Friday, 21 July 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak Part 6

Masih tentang kaos kaki dan sepatu 😅😅 Hari Jumat tanggal 21 Juli 2017 saya memiliki agenda yang sangat full di luar kampus. 

Saya ada rapat jam 8.30 di daerah Kampung Baru sekitar 20 km dari kampus kemudian mengisi halaqah adik-adik pekerja kilang di daerah Sg Wei jam 12.00 siang. Awalnya saya mau mengajak Afifa, tapi saya berpikir khawatir Afifa malah makannya keteteran dan dia malah sakit jadi akhirnya saya memutuskan untuk mengantarnya ke Educare dulu.

Pukul 7.10 pagi Afifa bangun. 
A: "Mah, Afifa mau ke sekolah mah.."
M: "alhamdulillah terima kasih sayang. Iya Afifa ke sekolah hari ini ketemu teacher dan temen-temen Afifa."
A: "Afifa mandi dulu. Bau ketek." 
M: "hahahahahahaha.. yuk mandi.."

Setelah mandi, pakai baju dan pakai kerudung, tibalah saatnya dia memakai kaos kaki. 

M: "Ayo sayang pakai kaos kakinya.."
A: "Afifa gabisa mah.." (udah hari ke-6 dan masih aja menolak.. 😭)
M: "Afifa pasti bisa, ayo berusaha dulu.. kemarin bisa.."
A: "Susah mah.."
M: "Yuk kita baca cerita si Sali yang judulnya 'Aku Bisa Pakai Baju Sendiri' yuk.."
A: (looks so excited)
M: (Bacakan cerita, kemudian ada bagian dimana Sali pakai sepatu tapi sebelumnya saya tambahkan scence Sali pakai kaos kaki sendiri hehehe). "Nah Sali kalau berusaha bisa pakai kaos kaki sendiri.. Afifa juga bisa.."
A: (she tried but still found it hard to do it. She tried again like for two times and still unabled to do it) "Gak bisa mah.. mamah aja.."
M: (akhirnya membantu sambil mengajarkan caranya)

Begitulah.. bahkan sudah hari ke-6 tapi Afifa masih belum mau dan belum melakukan effort lebih supaya bisa. Sepertinya saya harus cari cara bagaimana yang efektif mengajarkan hal ini. Paling tidak semangat juang Afifa yang tidak mudah menyerah itu yang harus saya bangun.. 

PR Mama masih banyak 😭

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari

Thursday, 20 July 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak Part 5

Hari Kamis tanggal 20 Juli 2017 bertepatan dengan 26 Syawal 1438H daycare Afifa mengadakan acara Eid Celebration. Kami para orang tua diminta untuk memakaikan baju hari raya untuk anak kami dan membawa kue raya yang akan dimakan bersama-sama dengan para teachers dan juga teman-teman yang lain.

Malamnya saya menyiapkan baju princess warna pink kesukaan Afifa. Saya setrika agar tampak rapi plus jilbab mecingnya sebagai pelengkap pakaiannya esok hari. Tak lupa saya siapkan pula kaos kaki warna pink agar benar-benar mensupport penampilannya hari esok.

Alhamdulillah pagi itu Afifa bangun tepat waktu. Langsung dimandikan dan makan sarapan yang telah saya sediakan dengan baik. Segelas susu pun dia habiskan dengan baik.

Tiba saatnya memakai kaos kaki. Lagi-lagi Afifa menolak untuk memakainya sendiri.

M: "Ayo sayang, Afifa kan udah bisa kemarin. Masih inget kan cerita Sali yang bisa pakai baju, kaos kaki dan sepatunya sendiri?"
A: "Afifa gak mau mah.."
M: "Ayo berusaha dulu sayang. Pasti bisa.."
A: (berusaha memakai kaos kakinya sendiri.. setelah 5 menit, belum juga kaos kakinya berhasil dia masukkan ke dalam kakinya). "Gak bisa mah.."
M: "Ini Mama bantu pakaikan sampai ujungnya aja ya, Afifa lanjutkan kemudian." 
A: (akhirnya sukses memakai kaos kaki sebelah kanannya). 
M: "Ayo satu lagi yang kiri sayang.."
A: "Gak mau mah.." (menyerah)
M: "Ayo semangat sayang." (Sambil mengarahkan ujung kakinya ke dalam lubang).
A: (melanjutkan tapi tetap 'keukeuh' minta dibantu, akhirnya sukses juga)
M: "Terima kasih sayang sudah berusaha. Besok berusaha lebih keras lagi ya? I love you.."
A: "ilefyu.." (maksudnya I love you juga)

Hihi begitulah.. this is indeed something for her. She needs to learn to be determined and not easily to give up.
Semangat sayang.. ❤️❤️

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari

Wednesday, 19 July 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak Part 4

Fokus utama pada tantangan level 2 minggu ini masih tentang memakai kaos kaki sendiri. Seperti biasa pagi ini saya harus berangkat ke kampus dan Afifa pun ikut untuk saya titipkan di Educare. 

