan menilai usaha kita, proses kita, kesungguhan kita... Jadi meski susah, yuk tetap semangat! :)

Kedua, seorang muslimah memiliki kewajiban terhadap dirinya sendiri.
Allah SWT kan sudah memberikan bekal kepada kita dalam bentuk fisik kita, akal kita, dan hati kita. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kenapa kedudukan kita lebih baik daripada malaikat sekalipun yang notabene-nya selalu patuh sama Allah, karena kita dilimpahi akal, hati, serta hawa nafsu. Ketiga komponen tersebut jika dapat kita maksimalkan potensinya maka akan memberikan dampak yang luar biasa... Warbiyasak kalau istilah jaman sekarang mah :D

Terhadap tubuh kita, kita berkewajiban menjaga kesehatan, kecantikan *uhuk-uhuk*, juga menjaga dari hal-hal yang sia-sia. Yang sia-sia aja mesti dihindari, apalagi yang dilarang sama Allah. Lalu terhadap akal kita, kita wajib mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama, maupun ilmu lainnya seperti ilmu ekonomi.. *Hidup Ilmu Ekonomi!! :D* Hehehe ilmu lain juga penting yah. Bahkan saking pentingnya ilmu ini, dalam QS Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kita semua. Maka ada ungkapan, "Kejarlah ilmu hingga liang lahat.." benar adanya. Artinya selama nyawa kita masih ada, ga ada kata terlambat untuk belajar. Never too old to learn. Apapun itu. Mau ilmu formal ataupun nonformal, selama bermanfaat maka silahkan dikejar :) Oiyaa bahkan kemarin di kampus saya ada seorang mahasiswa master yang lulus berusia 70 tahun... MasyaAllah.. Hebat banget kan.. :') Lalu terhadap hati kita, kita wajib mengisinya dengan banyak-banyak mengingat Allah baik secara lisan, pikiran, dan perbuatan. Selain itu perbanyak membaca Al-Quran serta menjauhi maksiat juga merupakan cara kita dalam menjaga hati kita.. "Ingatlah Allah, maka hati akan menjadi menjadi tenang.." itu janji Allah di dalam QS Ar-Ra'du ayat 28. Juga pentingnya mengingat Allah dapat dilihat di dalam QS Az-Zumar ayat 22 dan Al-Insan ayat 25. Sok atuh dibuka :)

Ketiga, kewajiban muslimah lainnya adalah kepada kedua orang tua kita.
Yup ini penting banget. Setelah saya punya Afifa, saya baru paham kenapa ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua kita. Karena bagi orang tua, anak ibarat pusat perhatian dan pertimbangan utama di dalam hidup mereka. Betapa orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya, meski seringkali anaknya melukai hati mereka :'( *jadi melow*

Maka terhadap mereka, kita wajib berbakti, dengan mempersembahkan sebaik-baiknya bakti. Jika orang tua kita masih ada, maka inilah ladang amal syurga kita. InsyaAllah balasannya tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin... :) Selain itu, mendoakan mereka di setiap kesempatan pun salah satu cara bakti kita kepada mereka. Maka minimal setiap habis shalat, kita wajib mendoakan mereka, "Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktuku kecil." Kalau yang sudah memiliki penghasilan, sisihkan yang utama pertama kali untuk orang tua kita. It's not about how much we give them, because we never be able to pay their sacrifice, but it is about our attention towards them. Yakin deh justru rezeki kita akan berkah kalau kita berikan kepada orang tua kita. Bukankah di dalam QS. Al-baqarah ayat 215, Allah SWT menjelaskan bahwa infaq yang paling utama adalah kepada keluarga, termasuk kepada kedua orang tua kita.

Bagi yang orang tuanya sudah tidak ada, maka kewajiban kita adalah mendoakan.. Mendokan dengan sebaik-baiknya doa. Karena semua amalan seseorang akan terputus jika sudah meninggal, kecuali tiga hal, salah satunya adalah doa anak sholeh. Maka, jangan pernah lelah untuk mendoakan mereka, insyaAllah doa kita akan sampai kepada mereka. Selain doa, cara kita berbakti adalah dengan melanjutkan kebiasaan baik orang tua kita selama kita hidup. Mudah-mudahan, amal sholeh yang kita lakukan karena didikan dan contoh dari orang tua kita, akan memberatkan amal timbangan mereka di sisi Allah SWT. Aamiin...

Keempat, kewajiban kita terhadap suami. *uhuk uhuk :)))*
Jadi memang perempuan dan laki-laki diciptakan untuk saling melengkapi. Saat ijab kabul terucap, lepaslah tanggung jawab seorang ayah terhadap anak perempuannya. Dalam waktu bersamaan, sang suamilah yang menanggung beban berat tersebut. Makanya kenapa di dalam Al-Quran, menikah disebut juga sebagai "mitsaqon gholidzo" alias ikatan yang kuat. Ini bukan semata-mata tentang status. Seorang perempuan menjadi istri, dan laki-laki menjadi seorang suami. Tetapi jauh lebih dari itu. Pernikahan merupakan ikatan yang teramat kuat karena tidak hanya untuk di dunia tetapi juga menentukan kelak bagaimana posisi kita di akhirat.

Bagaimana tidak. Di dalam hadist Ibnu Hibban, Rasulullah SAW  menjelaskan bahwa syarat seorang wanita masuk syurga "hanya" empat. Dan keempatnya mesti dilakukan secara bersamaan, tidak boleh ditinggalkan salah satunya. Pertama, melakukan shalat wajib (cuma yang wajib aja bisa masuk syurga, apalagi ditambah shalat sunnah coba :D). Kedua, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan (apalagi ditambah shaum sunnah kaya shaum Senin-Kamis, ayyamul bidh, dll). Ketiga, menjaga pergaulan (betapa pentingnya seorang perempuan menjaga akhlaknya). Keempat, taat dan patuh kepada suami dalam rangka menjalankan kepatuhan kepada Allah SWT.
Justru yang nomor empat yang susah.. #eh :D *becanda (sengaja di italic, bold, dan underline) :D

Jadi, seorang istri berkewajiban untuk mematuhi perintah suaminya selama sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, seorang istri pun berkewajiban untuk menyenagkan hati suami serta tidak melakukan apa yang dibencinya, selama (lagi-lagi) sesuai dengan apa yang Allah ridhai. Menjadi istri shalihah adalah salah satu hal yang utama yang dapat kita jadikan sebagai ladang amal soleh kita. Aamiin... Apalagi Rasulullah SAW bersabda, "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang  salehah." (HR. Muslim, Nasa’I dan Ahmad). Masya Allah... Betapa indahnya kita dalam pandangan agama jika dapat menjadi seorang istri shalihah :') *langsung mamet sama suami*

Bagi yang belum menikah, saya doakan segera bertemu jodoh terbaiknya di dunia dan akhirat. Aamiin :)

Kelima, peran seorang Muslimah terhadap anak.
Menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah sekaligus ujian sepanjang hidup kita. Anugerah jelas karena keberadaan anak dapat membuat hati kita merasa tenang dan bahagia, apalagi jika anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh dan shalihah. Aamiin..

Sekaligus menjadi ujian adalah terkait bagaimana kita menjaga dan mendidik anak-anak kita. Perlu kesabaran dan keluasan hati yang luar biasa selama proses tersebut. And it lasts until we die. Ga ada yang namanya pekerjaan sebagai seorang ibu itu pensiun. Menjadi seorang ibu adalah pekerjaan seumur hidup, meski tentunya dalam konteks dan kontribusi yang berbeda tergantung usia dan kondisi anak kita.

Iman tidak dapat diwarisi. Karenanya, perlu usaha dan kerja keras untuk membentuk kepribadian anak-anak kita agar sesuai dengan apa yang Allah SWT ridhoi. Maka asupan dan input agama dalam mendidik anak adalah ilmu yang sangat penting. Lebih spesifik lagi, peran muslimah adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anak kita. Mulia banget kan :') Tapi tentunya peran tersebut harus dilakukan secara harmonis dengan suami. Jika ibu adalah madrasah pertama bagi anak, maka bapak adalah kepala sekolah dari madrasah tersebut. Keduanya memiliki peran yang teramat penting :D Bismillah semoga saya dan suami dapat menjadi orang tua terbaik bagi anak(-anak) kami. Aamiin...

