Wednesday, 25 January 2017

Ghazawul Fikri


Ghazawul Fikri
Oleh: Prof. Didin Hafidhuddin
Notulensi: Qurroh Ayuniyyah
Pengajian SB-IPB Kamis, 29 Desember 2016 jam 7.30-8.00 pagi
Ghazawul Fikri Merupakan perang pemikiran yang dilakukan oleh kelompok orang atau organisasi yg tidak senang dgn kemajuan umat Islam.
Contoh kecilnya adalah kemajuan teknologi saat ini. Di satu sisi, teknologi tersebut memberikan banyak kemudahan bagi kita dalam hal apapun. Namun di sisi lain, teknologi tsb sering kali melalaikan kita dlm beribadah.
Selain itu pemikiran yg merusak pun dihembuskan. Bahwa antara Islam dengan kehidupan di dalam seluruh dimensinya tidak ada kaitannya sama sekali. Padahal kita harus yakin bahwa kita harus menerapkan Islam secara kaffah atau secara menyeluruh.
Hal ini sesuai dgn QS. Al-Baqarah ayat 208 dan QS. Al Hujurat: 15.
Dan penerapan nilai Islam di dalam kehidupan dilakukan secara gradual (bertahap) sesuai kemampuan. Diperlukan konsistensi serta keistiqamahan.
Maka ayat ttg istiqamah ini selalu menggunakan kata "tsumma" (kemudian) yang berarti ada proses di dalamnya. Kalau yg langsung menggunakan kata "wa" (lalu), yang artinya tidak ada proses (seperti perintah tentang berwudhu).
Orang2 yg bertakwa secara benar adalah selalu berusaha menginternalisasi nilai Islam di seluruh kehidupannya. Dia tidak melupakan bagiannya di dunia dalam rangka kehidupan akhirat. Misalnya: Islam sangat menganjurkan manusianya untuk menjadi manusia yg kaya dan bertakwa. Dengan kekayaannya, ia dapat melakukan jihad hartanya. Para sahabat Rasul pun banyak sekali yang kaya raya terutama terlihat dari bagaimana mrk berinfak di jalan Allah. Usman bin Affan ra menginfakkan sumber air bagi kepentingan umat Islam.
"Sebaik2nya harta adalah yang berada pada orang2 yg bertakwa."
Ali bin Abi Thalib ra, mengatakan ada 5 ornamen yg membangun masyarakat yg baik:
1. Ilmunya alim ulama
2. Adilnya pemimpin
3. Kedermawanan para orang kaya
4. Doanya fakir
5. Kejujuran para pegawai (birokrat)
Ghazawul Fikri ini dilakukan melalui berbagai media dengan tujuan untuk memengaruhi cara berpikir dan berperilaku umat Islam. Di antaranya adalah pemikiran Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme. Hal ini sesuai dengan Fatwa MUI no 7/2005. Fatwa MUI ini dihasilkan melalui musyawarah para alim ulama yang memiliki keahlian dalam berbagai macam bidang, seperti tafsir, hadist, bahasa Arab, fiqh, usul fiqh, perbandingan mazhab, sejarah kebudayaan Islam dan ilmu2 lainnya. Sehingga tidak perlu diragukan keabsahannya.
Plurasime agama (ingat bukan pluralistik ya, beda) adalah suatu paham yang mengajarkan bhw semua agama adalah sama. Karenanya kebenaran suatu agama adalah relatif, tidak absolut, dan tdk mutlak. Akhirnya krn paham ini, terlahirlah ketidakyakinan para pemeluk agama thd agamanya. Padahal kita wajib meyakini bahwa "Agama di sisi Allah adalah Islam." Keyakinan ini bagi paham pluralisme adalah salah.
Pluralitas adalah kenyataan bahwa di suatu negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan. Dan itu adalah sunatullah.
Toleransi adalah menghargai adanya perbedaan bukan mencampuradukkan perbedaan.
Liberarlisme agama adalah memahami nash2 agama (AQ dan sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas dan hanya menerima doktrin2 agama yg sesuai dengan akal pikiran semata.
Sekulerisme agama adalah memisahkan urusan dunia dan agama. Bahwa agama adalah hanya untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya berdasarkan kesepakatan sosial (agama tdk boleh dibawa pd kehidupan ekonomi, pendidikan, pergaulan, politik dll).