M: "Afifa ayo pakai kaos kakinya.."
A: (sedikit ragu untuk mencoba)
M: "Ayo nak Afifa bisa.." saya pun menyemangati..
A: (Berusaha beberapa kali dan akhirnya sukses memakai kaos kaki sebelah kanan)
M: "Alhamdulillah.. ayo satu lagi nak... Semangat!!"
A: "Afifa cape mah.." (mukanya memelas)
M: "Baik, karena Afifa sudah berusaha di kaki kanan, Mama bantu yang kaki kiri ya. Terima kasih sudah berusaha sayaang.." (akhirnya saya bantu memasangkan kaos kakinya yang sebelah kiri)

Paling tidak sudah ada kemajuan satu kaki sukses dia pakaikan kaos kakinya sendiri. Yang lucu adalah karena saya agak terburu-buru karena mobil pesanan sudah hampir sampai, saya tidak sadar ternyata Afifa memakai sepatunya terbalik. Hihi... Maafin Mama ya nak yang sedikit luput :D


 

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari

Monday, 17 July 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak Part 3

Hari ini Afifa alhamdulillah sukses menghabiskan sarapannya sendiri. Tapi saat dia akan memakai kaos kaki, dia menolak untuk memakai kaos kakinya sendiri.

Afifa : "Afifa gak bisa mah.." (maksudnya Afifa gak bisa pakai kaos kaki sendiri)
Me : "Afifa bisa nak, ayo berusaha dulu. Pasti bisa.." (sambil menyemangatinya)
Afifa: "Gak bisa..." (sedikit merajuk dan kemudian melempar kaos kakinya)
Me: "Oke sini Mama bantu ya masukkan ujung kaki Afifa ke dalam lubang kaos kakinya.."
Afifa: "Gak bisaaa...." (tetap keukeuh gak mau berusaha pakai kaos kakinya sendiri)
Me: "Oke sini Mama bantu, tapi liat ya caranya. Nih seperti ini... Mudah kan?" (akhirnya saya pakaikan sambil mengajarinya bagaimana cara memakai kaos kakinya).

Hiks padahal kemarin sudah cukup sukses lho Afifa pakai kaos kaki sendiri. Sepertinya saya harus lebih konsisten dan komitmen lagi untuk menyemangatinya pakai kaos kakinya sendiri. 
 
#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari

Sunday, 16 July 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak Part 2

Setelah selang dua hari dari postingan pertama tentang skill apa yang ingin saya fokuskan untuk dikembangkan pada Afifa, sepertinya skill makan sendiri dan pakai kaos kaki serta sepatu adalah dua skills yang lebih difokuskan pada minggu ini.

Weekend ini kami sekeluarga punya agenda yang cukup full. Hari Sabtu kami ada agenda silaturahim di dua tempat pagi dan sore, dan Hari Ahad kami ada agenda kajian Ust Adi Hidayat di KBRI Kuala Lumpur.

Seperti biasa setelah memakai baju, saya meminta Afifa untuk memakai kaos kaki sendiri. Afifa nampak kesusahan untuk memasukkan pertama kali ujung kakinya ke dalam lubang kaos kaki. Setelah tiga kali berusaha, dia nampak putus asa dengan berkata, "Afifa ga bisa mah.." kemudian saya semangati dia, namun dia tetap kesusahan. Akhirnya saya bantu untuk mengarahkan ujung kakinya untuk masuk ke dalam lubang kaos kakinya. Baru setelahnya dia lancar untuk memakai kaos kakinya secara sempurna. Alhamdulillah:")


Afifa pakai kaos kaki


Setelah itu kami pun keluar. Saya biarkan Afifa memakai sepatunya sendiri. Alhamdulillah dia sudah lancar memakai sepatunya tanpa terbalik antara kaki kanan dan kaki kiri. Pun saat pulang ke rumah, dia sudah bagus sekali dalam hal membuka sepatu dan menaruhnya di rak :)