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Bagi yang menikah tetapi belum memiliki anak, saya doakan semoga Allah SWT menganugerahi keturunan yang soleh dan shalihah. Aamiin :)

Terakhir, seorang muslimah memiliki peran terhadap masyarakat.
Seorang muslimah harus berperan di dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi pribadi yang senantiasa menebarkan manfaat, menjadi pelopor dalam kebaikan dan amal sholeh, aktif berpartisipasi dalam kegiatan dakwah, memberi contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat.



Nah...
Jadi....

*Cape abis nulis panjang :D

Kalau kita ada niat mau ngomong, "Da aku mah apa atuhlah cumaaa....."
STOOPPPPPP!! *tiup peluit punya abang tukang parkir*
Inget lagi tentang peran yang sudah Allah amanahkan .

Kita adalah hamba-Nya, yang (insyaAllah) dicintai-Nya.
Yang telah diciptakan-Nya dengan maksud dan tujuan yang sangat besar. Menjadi pemimpin di alam raya ini. Diamanahkan untuk memanfaatkan dunia dan segala isinya dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Yang telah Allah berikan begitu banyak potensi baik fisik, akal, dan pikiran. Yang membuat kita paling spesial di antara makhluk lainnya. Inget: Yang paling spesial kaya martabak manis coklat keju di air mancur.. *apadeh ini lagi laper*

Kita adalah anak dari orang tua kita. Yang dapat memberikan hadiah syurga bagi orang tua kita kelak jika kita dapat menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. We mean the world to them. Kita adalah alasan kenapa Ayah kita rela berpeluh untuk mencari rezeki halal. Kita adalah alasan mengapa ibu kita rela manahan sakit untuk melahirkan kita. We are the reasons why they can sacrifice that much.

Kita adalah seorang istri yang dapat menyejukkan hati suami kita. Menjadi pelengkap agama suami kita. Kita memiliki pengaruh besar bagaimana suami kita berakhlak, mencari rezeki, dan memiliki peran di masyarakat.

Kita adalah ibu dari anak-anak kita. Kita adalah pendidik pertama bagi mereka. Bagaimana anak-anak kita kelak, sangat tergantung bagaimana kita mendidik mereka. Doa kita adalah mustajab buat mereka. Allah sendiri yang menjamin hal tersebut.

Dan kita adalah bagian dari masyarakat. Masyarakat dari yang terkecil hingga level internasional.
Kita harus berkontribusi dengan apa yang kita miliki. Manfaat kita ditunggu untuk menghasilkan masyarakat madani.

See?
We are not nobody. Because we are somebody to many people, even to our Creator.

"Da aku mah apa atuh.. Cuma bubuk rengginang di kaleng Kong Guan." 
BUKAN. Kita adalah rengginangnya. Rengginang yang enak, apalagi kalau di makan pas lebaran... Kalaupun ada bubuknya menunjukan bahwa rengginang tsb sudah berkontribusi dalam perut manusia.. *analogi yang aneh :D

"Da aku mah apa atuh dibanding dia.. Cuma remahan kerupuk di piring ketoprak.."
 BUKAN. Kita adalah kerupuk yang kriuk, kalau pun jadi remahan menunjukkan eksistensi kekrispian dari kerupuk tsb. Lagian kalau ga ada kerupuk, ketoprak jadi ga enak.. *analogi yang makin aneh. Ketauan kalo lagi laper :p

Hehehe...
Pada intinya, saya sedang menasihati kepada diri saya sendiri untuk terus bersyukur dan terus berusaha amanah di dalam menjalankan peran di dunia ini. InsyaAllah...

"Da aku mah apa atuh..."
Sok pikirin lagi sebelum mau bilang itu :D





Posted by Qurroh Ayuniyyah at 00:20 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Saturday, 12 September 2015

How (finally) I Got My Thesis' Supervisor(s) :)

Suami seringkali mengingatkan saya tentang pentingnya berdoa. Pun dengan Papah dan Mamah. Kata mereka, jangankan hal-hal besar, hal-hal kecil pun harus kita minta pada Allah.

Mamah pernah cerita bahwa (alm) Apa (ayahnya Mamah) selalu shalat istikharah setiap kali mau ke pasar. Bahkan hanya sekedar akan membeli baju pun, beliau selalu shalat istikharah 2 rakaat khusus minta petunjuk kepada Allah. Alasannya, "Biar dapet baju yang berkah dan sesuai, bagus kualitas dan harganya."  Luar biasa kan? Masya Allah.. semoga beliau ditempatkan di jannah-Nya. Aamiin..

Kembali ke doa, saya jadi ingat saat awal-awal nyetir mobil di KL, salah satu hal yang saya takuti adalah Parkir paralel di antara 2 mobil. Kebayang kan? Ga pernah bisa dilurusin. Mestiii aja ada hambatan. Terus pas tahajjud, saya dan suami doa bareng, suami yg pimpin doa. Salah satu doa yang suami lafalkan, "Ya Allah berkahi dan permudah istri hamba parkir." Saya ketawa dalam hati saat mendengar doa suami. Eh tapi ternyata alhamdulillah lho, ada aja kemudahan saya dalam parkir. Parkir di KEMNS (fakultas saya) bagian mahasiswa dan tamu selalu penuh di saat weekdays peak hours, yaitu saat mahasiswa kuliah. Alhamdulillah saat penuh banget, full occupied, eh ada satu mobil keluar. Dan itu parkir mundur. Yeayyy alhamdulillah.. Ternyata benar, hal sekecil apapun baiknya dikomunikasikan sama Allah. Makanya setiap saya bawa mobil ke kampus, selain minta keselamatan, juga saya memohon dimudahkan dalam parkir.

Lalu apa hubungannya semua ini dengan judul "How (finally) I got the supervisors for my Ph.D thesis" sih Qor????????

Sabar... Sabar... Orang sabar disayang Allah :) Hehehehe..

Jadi gini, udah pernah saya ceritakan belum ya kalau sebenarnya keputusan saya kuliah Ph.D itu cukup mendadak karena nasihat Papah yang meminta saya jangan LDM-an sama suami kalau sudah menikah. Tau ga LDM-an? Long Distance Marriage alias berjauhan secara jarak antara suami dan istri meski hati mereka terus terpaut berdekatan menjadi satu. Tssaahh :D

Kata Papah, karena saya dan suami belum benar-benar mengenal secara detail, ada baiknya setelah menikah saya menemani suami di Malaysia yang masih kuliah S2 dan berencana akan langsung melanjutkan S3-nya. Bismillah... Setelah istikharah, H-3 hari deadline application ditutup, saya apply Ph.D di IIUM lagi dengan jurusan yang sama. Hidup Ilmu Ekonomi!!!! *kepalkan tangan ke atas* :))))))

Nah... Karena semua serba mendadak, rekomendasi pun dibuat oleh Papah saya sbg Guru Besar IPB dan A Irfan kakak pertama saya sbg dosen IPB. Hehehehe ga apa-apa ya soalnya banyak ko yang minta rekomendasi ke mereka untuk daftar IIUM, masa anak dan adiknya sendiri ga boleh? *pembenaran padahal mepet* :P Pun dengan proposal penelitian, cuma saya ambil dari mata kuliah Microekonomi saat S2, poles sana sini. Triingggg... Jadi deh. Alhamdulillah dengan persiapan yang minim, aplikasi saya diterima. Mungkin karena alumni juga, makanya IIUM memberikan kesempatan kepada saya untuk lanjut sekolah di sana.

Lalu apa Qor hubungannya dengan supervisor???? *masih belum nyambung* Sabar... Sabar... Orang sabar disayang Allah.. Hehehe...

Kaitannya adalah, dengan persiapan yang serba mendadak, otomatis saya belum kepikiran siapa yang akan jadi supervisor saya untuk Ph.D ini. Pun dengan proposal disertasi saya yang amat sangat mentah..