Tafsir Al-Hijri : QS. Luqman ayat 8-9


Pengajian Tafsir Quran Masjid Al-Hijri 1, Air Mancur Bogor.
Pengisi: Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.
Notulensi: Qurroh Ayuniyyah
Ahad, 25 Desember 2016
Surat Luqman ayat 8-9
Pada minggu lalu kita sudah membahas ttg dua kelompok orang-orang yg berbeda perilakunya secara nyata dan balasan yg mereka dapatkan di dunia maupun akhirat.
Dua kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
1. Muhsinin: orang yg selalu berbuat baik dan responsif thd kebaikan. Mrk akan dpt kesuksesan hakiki atau disebut Al-Falah. Kelompok ini paling tinggi derajatnya di sisi Allah. Namun yang perlu diingat, kelompok ini pun pernah melakukan kesalahan.
Karena manusia secara sunatullah pasti akan melakukan kesalahan, yang bebas kesalahan hanya Rasulullah saw (ma'sum). Tetapi yang paling penting adalah golongan ini berbeda dlm merespon kesalahan ini.
Jika mereka melakukan dosa dan kesalahan, mereka akan mengucapkan istighfar dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi (taubat).
Hal ini sejalan dengan QS. Ali Imran: 133-135.
Siapakah yg bertakwa? Suka berinfaq baik dalam keadaan kaya maupun sulit (infaq tdk semata2 terkait dgn harta yg banyak), bisa mengendalikan diri saat marah (bukan tdk pernah marah, tp mengendalikan), mampu memaafkan orang lain (husnudzan sm orang). Dan Allah menyayangi orang muhsin. Yaitu org2 yg apabila melakukan keburukan (kemaksiatan dan dosa), dzalim kpd diri kita sendiri (memproses keburukan pd diri kita), tapi mrk ingat dan kemudian istighfar dan memohon ampun kpd Allah.
Tapi sebenarnya Istighfar tdk hanya terkait dosa. Rasulullah saw yg maksum pun istighfar 100x minimal di dalam satu hari. Istighfar pun adlh salah 1 tools mengundang rizki krn istighfar ini akan menjernihkan hati dan diri kita. Sehingga produktivitas kita menjadi meningkat dan rezeki pun datang kpd kita. Maka kita harus menjadikan istighfar sbg gaya hidup kita. Istighfar as our life style.
Taubat adalah inabah atau kembali kpd Allah. Golongan muhsin ini setelah sadar mereka melakukan dosa dan kesalahan, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari dan tdk mengulangi lg.
Lalu kita lihat fenomena saat ini. Knp ada org yg ilmunya tinggi, tp ucapan dan perilakunya bertentangan:
Ada dua sebab: 1. Pergaulan (dengan siapa dia bergaul) 2. Faktor makanan dan minuman (rizki yg haram, cara dapatinnya haram, materinya jg haram).
Ada hadist yg mengatakan bhw doa orang yg biasa makan makanan dan minuman yg haram, pakaiannya didapat dr yg haram, dikenyangkan dr yg haram: bagaimana doanya akan dikabulkan?
2. Orang2 matrelialistik (hubbud dunya). Hubbud: mencintai, menjadikannya sbg tujuan akhir. Hubbud dunya: menjadikan materi sbg tujuan akhir. Sekolah tujuannya untuk materi, politik materi dll.
Penyebab kemunduran umat Islam: hubbud dunya, terutama pemimpinnya. Jangan sampai akidah tergadaikan hanya krn materi.
Pendidikan hrs diperbaiki. Bhwa orientasi jgn smata2 materi.
HR. Tirmidzi : jika umatku mengagungkan materi dan dunia, maka akan dicabut oleh Allah kehebatan Islam.
Kemunduran umat Islam adalah krn internal umat Islam. Krn kl udh cinta dunia, maka izzah umat Islam akan hilang.
Apabila umat Islam telah meninggalkan amar maruf nahi munkar, maka Allah akan mencabut keberkahan hidup.
Hal ini sejalan dengan QS. Luqman ayat 17.
"Wahai anakku, tegakkan shalat, suruh oleh engkau pd kebaikan dan cegah dr kemunkaran, dan bersabarlah atas segala macam yg terjadi pdmu."
QS. At-Tahrim (surat ke 66), berbicara ttg masalah keluarga. Ada satu ayat untuk berjihad. Ini merupakan indikasi bahwa keluarga adalah institusi yg efektif dalam kaderisasi kebaikan.
Terakhir, untuk menguatkan kelompok pertama ini sesuai dengan QS Luqman ayat 8-9 dijelaskan tentang Orang beriman dan beramal shaleh. Bhw antara iman dan amal shaleh tdk dpt dipisahkan. Iman bukan semata2 pengetahuan, tp iman adalah kesadaran dlm beramal. Maka setiap pagi kita perbaharui iman.
Doa yg sebaiknya dibaca setiap hari:
"Allahumma bika asbahna wa bika amsaina wabika nahya wa bika namutu wa ilaihinnusyur.."
(Ya Allah krn-Mu kami melakukan aktivitas pagi dan sore, dn hanya untukMu kami hidup, dan hanya untukMu kami mati dan hanya kpdMu kami akan dikumpulkan).