Terkait dengan makan sendiri, ini yg terkadang masih saya bantu. Misalnya setengahnya dia makan sendiri, kemudian selanjutnya saya bantu untuk saya suapi. Huhuhu masih belum sukses 100 persen. Harus lebih berusaha lagi ;)


Afifa Makan Sendiri

Makan Nasi dan Ayam Goreng



#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari

Thursday, 13 July 2017

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak Part 1

Game level 2 kelas Bunda Sayang IIP ini cukup bikin galau 😅 Pasalnya kami diminta untuk melatih kemandirian anak, yaitu kami melatih satu kemampuan di dalam satu minggu dan maksimal empat kemampuan di dalam sebulan.

Ada beberapa prioritas kemandirian yang ingin saya terapkan kepada Afifa (2 tahun 7 bulan) sebelum game level 2 ini dipublish.

Pertama, toilet training. Iya saya tau ini sudah sangat telat. Entah kenapa saya yang belum siap untuk memulai praktek TT secara total. Dalam artian alhamdulillah Afifa sudah BAB di toilet, tapi untuk BAK belum. Saya belum siap untuk itu. Padahal saya sudah sounding kepada Afifa tentang Masalah TT ini sejak ia berusia dua taun (setelah penyapihan sukses). Sounding yang saya lakukan adalah dengan membacakan buku TT setiap hari. Masalahnya saya harus ngampus setiap senin sampai jumat untuk mengerjakan disertasi saya. Itulah yang bikin saya maju mundur.. akhir bulan ini ada deadline pula :"(

Buku TT untuk Afifa


Kedua, makan sendiri. Afifa tetap harus saya bantu suapi, meski sebenarnya ia sudah bisa sendiri. Tapi jumlahnya jadi lebih sedikit. Alhasil saya melakukan mix mode dimana setengah jalan Afifa makan sendiri, kemudian sisanya saya yang suapi. Video ini diambil pada saat sarapan kemarin. Sengaja saya siapkan nasi goreng karena relatif mudah untuk dimakan sendiri. Alhamdulillah sukses makan sendiri, tapi tiga suapan terakhir saya suapi. Huhuhu..


Afifa Makan Nasi Goreng

Nasi Goreng simpel


Ketiga, memakai dan membuka kaos kaki sendiri. Afifa masih belum bisa melakukan langkah pertama untuk pakai kaos kaki sendiri yaitu saat lubang atas kaos kaki masuk ke dalam ujung kaki. Hal ini masih saya bantu.

Keempat, memakai dan membuka sepatu sendiri. Setelah itu menyimpan sepatu di rak sepatu. Skill ini sudah cukup Afifa kuasai dengan baik.

Bismillah.. semoga saya bisa istiqamah yaa :")

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari



Monday, 10 July 2017

Pernikahan (Sebuah Aliran Rasa Komunikasi Produktif)

It takes two people in a marriage to make it works.

Seorang bijak mengatakannya. Artinya ketika kita berbicara tentang pernikahan, maka fokus utama kita bukanlah lagi tentang diri kita sendiri saja, melainkan diri kita bersama dengan pasangan kita.

Dulu sekali jauh sebelum menikah, saya pikir modal utama pernikahan hanyalah sebatas cinta dalam konteks sempit alias romantisme belaka tanpa ada dasar kuat yang menjadi pondasi dari cinta itu sendiri. Bahwa pernikahan adalah kita bisa "berpacaran" secara halal dengan pasangan kita tanpa merasa takut akan berbuat dosa, karena yang ada malah berpahala :") Memang benar, tapi bukan semata-mata tentang itu.

Ternyata pernikahan jauh lebih besar dan lebih agung. Ianya disebut oleh Sang Maha Cinta sebagai "mitsaqon gholidzo" alias tali ikatan yang kuat di dalam beberapa ayat Al-Quran.

Setelah membangun rumah tangga bersama suami hampir empat tahun lamanya, ternyata ada beberapa pondasi dan nilai utama yang harus menjiwai sebuah pernikahan agar pernikahan kita berkah dan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah sebagaimana yang ada di dalam QS. Ar Rum ayat 21.