Saat wawancara untuk apply sebagai asisten riset di Center for Islamic Economics, saya ditanya tentang apa interest saya untuk topik disertasi saya. Saya katakan saya belum tau, tapi saya ingin terkait dengan zakat. Proyek saya ini berkaitan dengan wakaf, tapi lebih terkait pada manajemen investasi yang dibandingkan dengan endowment fund pada universitas. Sangat bisa jika saya mau membuat topik tersebut sebagai penelitian S3 saya. Namun seiring berjalan waktu, saya cukup struggle dalam memahami istilah-istilah finance yang berhubungan dengan investasi. Cinta saya pada dunia zakat belum pudar. Saya semakin yakin ingin menulis tentang zakat.

Suatu saat A Irfan dan Teh Laily menginap di rumah saya di KL. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk diskusi dengan A Irfan tentang apa yang harus saya tulis dari zakat. A Irfan kemudian menceritakan tentang CIBEST model, sebuah model yang mengcapture kondisi kemiskinan dan kesejahteraan rumah tangga yang meliputi tidak hanya aspek material, tapi aspek spiritual juga. Saat itu A Irfan dan Teh Laily sedang dalam proses naik cetak buku "Ekonomi Pembangunan Syariah" karangan mereka berdua yang salah satu babnya memperkenalkan tentang model CIBEST ini. Setelah itu saya dapat pencerahan kemana saya akan menulis.

Kemudian menulis proposal-lah saya. Intinya saya ingin mengetahui bagaimana peran zakat dalam mereduksi kemiskinan dan gap pendapatan di dalam masyarakat dengan menggunakan Model CIBEST ini. Alhamdulillah proposal berjumlah 19 halaman termasuk daftar pustaka, 1.5 lines times new roman 12 pun berhasil saya buat. Tapi Proposal ini masih mentah dan perlu polesan sana sini. Hehehe...

Masalah selanjutnya adalah siapakah dosen yang bersedia menjadi pembimbing saya? Ini sangat krusial karena pembimbing akan memiliki pengaruh besar pada disertasi dan perjalanan penelitian saya ke depan. Ibaratnya, pembimbing adalah orang tua tempat kita mengadu segala keluh kesah tentang penelitian kita. Jadi memang harus ada kesediaan dua belah pihak.

Pertama kali saya mencoba mempropose Prof dimana saya sedang menjadi asisten proyeknya. Saya sampaikan via email, tapi proposal belum saya attach. Belum ada respon dan kemudian saya mendapat informasi dari sekretaris beliau bahwa Prof sudah memiliki bimbingan cukup banyak.

Selang sebulan kemudian, ada lowongan beasiswa dari kampus yang memerlukan tanda tangan dosen pembimbing.  Bikin galau ih... Setelah aplikasi beasiswa saya kepada Kementrian Pendidikan Malaysia belum ada jawaban, akhirnya saya merasa harus mencoba   apply beasiswa ini. Tapi yang jadi pertanyaan, siapa yang menjadi supervisor saya??

Daripada makin galau, saya pun curhat via WA ke Dr. Maya. Dr. Maya ini adalah dosen muda di departemen saya yang menjabat sebagai PG coordinator. Akhirnya Dr. Maya meminta saya untuk bertemu langsung di kantor beliau jam 10 pagi.

Saya ingat, hari itu hari Kamis tanggal 10 September 2015. Saya datang 15 menit lebih awal. Saya harus tepat waktu, menghargai dosen yang rela meluangkan waktu untuk saya di tengah kepadatan jadwalnya. Saya yang perlu. Saya yang harus benar-benar tepat waktu dan janji.

Dr. Maya pun sangat komunikatif memberikan masukan-masukan saat saya memperlihatkan proposal penelitian saya tersebut. Kemudian beliau merekomendasikan saya untuk menghubungi salah seorang dosen muda yang memang menulis tentang zakat dan kemiskinan juga.

Jujur saya belum benar-benar mantap. Tapi saya pun mencoba saran dari Dr. Maya ini. Awalnya saya mau email dulu, tapi rasanya lebih nyaman jika saya bertemu langsung dengan beliau ini. It's about chemistry. And you know you're going to 'click' with someone when you meet them personally. Ternyata ruangannya seperti tidak ada orang. Galau lagi deh. Aaaah sangat mudah untuk galau di saat seperti itu :)))) kaya anak ABG aja ya.. *inget umur woy*

Tiba-tiba saya teringat. Saya belum pernah benar-benar meminta kepada Allah ditunjukkan siapa yang harus menjadi supervisor saya. Masa minta tempat parkir aja berdoa, tapi minta ditunjukan supervisor ga berdoa.

Akhirnya saya langsung menuju mushala fakultas untuk shalat istikharah. Saat shalat saya benar-benar memohon kepada Allah untuk diberikan jalan untuk bertemu dengan supervisor yang terbaik untuk perjalanan disertasi saya. Saya berdoa, "Ya Allah.. Tunjukkanlah kepada hamba pembimbing disertasi hamba, yang kepadanya saya merasa tenang, yang darinya saya mendapatkan banyak ilmu, yang benar-benar mendukung saya agar ilmu saya ini bermanfaat di dunia dan akhirat." Ga terasa saya menangis. Hiks... :(
Biar lebih mantap saya pun baca Al-Quran sebanyak 2 lembar setelah saya selesai shalat dan berdoa.

Doa tentu tidak akan terealisasi jika tanpa ikhtiar. Ibaratnya, kita hanya menaruh pupuk di tanah kemudian mengharapkan pohon mangga tumbuh tanpa menanam bibit mangga tsb.. *nyambung ga? Hehehe..

Maka, setelah saya selesai istikharah, saya ingin bermusyawarah. Dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Akhirnya kemudian saya kirim WA kepada A Irfan. Curhat galau gitu deh. Kata A Irfan, "Kenapa Qorry ga coba propose Prof. Ataul Huq? Prof. Ataul sangat expert di bidang zakat dan poverty. He is the man." Dan ya.. a Irfan pun dulunya dibimbing oleh Prof. Ataul. "Kalau denger cerita kurang enak tentang beliau, biasanya karena masalah ketidaktepatan janji sang mahasiswa sendiri. Kalau Qorry menepati apa yang udah disepakati, insyaAllah ga akan ada masalah. Intinya disiplin dan tepat janji." 

Setelah pikir-pikir lagi, bismillah akhirnya saya memutuskan untuk menemui Prof. Ataul ini. Saya pun pergi ke ruangan beliau. Diintip-intip ternyata beliau ada di dalam bersama asistennya sedang asyik mengerjakan sesuatu. Something like Prof told his assistant sentences and he typed what Prof said. Deg-degan banget mau ngetuk pintunya. Bismillah...

Tok.. Tok.. Tok.. "Assalamualaikum.."
Diam. Ga ada respon dari dalam. Duh. Dicoba untuk kedua kalinya Tok.. Tok.. Tok.. "Assalamualaikum..". Ga ada respon juga. Haduuuhh gimana ini kan sunnahnya kalau 3 kali ga ada jawabannya baiknya pulang. Masa iya pulang sambil bawa koper kaya finalis AFI yg paling sedikit divoting sih.. *yang ngerti berarti kita seangkatan *hidup Feri, Kia, Mawar, Miki AFI bahahahaha..

Eehh fokus balik lagi.
Karena sunnahnya kalau ketukan ketiga berarti baiknya pulang, akhirnya saya tahan diri dulu buat ga ngetuk pintu. Pas udah mau ngetuk beberapa menit kemudian, kreeekk... Tiba-tiba Prof keluar. Whuaaa... Kaget. 

"Yes sister, what can I help you?" Prof said.
"Yes Prof I want to meet you." I replied.
"Oh you want to add or drop my subject?" Beliau nanya *yes beliau mikir saya mahasiswi S1, yeaayy dikira muda :)))))
"No Prof. I want to do consultation about my research." 
"Ooh... So you are a master student." 
"No Prof I am a Ph.D student."
"Oh okay. Please give me 2 minutes, i want to wash my hand." *beliau sambil mengcungkan dua jari, bukan buat selfie ya hehehhe.
Oia istilah 'wash my hand' itu bukan berarti 'cuci tangan' tapi artinya 'pergi ke toilet'. Kalau perempuan biasanya istilahnya "I want to powder my nose" untuk menunjukan kita mau ke toilet. Not necessarily kita harus bedakan :D 
"Okay Prof. Take your time."
Akhirnya saya nunggu di depan pintu ruangan beliau. Mau masuk tapi masih ada asistennya di dalem. Kan ga enak.