Pertama, pernikahan harus dilandasi oleh agama. Artinya kita harus meniatkan bahwa pernikahan merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika pernikahan telah kita niatkan sebagai ibadah, insyaAllah kita tidak akan mudah berputus asa saat menghadapi berbagai tantangan di dalam rumah tangga kita.

Mustahil sebuah rumah tangga tanpa menghadapi masalah. Karena memang masalah ada sebagai bentuk ujian bagi kita. Bagaimana kita merespon masalah tersebut. Kata "sakinah" sendiri berasal dari kata "sikin" yang artinya tajam. Kata seorang Kiayi, tajam disini maknanya adalah ia tajam di dalam menyelesaikan berbagai problematika yang ada.

Prof. Nassarudin Umar saat memberikan nasihat pernikahan saya berpesan agar masalah apapun yang dihadapi, maka selesaikanlah di atas sajadah, terutama di sepertiga malam. Artinya, berdoa, mohon pada Allah, serta libatkan Allah dalam segala hal.

Selain itu, Ayah saya berpesan agar rumah tangga senantiasa dihiasi dengan bacaan Al-Quran. Jadikan Al-Quran sebagai bacaan harian kita yang paling utama. Karena di rumah yang sering dilantunkan ayat-ayat suci Al-Quran oleh pengisinya akan diturunkan keberkahan dari Allah SWT (al-hadist).

Kedua, pernikahan adalah saling menyadari akan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing. 

Agama Islam adalah agama yang mengutamakan tanggung jawab, bukan hak semata-mata. Karena hamba yang telah menjalankan kewajiban, akan mendapatkan haknya cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung.

Maka Ayah saya berpesan bahwa lakukan kewajiban sebagai suami dan istri dengan sebaik-baiknya tanpa banyak menuntut ini itu.

Kewajiban suami intinya ada dua. Demikian pula kewajiban istri pun intinya ada dua.

Kewajiban suami yang pertama adalah sebagai "qawwam" atau pemimpin bagi keluarga.  Ibarat sebuah kapal laut, suami berperan sebagai nahkoda yang mengemudikan kapal, mau dibawa kemana kapal tersebut. Peran pemimpin pun terkait juga dengan peran pendidikan terhadap istri dan anak. Bagaimana suami dan ayah berperan di dalam mendidik keluarganya. Bagaimana suami dan ayah menjadi seorang uswatun hasanah atau contoh yang baik bagi keluarganya.

Kewajiban suami yang kedua adalah mencari nafkah bagi keluarga. Suami harus dapat memberikan nafkah lahir batin yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya. Dan hal utama yang terkait dengan masalah nafkah ini adalah suami harus memastikan bahwa apa yang diberikan kepada keluarga adalah rizki yang halal. Karena rizki akan memengaruhi langsung kepada keberkahan keluarga. Rizki akan memengaruhi akhlak dari pemakan rizki tersebut. Jadi pastikan apa yang dimakan oleh istri dan anak adalah rizki yang halal. Halal zatnya dan halal cara mendapatkannya.

Kewajiban istri yang pertama adalah tunduk dan patuh kepada suami. Sesungguhnya pintu syurga bagi seorang istri amat mudah: lakukan empat hal di dalam hidup, maka syurga menanti di yaumil akhir kelak. Lakukan shalat wajib, lakukan puasa wajib, jaga kemaluan (jaga sikap dan akhlak), serta tunduk dan patuh pada suami di dalam kerangka kepatuhan kepada Allah SWT. InsyaAllah syurga balasannya :")

Kewajiban istri yang kedua adalah merawat serta mendidik anak. Seorang ibu harus berusaha yang terbaik di dalam mendidik anak-anaknya, mengkader mereka agar menjadi manusia yang bertakwa dan bermanfaat. Seorang istri boleh saja berkarir di luar rumah dan sekolah formal setinggi-tingginya. Tapi jangan lupakan peran utama di dalam mendidik anak-anak. Pendidikan anak, terutama pendidikan aqidah dan akhlak, tidak bisa kita wakilkan kepada siapapun, bahkan kepada sekolah terbaik sekalipun. Ia tetap merupakan kewajiban seorang ibu terhadap anak-anaknya. Minimal dasar serta pondasi utama serta teladan nyata dari seorang ibu harus ditanamkan di dalam diri anak-anak kita.