Gak lama, entah 2 menit apa bukan karena saya ga pasang stopwatch, ga perlu dan ga penting juga, hehehhe.. Beliau pun selesai.

Beliau mempersilahkan saya masuk ke ruangannya. Belum disuruh duduk, beliau langsung ajak diskusi.
"So what is the matter?"
"My Ph.D research is about zakat and poverty alleviation Prof."
"Aahhh.. You come to the right person. It is my specialization." His line really took me up. Kaya dapet aja 'click' saat beliau berkata itu.
"Yes Prof I heard it. 
That is why I come to you. So this is my preliminary proposal, which is still very raw. And if you dont mind I would like to propose you as my main supervisor." Kata saya langsung to the point sambil menyerahkan proposal ke tangan beliau.
"Of course I'd love to."
"Alhamdulillah thank you Prof. Im so grateful."
"You're welcome mrs. Ayuniyyah." Katanya sambil membaca cover Proposal saya.

Alhamdulillah... Rasanya lega banget pas beliau langsung setuju. Without firstly questioning me anything. I just said my general topic. Nothing's in detail. Kemudian beliau ngajak ngobrol untuk berkenalan.

"So are you married or single?"
"Married Prof."
"Alhamdulillah... How many children do you have?"
"Only one Prof. A 10-months old baby girl."
"Masya Allah... where do you get your degree?"
"Bogor Agricultural University Prof."
"I know that. I've been there to give a talk."
"Yes I know Prof. I am actually Dr. Irfan Syauqi Beik's little sister." Akhirnya saya bilang. I think it is a good idea to reveal that my brother was his supervisee as well previously.
"Woowww masyaAllah..."
Beliau sangat surprise dalam konteks positif :) 

Lalu beliau membuka proposal saya. Skimming per lembar. Lalu memberikan masukan-masukan terkait studi kasus dan lain-lain. Tidak terlalu lama. "So Sister let's go to canteen. We can talk while walking." 

Sambil jalan kami pun bercakap-cakap cukup banyak. Lalu beliau bilang, "You must know how I am right? I am a man who is hard to handle. I am very strict. If you want to do your research fast, do it with me, but we have to stick to your timeline. You have to be discipline and work hard. InsyaAllah everything will run according to the plan." Kata beliau.
"InsyaAllah Prof. Please teach me." jawab saya.
"Of course. Please leave your phone number and matric number. I will learn your proposal. Once I finish, I will call you." Katanya.
Setelah saya menuliskan nomor hp dan no mahasiswa saya, saya pun pamit. Beliau sudah menawarkan untuk makan bersama, tapi karena sudah makan, saya pun langsung mohon izin. 

Rasanya bahagiaaa banget. Ya Allah... Plong banget. Bayangkan tanpa ba bi bu, nanya ini itu, beliau langsung setuju dengan modal hanya mengetahui topik saya saja. Ga ditanya "Apa tujuan penelitiannya? Ambil studi kasus apa? Model gimana?" Bersyukur banget. Dengan cepat Allah menjawab doa saya. Menghilangkan kegalauan saya. Minimal saya sudah tau arah penelitian saya ke depan seperti apa. 

Jadi benar saudara-saudara, tidak pernah merugi sedikit pun jika kita istikharah dan bermusyawarah untuk mencari jawaban tentang apapun. Allah pasti membimbing hati, pikiran, dan langkah kita. Pasti. 
Istikharah tentang apapun. Ga melulu istikharah itu identik dengan jodoh. Apapun itu, istikharah. InsyaAllah lebih berkah dan terarah.

InsyaAllah...

Eits... Cerita belum selesai.
Masih ada kelanjutannya. Masih mau baca kan? *ngarep

Oke lanjut.
Jadi.. Keesokan harinya tanggal 11 september, jam 10.30 pagi saat Afifa baru saja terlelap saat jadwal tidur paginya, tiba-tiba hp saya berbunyi.
Wah nomor dari kampus nih.
"Hello assalamualaikum." Sapa saya.
"Waalaikumsalam.. Mrs Ayuniyyah this is Prof Ataul Huq. I have finished reading your proposal and have made some feedback. Can you come to my office right after Jumat prayer?"
"Sure Prof. Thank you. I will come to your office at 2 pm."
Kemudian telpon ditutup.

MasyaAllah.. I totally did not expect that he would proceed it that fast. Very quickly. Cuma semalam dan langsung kasih feedback.

Jam 2 tepat saya sudah standby di depan ruangan beliau suami dan Afifa ikut mengantar tapi mereka menunggu tidak jauh dari ruangan Prof. Ternyata Prof datang pukul 2.45 siang karena ada masalah yang harus beliau selesaikan.
"Mrs. Ayuniyyah.. Sorry I am late. There is something I need to fix first. This is not so me." Kemudian beliau menceritakan masalahnya. Tentu ga masalah buat saya. Toh saya yang perlu beliau jadi saya harus menghargai jadwal yang beliau tentukan. I have to respect his time. 

"Okay so here are my comments." Bla bla bla.. Beliau menjelaskan saran-saran untuk penelitian saya. Dan ternyata proposal saya dibaca secara detail. Spelling, simbol, dan hal-hal kecil pun beliau komentari. Beberapa term yang harus saya ganti pun beliau beri tahu. Luar biasa. Yes. I did not also expect that he pays attention into the detail. I am sooooooo thankful he does. Really. Berarti beliau benar-benar baca dan masukan beliau memang bertujuan memperbaiki apa yang sudah saya tulis. Alhamdulillah..

Here was the best thing:
"So generally, your proposal is accepted. If you work hard, you can make  it. InsyaAllah." Kata beliau sambil menunjukan kalimat yang tuliskan di akhir proposal saya plus tanda tangan beliau.

Notes from Prof at the end of my proposal page :)

Alhamdulillah ya Rab.. Saya lega banget...

Belum habis rasa syukur saya, beliau pun menambahkan kelegaan saya dengan berkata, "You know the head of department Prof. Norma? Yesterday I met her personally and asked her to be your co-supervisor. And she agreed."

This was definitely the other best things happened on that day!

Ya Allah... RencanaMu sungguh indah. Bayangkan Prof sendiri yang langsung "meminang" co-supervisor untuk saya. Dan itu Prof. Norma... Salah satu dosen yang saya merasa paling dekat. Prof. Norma adalah dosen yang memberikan kepercayaan saya untuk mengajar Business Math langsung di semester pertama saya masuk tanpa ada tes. Prof. Norma juga yang memberikan saran kepada saya untuk mengambil cuti melahirkan. I was so glad I did. That was the best decission I made if I flashback. Prof. Norma pula yang sudah dua kali memberikan rekomendasi aplikasi beasiswa saya. Satu gagal, satu belum ada kejelasan. Yes.. She is the one that has done so many great things to me and now she agrees to be my co supervisor. Isnt it so sweet? I highly appreciate her so much. 

"So sister.. You can now proceed the real proposal. You can start from literature review. What have you done is good, but please you have to add some more and provide the latest and most up to date empirical evidences, especially the case from Indonesia and Malaysia." Kata Prof. Ataul.

"You can see the structure of your brother's thesis. Just follow it." Tambahnya.

Alhamdulillah...

"And what is your CGPA of your degree?"
"3.91 prof."
"Great.. And what about for your master?"
"3.97 prof."
"Great. You must be a good student."
Aamiin.. Tapi itu berarti he has set a high expectation and standard for me.. Hiks. Padahal IPK saya sebenarnya banyaknya karena faktor doa dan keberuntungan juga. Ciyus.. 

Oh ya.. Saya pun sekalian meminta rekomendasi dan tanda tangan beliau untuk aplikasi beasiswa saya. Alhmdulillah beliau pun bersedia dengan menuliskan "Strongly recommend her for scholarship."
His Recommendation :)

Alhamdulillah...

Saya tau.. Ini baru setitik awal perjalanan penelitian saya. Saya pun masih ada 2 matakuliah wajib yang saya ambil semester ini. Mudah-mudahkan ke depannya Allah senantiasa memberkahi serta melancarkan segalanya. I know this is going to be tough one. But with Allah's help, anything is going to be great because He is the Most Powerful. Only to Allah I can rely everything on. And hopefully He counts my effort as my worship to Him and consider me as "fii sabiilillah" or the one who fights for His deen. Aamiin ya Rabbal aalaamiin..

Mohon doanya ya semuanya. Saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya. Bismillahirrahmaanirrahiim...

Itu ceritaku... Sekian dan terima kasih ;)

Love,
Qorry

Posted by Qurroh Ayuniyyah at 23:58 5 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Sunday, 22 June 2014

Still counts. Many years to come.

Alhamdulillah..
Kemarin, kami memasuki tanggal 22 untuk yang ke-6 kalinya bersama suami. 6 bulan bersamanya.. :)
Gak kerasa udah setengah perjalanan di tahun 2014 ini. Dan insya Allah jika ada umur, sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1434H. Semoga Allah mempertemukan kita semua di bulan yang agung dan penuh dengan keistimewaan ini.. Aamiin..

Ramadhan kali ini mungkin akan terasa sedikit berbeda.
Sudah ada suami di sisi, dan insya Allah, saya shaum dalam keadaan hamil 5 bulan, dan memasuki bulan ke-6.
Dan rencana tahun ini, melihat segala situasi dan kondisi yang ada, insya Allah Ramadhan dan Idul Fitri akan kami laksanakan di KL saja. Sebagai gantinya insya Allah keluarga Bogor yang akan datang ke sini.

Perjalanan selama 6 bulan ini penuh dengan pelajaran yang saya rasakan. 
Dan semua logika yang saya miliki sebelum menikah ternyata tidak lagi logis setelah menikah. Hehehe..
Keputusan yang saya ambil untuk tidak mengikuti tes CPNS IPB tahun lalu (padahal ini adalah salah 1 cita-cita saya) baru terasa manfaatnya saat ini. Mungkin jika saya diterima PNS saat awal menikah dan harus LDM dengan suami, karena syarat PNS yang mewajibkan masa abdi selama minimal 2 tahun, saya dan suami akan kesusahan untuk melewati masa-masa perkenalan satu sama lain. Apalagi sebelum menikah, kami bukanlah teman "ring 1" bagi masing-masing. Jadi proses mengenal kepribadian masing-masing benar-benar dijalani setelah kami menikah.

Dan meski seolah-olah cita-cita menjadi dosen terpending, ternyata Allah pun menggantikan hal lain di luar dugaan saya. Saya pun ditawari mengajar mahasiswa S1 di IIUM ini, padahal secara peraturan seharusnya mahasiswa S3 semester 1 belum diperbolehkan menjadi dosen karena ada syarat minimal IPK 3.33. Tapi karena saya alumni IIUM, dan ada dosen yang mengundurkan diri mengajar di sebuah kelas karena alasan kesehatan, maka saya diminta untuk menggantikan beliau. Awalnya saya mau menolak karena saat ditawari saya sudah diterima menjadi asisten riset di sebuah project kampus dan saya mengetahui bahwa saya hamil. Namun setelah istikharah dan diskusi dengan suami dan orang tua, bismillah saya terima tawaran mengajar tersebut.

Alhamdulillah.. Pengalaman mengajar membuat saya belajar banyak.
Justru saat mengajar, sesungguhnya yang mengajar adalah orang yang pertama mendapatkan ilmu. Makanya kalimat, "the more you give, the more you receive" pun terasa benar adanya saat saya mengajar ini. Banyak ilmu yang telah saya lupakan, justru kembali saya ingat dan kuasai saat mengajar. Dan alhamdulillahnya, justru ilmu yang saya ajar ini support mata kuliah yang saya ambil di semester tsb. Pun alhamdulillah, ternyata nilai saya di semester ini pun cukup baik, dan bahkan sedikit di luar dugaan. All praise is to Allah for His bless. Semoga bisa terus dipertahankan hingga semester-semester selanjutnya. Aamiin..

Dan semua ini dapat terlewati terutama dari peran suami yang sangat support saya.
Bersyukur kepada Allah karena mempertemukan saya dengannya. 
Atas cinta, kesabaran, dan pengertian tanpa syarat yang selalu suami berikan kepada saya.
Yang selalu mendoakan saya di dalam setiap shalatnya. Yang selalu berkata, "Sesungguhnya saya meridhaimu, semoga Allah pun ridho padamu." Yang selalu membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yang belum pernah sedikit pun menunjukkan muka tidak suka atas kesalahan yang saya lakukan. Yang dapat menasihati saya dengan caranya yang super lembut. Yang selalu mengatakan bahwa saya cantik meski saya pun sadar saya sedang tidak berpenampilan cantik (hehehe). Yang selalu menjaga dan menangkan saya di tengah kesibukannya mengajar dan menyelesaikan thesisnya. Yang sering menyempatkan menelpon saya hanya untuk sekedar bilang, "Hati-hati ya, ga usah angkat yang berat-berat. Inget dede di dalam perut." 
For everything he does to me, it really means the world to me. I do feel grateful. I really do.

Semoga Allah menjaga keluarga kami. Dan menjadikan kami sebagai manusia yang istiqamah di jalan-Nya. Semoga kami tetap dan semakin saling mencintai, tidak hanya untuk di dunia ini, tetapi kelak hingga di syurga-Nya. Terima kasih suamiku atas segalanya. Kita sama-sama belajar dan terus berusaha yaa :)

Dan perhatian dan doa tak terputus dari Mama, Papa, Emak, Bapak, dan keluarga pun yang tetap saya rasakan hingga saat ini. Kerasa banget. Bener. Sampai-sampai saya dan suami hanya bisa mendoakan atas segala kebaikan dan cinta yang telah mereka berikan pada kami berdua. Terima kasih atas jasa Mama, Papa, Emak, dan Bapak. Semoga Allah selalu berikan kesehatan, keberkahan, dan kasih sayang-Nya kepada mereka semua. Aamiin..

Last but not least...
Buat keluarga, sahabat, dan teman yang belum menikah, kami doakan semoga segera Allah pertemukan dengan jodoh yang diridhai-Nya, yang terbaik di dunia maupun di akhirat. Bagi yang telah menikah, semoga Allah menjadi rumah tangganya sebagai penyejuk hati dan Allah jadikan sebagai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Yuk kita sama-sama saling doakan, dan terus memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik lagi sehingga Allah terus mencintai kita semua. Aamiin..

To my husband..
Our journey is still at the very beginning scene in our story. It has just been 6 months we've been together. Let us learn to love each other more. Let us learn to be a good partner. Let us learn to be a good parent for our children. Let us learn to be a better person. And let us learn to always attract Allah's Love in our life. Remember about our vision to reach His paradise. Remember about our ultimate goal that this marriage is not only for the dunia, but the most important is for the Hereafter.




Posted by Qurroh Ayuniyyah at 18:07 4 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Wednesday, 14 May 2014

Budaya Saling Mengabari


Dari kecil, saya selalu ingat salah satu kebiasaan Papah yang tidak pernah beliau tinggalkan adalah selalu memberikan kabar jika beliau bepergian, ke mana pun. Biasanya beliau bepergian untuk mengisi ceramah ataupun kegiatan lainnya.

Saat saya masih kecil, teknologi belumlah secanggih sekarang. Handphone masih sangat jarang, dan kalaupun ada sebesar ikan mas 1 kilo. Ehehehe.. Jadi dulu komunikasi dilakukan via telepon. Socmed pun  belum heboh seperti sekarang.

Setiap kali Papah sampai di tempat tujuannya, hal yang pertama kali dia lakukan adalah mencari telepon, bisa di hotel, wartel (warung telepon, ini dulu ngehip banget deh :D), atau bahkan telepon umum (yang pake koin atau kartu).

“Kring… Kring…” telepon rumah pun berbunyi.
Biasanya Mamah atau kakak yang angkat telepon. Papah pun mengabari kalau Papah sudah sampai. Beliau pun menanyakan tentang aktivitas yang sedang kami lakukan. Lucunya, setiap anak pasti kebagian jatah telepon. Misalnya Mamah yang pertama kali jawab telepon. Kemudian mereka mengobrol sebentar. Lalu telepon beralih ke kakak pertama, A Irfan, lalu ke A Iman, A Imad, Teh Okty, dan kemudian saya yang paling bungsu.