Ketiga, pernikahan ternyata harus didasarkan oleh sikap saling menyayangi dan mengasihi

Suami harus bersikap penuh kasih kepada istri dan anak-anaknya. Karena ternyata laki-laki yang paling hebat di mata Rasulullah SAW bukanlah orang yang punya status sosial tinggi di dalam masyarakat. Tapi laki-laki terhebat adalah laki-laki yang paling baik akhlaknya kepada istri dan keluarganya.. demikian pula seorang wanita terbaik adalah seseorang yang memiliki akhlak terbaik terhadap suami dan keluarganya.

Jadi sikap kasar, perkataan kasar dan kotor, sikap keji dan jahat adalah di antara sikap-sikap yang harus dijauhi di dalam kehidupan rumah tangga :")

Keempat, pernikahan haruslah dihiasi oleh sikap bersyukur dan bersabar atas segala fase hidup yang dihadapi. 

Ayah saya mengatakan bahwa sabar dan syukur adalah dua pakaian identitas seorang Muslim. Karena jika sabar dan syukur, maka apapun situasi yang dihadapi, ujungnya adalah keberkahan dan kebaikan.

Allah SWT uji dengan nikmat, kemudian kita bersyukur maka ujungnya adalah kebaikan. Pun saat Allah uji dengan sedikit kesusahan, jika kita bersabar maka ujungnya adalah kebaikan pula. Jadi bukan semata-mata ujiannya, tetapi bagaimana respon kita di dalam menghadapi ujian tersebut :") #notetoself

Oh ya.. terkait dengan rasa syukur, sebagai istri saat suami memberikan uang pendapatannya, berapapun maka syukurilah. Katakan padanya "Terima kasih cinta karena telah berusaha mencarikan rezeki yang halal bagi kami. Aku doakan semoga engkau istiqamah dan Allah luaskan rezekimu dan menjadikanmu sebagai manusia yang kaya dan bertakwa.." insyaAllah akan berkah :")

Kelima, pernikahan akan berhasil jika dihiasi dengan sikap bertanggung jawab dan saling setia. 

Tanggung jawab dan kesetiaan adalah sangat krusial di dalam sebuah pernikahan. Ingat secantik atau seganteng apapun manusia di luar sana, mereka adalah haram bagi kita. Sedangkan meski biasa saja, tapi istri atau suamimu adalah yang halal bagi kita. 

Maka memang penting untuk berdandan di hadapan pasangan kita. Tapi bukan berarti jika tidak dandan maka bebas untuk tidak setia. Hey.. bersyukurlah. Jika badan istri melar setelah pernikahan, maka itu karena ia mengandung dan melahirkan anakmu wahai para suami. Jika muka suami lusuh saat pulang kerja, maka itu karena ia berusaha mencari rizki yang halal bagimu wahai para istri.

Setialah.. tetaplah cinta kepada mereka. Karena sesungguhnya ketidaksetiaan kita terhadap pasangan adalah awal kehancuran hidup kita. Zina adalah perbuatan yang sangat Allah SWT larang. Jangankan berbuat zina, mendekatinya saja dilarang.

Jauhilah segala yang dapat mengantarkan kita pada perbuatan keji itu. Jika hati kita lemah, maka jangan pernah mencoba untuk mendekatinya. Yakinlah, syetan akan membuat indah pada hal-hal yang haram. 

Itulah cinta di dalam sebuah pernikahan.. cinta yang tidak bisa didefinisikan secara sempit. Romantisme hanyalah bumbu penyedap di dalam sebuah pernikahan. Itu penting tapi tidak cukup. Necessary but not sufficient :")

Maka  lima  poin penting yang telah saya jabarkan itulah sebenarnya cinta  yang menjadikan sebuah pernikahan berhasil berdasarkan nasihat yang saya dapatkan serta pengalaman yang saya alami sendiri. 

Dan untuk menjaga pondasi utama tersebut, peran komunikasi di antara suami dan istri sangat penting. Materi dari kuliah Bunsay IIP telah membantu saya untuk memperbaiki sikap dan komunikasi saya terhadap suami. Meski masih jauh dari sempurna, meski masih sering tidak dipraktekan, tapi saya akan berusaha untuk menjaga pernikahan kami agar berkah dan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin :")

Dan izinkan saya untuk berkata kepada suami saya lewat tulisan ini, "Suamiku.. aku mencintaimu karena Allah.. terima kasih dan maaf untuk segalanya.. Yuk kita terus erat berpegangan agar Allah SWT ridho sama kita..." :")

Me and my little family :')