“Dede lagi apa? Udah makan belum? Ini papah udah sampe. Gimana tadi di sekolah?” pertanyaan-pertanyaan ringan seperti itulah yang beliau tanyakan. Pun kepada para kakak.

Ketika zaman sudah mulai berubah, ketika handphone sudah seperti “a must thing to have”, komunikasi dalam keluarga pun semakin intens. Saya ingat, pertama kali punya handphone kelas 2 SMP. Awalnya ngerasa gaya, tapi ternyata justru alat tersebut dijadikan Papah dan Mamah sebagai “pengontrol” keadaan kami semua.

Kalau maghrib belum sampai rumah (dari SMP hingga kuliah), pasti ditelpon, dipastikan pulangnya dengan siapa. Dan pada akhirnya lebih sering Papah, Mamah, atau kakak yang jemput.

Saat Papah bepergian ke luar negeri pun, pasti beliau selalu memberikan kabar kepada kami. Isi sms pun sama, tapi dikirim ke semua anggota keluarga (bahkan saat kami sudah memiliki pasangan suami atau istri, para mantunya pun diberikan kabar).

Misalnya, “Alhamdulillah Papah sudah sampai di Qatar, di sini dijamu dengan fasilitas nomor satu. Alhamdulillah…”  *Tring… Sms pun dikirim ke semua orang. Meski kadangan kami semua para anaknya sedang berada di dalam ruangan yang sama. “Tuh pasti dari papah, soalnya semua handphone bunyi.” Kata A Imad. Dan kami semua pun tertawa :D Akhirnya biaya bulanan telepon Papah pasti membengkak karena tidak jarang beliau bepergian ke luar negeri dan masih tetap menggunakan provider dalam negeri.

Meskipun saya sekarang di Kuala Lumpur bersama suami saya. Hampir setiap hari, kami pun ditanyai kabar, lalu diberikan kabar dari beliau. Misalnya baru saja tadi pagi beliau sms kepada saya, “De… coba lihat twit Papah pagi ini. Bagus ga?” :D

Dan kami selalu bahagia mendapatkan perhatian dan kabar rutin seperti itu dari Papah dan juga Mamah. Bagi kami, sms-sms tersebut adalah hal yang justru menjadi salah satu alasan kami untuk tersenyum, dan bahkan dapat men-charge up semangat kami ;D

Dari situ saya belajar bahwa komunikasi merupakan bagian penting dalam sebuah keluarga. Tanpa adanya komunikasi yang baik rasanya mustahil semua pihak dalam keluarga akan merasa nyaman.

Sikap Papah yang selalu mengabari dan menanyakan kabar para anaknya dari kami kecil hingga seusia ini pun mencerminkan bahwa sampai kapanpun orang tua akan terus memperhatikan anaknya. Sikap beliau membuat kami merasa diperhatikan, diawasi, dan terlebih, dicintai. Bahwa kami adalah orang pertama yang beliau anggap paling penting untuk diberikan kabar. Bahwa kami adalah orang yang sangat ditunggu cerita dan kabarnya.

Dari teknologi telekomunikasi yang belum canggih, hingga saat ini, saya rasa esensi sikap Papah yang selalu mengabari dan menanyakan kabar menyimpan berjuta pelajaran. Pelajaran yang amat berharga. Contoh yang sangat nyata.

Alhamdulillah…
Dari beliau saya belajar.
Dari beliau saya menjadi tau.
Bahwa menjaga komunikasi dalam keluarga amatlah penting.
Bahwa dari sikap menjaga komunikasi, akan timbul rasa percaya, akan timbul rasa tanggung jawab, dan akan timbul rasa cinta.

Sekarang, yang saya dan suami lakukan pun seperti itu.
Kami selalu membiasakan saling memberikan kabar. Sebelum berangkat, kami akan saling tau apa agenda kami pada hari itu. Kalau suami sudah sampai sekolah, pasti beliau mengabari. Kalau saya berangkat ke kampus dan sudah sampai kampus pun saya pasti mengabari. Suami pun sering sekali menelepon saya di sela-sela waktu kosongnya, hanya untuk menanyakan, “Sayang lagi apa? Udah makan belum? Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kabari ya.” Jujur hal tersebut akan membuat kami saling terbuka dan saling percaya. Dari rasa “saling” tersebut akan timbul kesadaran untuk menjaga sikap kami. Bahwa saya sudah bersuami, dan bahwa beliau beristri.

Pun kami selalu menjadwalkan untuk menelepon keluarga di tanah air minimal satu minggu dua kali. Memberikan kabar kami kepada keluarga, dan in return, kami pun mengetahui kabar mereka..


Semoga bermanfaat.
Posted by Qurroh Ayuniyyah at 02:19 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Friday, 4 April 2014

Pemilu oh Pemilu

Akhir-akhir ini Indonesia tengah hangat dengan berita Pemilu. Bukan hangat lagi, tapi sedikit panas malahan. Ehehehe.. Yup, gimana engga, udah tinggal menghitung hari, negara kita akan "berpesta" demokrasi dengan memilih para calon wakil rakyat yang akan duduk di bangku legislatif tanggal 9 April besok. Mereka yang terpilih kelak, akan mewakili "suara-suara" kita, inspirasi kita, ide-ide kita. They actually will represent us for our country. Ngeri ya? Hehehe..

Kalau di luar negeri, Pemilu diadakan sebelum tanggal 9 April.
Misalnya di Canberra, informasi dari Ais temen saya di sana, Pemilu diadakan tanggal 5 April hari ini. Kalau di sebagian Kuala Kumpur, insya Allah Pemilu legislatif ini diadakan besok. Iyaaa... Saya besok akan nyoblos! Yeayy! *kegirangan sendiri

Akan ada 12 partai yang "bertarung" untuk mendapatkan tempat di kursi legislatif. Tiap partai tersebut mengusung calon-calon mereka berdasarkan daerah pemilihan, mulai dari tingkat kota, kabupaten, hingga tingkat nasional. 

Kalau saya perhatikan lewat media massa atau social media kaya twitter, FB, path, dll, tiap-tiap partai tersebut punya aksi kampanye untuk mengusung calon-calon dari partai mereka. Ditambah ada juga kritikan-kritikan bagi partai atau calon yang diusung partai dengan kritikan yang beraneka ragam, mulai dari kritikan halus, sampe kritikan pedes kaya cabe rawit.

Tapi ada pula sekelompok orang-orang yang memilih bersikap apatis. Dengan alasan tidak ada partai yang cocok, kelompok ini memilih jalur lain yaitu untuk tidak memilih saat Pemilu nanti. Menurut mereka, "tidak memilih" ini pun merupakan hak politik.

Hmm.. Kalau menurut saya, aktif berpartisipasi dalam Pemilu tadi merupakan hak sekaligus kewajiban bagi pribadi masing-masing sebagai bentuk rasa tanggung jawab kita terhadap keberlangsungan negara kita. Kenapa? Bayangkan para caleg yang bertarung di ajang Pemilu ini adalah mereka yang kelak akan menentukan kebijakan strategis di negara kita. Nantinya kebijakan ini tentunya akan berpengaruh nyata bagi kehidupan kita, dan juga bagi anak cucu kita kelak.. *elus-elus perut.

Misalnya, UU tentang pendidikan, agama, hak bernegara, politik, dll akan ditentukan oleh para wakil rakyat kita di DPR. Kira-kira penting ga sih? Apakah kita mau tidak peduli dan bersikap ignorant dengan sesuatu yang nantinya akan sangat berkaitan dan berpengaruh buat kehidupan kita dan manusia Indonesia saat ini dan saat nanti? Well, ask our heart, and we must already know the answer.

Jadi, saya rasa, alangkah tidak bijaknya kalau kita tidak memanfaatkan hak pilih kita.
Janganlah ngaku-ngaku cinta Indonesia, punya nasionalisme tinggi, tapi giliran dikasih hak yang sangat krusial, tapi ga dipake. Iya kan? ;)

Nah, tapi tentunya, untuk memanfaatkan pilihan tersebut, kita harus jadi pemilih yang cerdas. Yaitu pemilih yang memilih berdasarkan ilmu. Gak percaya buta gitu aja, atau malah ikut-ikutan. Jadi, kita paham betul apa yang kita pilih, siapa yang kita percayakan untuk duduk di DPR mewakili kita.

Iya benar memang ga ada partai yang sempurna saat ini. Namanya kumpulan manusia, pasti sumbernya salah. Kalau ideal terus, bener terus, itu mah malaikat. Kita manusia kan, bukan malaikat? Coba cek punggungnya, ada sayap apa engga? :p

Nah, menurut saya, ada tiga hal yang bisa kita persiapkan untuk menjadi pemilih cerdas. 

Pertama, pelajari dulu partai-partai yang ada. 
Mulai dari ideologi yang mereka miliki, visi dan misi yang mereka usung. Sesuai ga sih dengan keyakinan dan worldview kita?  Pelajari juga sepak terjang mereka. Apa yang udah mereka lakukan selama ini? Korupsikah mereka? Banyak merugikan kah mereka? Rasanya informasi saat ini udah banyak menampilkan fakta-fakta tentang hal tersebut. Masa masih percaya sama partai yang kasus korupsinya banyak? Iya ga sih? ;) Pelajari juga kontribusi mereka selama ini. Apa hanya selama Pemilu aja jadi tetiba baik, ataukah whatever happen they still contribute regardless of any thinking would it give any benefit in return form them?

Kedua, liat cara kampanye dari partai-partai tersebut.
Apakah cara kampanyenya sesuai atau tidak? Misalnya, cara kampanye dengan kasih suap uang ke calon pemilih. Percaya deh, kalau udah kampanyenya bagi-bagi uang, pasti saat mereka terpilih nanti, mereka akan cari cara untuk membalikan "modal" yang mereka keuarkan saat kampanye. Ya iyalah, rugi bandar lah. Ya wajar kalau yang kaya gitu tetep dipilih, korupsi pasti akan merajalela nantinya. Maka kalau ada yang mau kasih uang, jangan pilih orangnya, terus laporin deh :D contoh lain, kalau kampanyenya hanya menggembor-gemborkan aksi-aksi yang (maaf) berbau-bau pornografi, udah deh say goodbye. Apa sih yang diharapkan dari aksi kampanye seperti itu? Liatnya aja saya malu dan sedih :(

Ketiga, istikharahlah sama Allah.
Emangnya cuma cari jodoh aja yang perlu istikharah? Hhehe... Memilih pemimpin dan wakil kita pun harus donk. Karena Allah lah yang paling tau apa yang terbaik. Dialah sumber dari segala sumber kebenaran. Jadi, melibatkan Allah dalam setiap pilihan kita merupakan kebutuhan kita. Iya kan?

Kalau kata Aa Gym, "Partai tidak ada yang sempurna. Maka pilihlah yang banyak patuhnya, yang sedikit pelanggarannya, dan yang tidak tergantung pada figur."

Kalau kata Dr. M. Natsir, "Umat Islam tidak boleh buta politik. Siapa yang buta politik, akan dimakan politik itu."

Jadi, buat seluruh sahabatku setanah air, yuk kita manfaatkan suara dan hak pilih kita untuk  Pemilu nanti. Yuk jadi pemilih yang cerdas. Semoga Indonesia kelak akan memiliki pemimpin yang adil, jujur, dan sayang sama rakyatnya. Aamiin..

Happy voting! ;)



Posted by Qurroh Ayuniyyah at 22:22 2 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Saturday, 22 March 2014

Pernikahan (Part 5 - Selesai)


Tanggal 22 Desember pun datang begitu cepat.
Semua persiapan dijalankan dengan sepenuh hati dan semaksimal yang kami dapat lakukan.
Kami tidak menggunakan jasa wedding organizer, karena pihak keluarga dan sahabat-sahabat Papah Mamah siap membantu. Alhamdulillah… Banyak sekali pihak yang membantu keberlangsungan acara pernikahan kami. Atas jasa mereka yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, saya ucapkan terima kasih.  Semoga Allah yang senantiasa membalas kebaikan mereka dengan balasan yang berlipat ganda. Aamiin…


Para Vendor

Vendor yang kami gunakan kebanyakan yang pernah menjadi vendor pernikahan Teh Okty tanggal 4 Juli 2011 yang lalu. Saya akan berikan list para vendor pernikahan saya sebagai bahan referensi temen-temen. Siapa tau diperlukan.  Alhamdulillah saya merasa puas dengan hasil kerja para vendor. They did their job amazingly professional.

Pertama, tempat. Kami gunakan tempat di IPB International Convention Center, karena letaknya yang startegis sehingga mudah dijangkau oleh tamu-tamu dari Bogor, Jakarta, Sukabumi, Bandung, dan kota-kota lainya. Acara akad dan resepsi pun dilakukan di tempat ini.

Kedua, catering. Nah… Catering merupakan salah satu “nyawa” utama di dalam resepsi pernikahan, karena inilah salah satu bentuk penghargaan kami kepada tamu yang telah rela menyempatkan hadir ke acara pernikahan kami. Pilihan jatuh kepada Dwi Tunggal Citra catering.

Ketiga, dekorasi. Vendor yang dipilih adalah Gutama. Alhamdulillah, Om Ino sebagai CP dari Gutama berhasil membuat dekorasi yang sesuai dengan harapan kami.

Keempat, dokumentasi. Berdasarkan rekomendasi Teh Okty, saya menggunakan jasa apa yaa…. Oh ya... GLpicture dari Bogor. They did well too.

Kelima, rias pengantin dan keluarga. Kami menggunakan jasa tante Daisy dan tim dari Rumah Pengantin, Bogor untuk mempercantik kami. Alhamdulillah kami selalu puas dengan jasa tante Daisy and the gank.

Keenam, baju pengantin dan keluarga inti. Kami menggunakan jasa Mba Ayu Dyah Andari. Saya “menemukan” Mba Ayu ini pada acara festival Jakarta Islamic Fashion Week di JCC. Saya langsung merasa klik saat melihat koleksi-koleksinya. Akhirnya kami janjian di showroom-nya yang berlokasi di Cibubur. Baju pernikahan saya sewa, sedangkan untuk keluarga inti didesign dan dijait baru. You may also see her through twitter.

Ketujuh, jilbab pengantin. Saya gunakan jasa Cahya Meytasari atas rekomendasi Mba Ayu. I was satisfied with her work. She’s still young yet shining. Hihihi… You may also see her twitter as well ;)


Para Pengisi Acara

Keberlangsungan acara pun tentunya karena didukung oleh para pengisi acara. Alhamdulillah Pak Waladan selaku MC selalu memberikan performanya yang terbaik. Beliau telah menjadi MC pernikahan keluarga kami sejak pernikahan A Irfan. Jadi lima kali sudah kami menggunakan jasa beliau.

Kekhidmatan acara akad nikah diawali dengan pembacaan Al-Quran dari Ustad Drs. H. Mahfudz Quraisy, seorang al-hafidz. Masya Allah, suaranya begitu merdu, sehingga suasana sakral pun berhasil diciptakan sedari awal acara. Saritilawah adalah A Imad.

Ijab Kabul pun dilaksanakan dan dipandu oleh Na’ib Bapak Drs. Jamaluddin dari KUA Kota Bogor. Atas permintaan Papah, pembacaan Ijab Kabul dilakukan menggunakan bahasa Arab. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Saat sah, dan saya resmi menjadi istri dari Hambari Nursalam, na’ib pun mendoakan agar keberkahan senantiasa melimpahkan keberkahan atas pernikahan kami.

Selain emas, suami pun memberikan hafalan QS. Ar-Rahman sebagai mahar pernikahan. Oleh karena itu, begitu ijab Kabul selesai dilaksanakan, beliau segera membacakan QS. Ar-Rahman yang diperdengarkan pada acara tersebut. Alhamdulillah… Ternyata suami lancar membacakan ayat-ayat cinta tersebut.

Yang tidak kalah penting tentunya adalah nasihat pernikahan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Nassaruddin Umar (Wakil Menteri Agama RI) setelah proses penyerahan mahar dan penandatangan dokumen pernikahan. Masya Allah... Begitu indah nasihat-nasihat yang beliau paparkan.

“Selesaikanlah semua masalah yang Ananda berdua hadapi di atas sajadah...
Jadikan keturunan Ananda berdua tidak hanya sebagai keturunan biologis, tetapi juga sebagai keturunan ideologis, yaitu keturunan yang dapat menjadi pendakwah, penyampai nilai-nilai agama dan kebaikan.”

Bahkan saat beliau menyampaikan nasihat tersebut, saya mendengar beberapa tamu menyerukan takbir, karena merasa begitu hanyut dalam nasihat yang beliau sampaikan. Masya Allah...

Acara akad pun disempurnakan oleh pembacaan doa khutbah nikah yang disampaikan oleh Ustad Yusuf Mansur. Masya Allah... Doa yang beliau sampaikan begitu indah, lengkap, dan menyeluruh. Yang didoakan tidak hanya pengantin, tapi juga yang hadir di acara kami, bahkan seluruh masyarakat Indonesia dan umat sedunia.

Ada satu moment lucu ketika Ustad YM membaca doa. Saat Ustad YM berdoa yang isinya, “Ya Allah... Semoga yang belum memiliki jodoh segera dipertemukan dengan jodohnya...” Seketika para tamu undangan yang banyak terdiri dari para bujang yang masih single and available pun merespon, “Aamiin...” dengan volume yang membahana seluruh ruangan. Hehehehe lucu deh. Alhamdulillah prosesi akad nikah berjalan lancar dan khidmat sesuai dengan apa yang kami impikan.

Selang kira-kira dua jam pasca akad nikah, resepsi pernikahan pun diadakan. Saat resepsi dimulai, pemberi sambutan atas nama keluarga adalah A Irfan dan dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Ustad Ibdalsyah. Subhanallah, doa dari Ustad Ibdalsyah pun tidak kalah indah dan menyentuh. Alhamdulillah...

Selama resepsi berlangsung, mulai dari kami masuk, kami diiringi oleh pemain musik yang terdiri dari satu vokalis, pianis, violist, and pemain bas betot yang kesemuanya laki-laki. Alhamdulillah, lagu-lagu religi pun menemani selama tiga jam resepsi berlangsung.

Para Tamu

Alhamdulillah... Yang paling membahagiakan tentu saja doa dan kehadiran para tamu undangan. Sekitar 300 orang hadir saat akad, dan hampir 2000 orang hadir saat resepsi. Data ini kami terima setelah acara, dari vendor gedung yang memang menghitung menggunakan checker setiap para tamu yang hadir. Souvenir 1000 buah buku al-matsurat pun habis, bahkan sebagian tamu ada yang tidak kebagian...

Tamu yang hadir mulai dari keluarga besar dari Papah, Mamah, dan keluarga Kak Hambari.  Keluarga dari Amerika dan Qatar pun bahkan menyempatkan hadir. Sengaja mereka pulang beberapa minggu hanya untuk menghadiri acara pernikahan kami. Terharu. Keluarga dari Sukabumi, Bandung, dan luar kota lainnya pun hadir. Belum lagi keluarga dan kerabat dari Bogor.

Rasa haru pun lagi-lagi muncul saat tau para sahabat dan kerabat banyak sekali yang hadir. Keluarga Bunda Ning dari KL yang sengaja datang ke Bogor selama 3 hari khusus menghadiri acara pernikahan kami. Begitu pula Kak Sumayyah Abdul Azis dan kedua orang tuanya dari Melaka, Malaysia hadir khusus untuk kami. Ada juga Tita dari KL, Mba Sist dari Yogjakarta, Secha dari Jakarta dan sahabat-sahabat IIUM lainnya.

Sahabat lainnya pun hadir, seperti the Mafia, Ka Renny, C6, sahabat dari SD, SMP, SMA, dan IPB. Bahkan sebagian ada yang hadir bersama dengan orang tua dan keluarga mereka. Berasa reuni. Para guru dan dosen yang kami undang pun sebagian besar pun hadir. Lalu beberapa teman dari group ODOJ 119 pun hadir. Teman-teman dari Jakarta dan Bandung pun turut hadir. Terharu. Terharu sekali.

Tamu undangan Papah pun hadir, seperti para pengurus dan amilin BAZNAS, BRI Syariah, IPB, UIKA, MUI, Bapak Ary Ginanjar Agustian dan keluarga, Bapak Sandiaga S. Uno, dan masiiihhh banyak lagi pun hadir. Alhamdulillah... All paraise is to Allah..

Moment yang membuat saya bahagia saat resepsi salah satunya adalah saat adzan dzuhur, alhamdulillah kami bisa break sekitar 10 menit. Kami yang berada di pelaminan pun berkesempatan untuk shalat dzuhur sehingga kami tidak mengundur-ngundurkan waktu shalat. Alhamdulillah...

Epilog

Begitulah ceritanya mulai dari proses kami taaruf hingga menuju pelaminan.
Alhamdulillah, dua minggu setelah kami menikah, saya turut suami ke Kuala Lumpur. Saya melanjutkan kuliah S3 di IIUM, dan suami sedang mengerjakan thesisnya sambil mengajar.

Sengaja saya ceritakan kepada teman-teman semua untuk memberikan gambaran bahwa melalui proses yang seperti kami lakukan pun insya Allah bisa sampai ke pelaminan, asalkan kita selalu berniat baik dan melibatkan Allah di dalam setiap hal.

Tiga bulan. Masih seumur jagung pernikahan kami. Kami masih sama-sama belajar dalam mebangun rumah tangga kami. Saling adaptasi, saling menerima, dan saling mengingatkan satu sama lain.

Mudah-mudahan saya dan suami menjadi keluarga sakinah mawadah wa rahmah, dan berjodoh tidak hanya di dunia ini, tapi kelak hingga di syurga-Nya nanti. Aamiin...

*the end
Posted by Qurroh Ayuniyyah at 04:29 16 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Pernikahan
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Followers

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  January (2)
      • Zona G Pekan ke-2
      • Zona G
  • ►  2020 (40)
    • ►  December (1)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (12)
    • ►  March (9)
    • ►  February (5)
    • ►  January (4)
  • ►  2019 (2)
    • ►  December (2)
  • ►  2018 (60)
    • ►  August (1)
    • ►  July (15)
    • ►  June (2)
    • ►  May (19)
    • ►  April (10)
    • ►  March (6)
    • ►  February (5)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (114)
    • ►  December (9)
    • ►  November (19)
    • ►  October (7)
    • ►  September (18)
    • ►  August (14)
    • ►  July (13)
    • ►  June (10)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (9)
    • ►  February (6)
    • ►  January (7)
  • ►  2016 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (7)
  • ►  2013 (8)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2012 (32)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (14)
    • ►  May (5)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (9)
    • ►  December (8)
    • ►  September (1)

About Me

My photo
Qurroh Ayuniyyah
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Qurroh Ayuniyyah yang akrab dipanggil Qorry menerima gelar sarjana, master dan Ph.D dari Departemen Ilmu Ekonomi IPB University (S1) dan International Islamic University Malaysia (IIUM untuk S2 dan S3) pada tahun 2010, 2013 dan 2019. Ia dianugerahi penghargaan “Lulusan Terbaik Sarjana tingkat Universitas IPB”, “Best Student Award for Master of Economics IIUM” dan “Best Student Award for PhD in Kulliyyah of Economics and Management Sciences IIUM” pada saat wisuda di ketiga tahun tersebut. Ia saat ini menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Magister Ekonomi Syariah di Sekolah Pascasarja Universitas Ibn Khaldun Bogor sejak 22 Juni 2020 sekaligus menjadi dosen di sana. Selain pernah menjadi asisten dosen dan asisten peneliti semasa kuliah di IPB dan IIUM, wanita kelahiran tanggal 27 Februari 1988 itu pun aktif menulis dan mempresentasikan karya tulisnya di bidang zakat, wakaf, ekonomi dan keuangan syariah di berbagai conference baik tingkat nasional dan internasional. Ia diamanahi sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia periode 2018-2020, sebuah organisasi Muslimah Indonesia di Malaysia yang bergerak di bidang pendidikan, agama, dan sosial.
View my complete profile
Simple theme. Powered by Blogger.