Tafsir Al-Hijri : QS. Luqman ayat 6-7


Pengajian Tafsir Quran Masjid Al-Hijri 1, Air Mancur Bogor.
Pengisi: Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.
Notulensi: Qurroh Ayuniyyah
Ahad, 18 Desember 2016
QS. Luqman ayat 6-7


Quran Surat luqman sering disebut sebagai surat pendidikan, tarbiyyah, dan petunjuk (mursyid). Berdasarkan surat ini, tugas seorang guru bukan semata-mata memberikan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus dapat  memberikan petunjuk kepada anak didiknya.

Dalam hal ini, sikap guru terhadap anak didik terkait dengan ucapan serta materi pendidikan (ayat 11-19). Pengetahuan tidak akan bermakna jika tidak diikuti dgn pembiasaan. Sama halnya dengan Al-Quran dan ajaran Islam. Kedua hal ini akan terjaga jika terdapat pembiasaan pengamalan di dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, jika anak sudah dapat membedakan tangan kanan dan kiri, maka anak tersebut harus dididik untuk membiasakan diri melakukan solat secara rutin. Hal lainnya misalnya membangun kesadaran bahwa penderitaan muslim lain adalah bgian dari penderitaan pribadi. Artinya, anak didik harus dibiasakan untuk memiliki empati dan simpati terhadap sesama. Pun dengan pembiasaan membaca Al-Quran yang harus senantiasa dilakukan, karena sesungguhnya Al-Quran adalah salah satu sarana kita untuk berdialog dengan Allah SWT.

Ayat-ayat pertama di dalam QS. Luqman ini terkait dengan tingkah laku manusia. Karena tujuan utama pendidikan adalah untuk memperbaiki perilaku manusia. Maka paham-paham yang bertentangan dengan fitrah yang dapat meng-guide tingkah laku manusia haruslah dihindarkan.
Misalnya paham komunis yang merusak dan membahayakan serta tidak ada hak hidup di Indonesia, karena sesungguhnya paham ini bertentangan dengan fitrah manusia itu sendiri.
Chev gorbachev sendiri pernah berkata, "Cukuplah Uni Soviet saja yg menderita krn atheis karena bertentangan dengan fitrah manusia."

Selanjutnya dibahas pula di dalam surat ini tentang manusia terbaik yg disebut dgn "muhsisin" yaitu orang-orang yang berbuat baik secara maksimal serta responsif terhadap perintah dan larangan Allah. Orang ini selalu berusaha untuk menjaga ucapan dan perilakunya di dalam kebenaran dan kebaikan yang tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk lingkungannya. Ia tidak hanya sekedar shaleh secara pribadi, tapi juga shaleh secara sosial.

Golongan muhsisin ini senantiasa menegakkan shalat dan menunaikan zakat sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan keislaman mereka. Semoga kita dapat menjadikan diri kita sebagai golongan muhsinin ini. Aamiin..

Secara sunatullah, Iman manusia terkadang bertambah dan berkurang. Hal ini sangat tergantung amaliyyah yang kita lakukan. Termasuk di antaranya bagaimana cara kita bergaul, mencari teman dekat, dan lain sebagainya. Jadi keimanan serta keyakinan terhadap akhirat hanyalah akibat dari proses amaliyyah yang kita biasakan serta kita lakukan.

Toleransi jangan sampai dijadikan alat sebagai mengaburkan kebenaran.
Karena Umat Islam sesungguhnya adalah umat yang baik yang memang sangat bertoleransi akan keberagaman. Toleransi adalah menghormati adanya perbedaan, bukannya mencampuradukkan atau malah mempersamakan perbedaan itu sendiri. Disebut sebagai golongan "fasik" adalah muslim ataupun nonmuslim yang menjadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai alat jual beli untuk keuntungan pribadi.

Tuesday, 24 January 2017

Nice Homework (NHW) #1 (Matrikulasi Institut Ibu Professional)


Nice Homework (NHW) #1
Adab Menuntut Ilmu

Disusun oleh :
Qurroh Ayuniyyah
(Kuala Lumpur, Malaysia)


1. Tentukan jurusan yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Jika ditanya jurusan apa yang akan saya tekuni di dalam kehidupan ini, tentunya jawabannya adalah amat banyak. Karena kehidupan memerlukan variasi ilmu yang beragam agar ia dapat dijalani tidak hanya sekedar “lewat” saja, namun memiliki arti dan manfaat yang hakiki. Di antara sekian ilmu yang perlu dan ingin saya tekuni, ada satu ilmu yang telah dan terus akan saya tekuni yaitu Ilmu Ekonomi Syariah (Islamic Economics).

2. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Kecintaan terhadap Ilmu Ekonomi Syariah berawal ketika SMA, saya ditunjuk oleh guru untuk mewakili sekolah dalam rangka mengikuti kompetisi Ekonomi Syariah tingkat SMA di Kota Bogor yang diadakan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat itu, saya membaca banyak literatur yang terkait dengan Ekonomi Syariah sehingga timbullah ketertarikan yang mendalam terhadap ilmu ini.
Keyakinan saya untuk menekuni Ilmu Ekonomi Syariah pun semakin kuat seiring dengan adanya kesadaran bahwa sektor terpenting yang menentukan kemajuan serta harga diri sebuah bangsa di antaranya adalah bidang ideologi, politik, pendidikan, serta ekonomi. Tidak mungkin suatu bangsa dikatakan maju jika kondisi ekonominya lemah. Lemah dalam konteks universal. Bahkan disebutkan di dalam sebuah hadist sahih bahwa “Kefakiran dekat dengan kekufuran.” Bayangkan, sebuah ideologi dan keyakinan erat kaitannya dengan keadaan ekonomi. Artinya, bidang ini sangatlah krusial di dalam kehidupan kita.
 Jika kita melihat kondisi saat ini, betapa di negara kita terjadi banyak ketidakadilan di dalam kehidupan ekonominya. Kemiskinan secara makro menurut Badan Pusat Statistik (2016) mencapai angka 28 juta jiwa manusia atau sekitar 11 persen terhadap total populasi di Indonesia. Itu dengan menggunakan standar BPS yang dianggap sangat rendah yaitu hanya sekitar USD 22 per orang bulan. Sedangkan jika menggunakan standar Bank Dunia dimana garis kemiskinan adalah USD 2 per orang per hari, kemiskinan di negara kita akan jauuuh lebih besar lagi. Belum lagi kesejangan pendapatan yang mengalami tren meningkat secara rata-rata pada 10 tahun terakhir (BPS, 2016) yang artinya si kaya semakin kaya, namun si miskin semakin miskin. Bahkan Batubara, et al (2008) menyebutkan bahwa negara kita termasuk salah satu di antara negara yang memiliki pertumbuhan jumlah orang kaya yang tinggi. Kita bisa bayangkan dampak negatifnya jika kesenjangan yang terjadi sudah parah, seperti meningkatnya kriminalitas, semakin buruknya kehidupan sosial masyarakat, hingga menurunkan life expectancy manusia (International Labour Organization, 2008).
Sebagai agama yang syumuliah, Islam mencakup semua aspek kehidupan termasuk bidang ekonomi ini. Ekonomi di dalam pandangan Islam termasuk pada bidang muamalah yaitu bidang yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Salah satu intisari dari Ilmu Ekonomi Syariah ini adalah tidak boleh adanya kedzaliman yang dilakukan oleh para agen ekonomi. Hal ini sejalan dengan QS. An-Nisa ayat 29 yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” Maka dari itu, ekonomi menurut pandangan Islam haruslah menghindari praktek-praktek yang dapat menyebabkan kedzaliman seperti riba (termasuk bunga bank), maisyir (spekulasi/perjudian), gharar (penipuan), serta bathil (keburukan). Karena jika hal ini dilakukan, maka akan terjadi kehancuran.
Di sisi lain, ekonomi syariah amat menekankan pada sektor riil, sektor keuangan yang bebas ribawi, serta sektor zakat, infaq, sedekah dan wakaf (ZISWAF) yang menjadi pilar utama dari kegiatan ekonomi. “Menu” utama dari sebuah sistem ekonomi dalam pandangan Islam adalah sektor riil yang merepresentasikan kegiatan ekonomi yang nyata yang dilakukan oleh para agen ekonomi. Sektor  keuangan merupakan gerbong akselelator di dalam mensupport sektor riil ini, dimana uang yang bergulir di sektor keuangan ini harus mencerminkan kegiatan ekonomi di sektor riil. Sektor ZISWAF  merupakan penyeimbang dari aktivitas ekonomi agar tercapai keadilan ekonomi serta meminimalisir kesenjangan serta masalah ekonomi lainnya. Ishaq (2003) berpendapat bahwa masalah ekonomi di sebuah negara termasuk kemiskinan dan kesenjangan hanya akan dapat dicari jalan keluarnya jika  menggunakan instrument berbasis agama serta kebudayaan lokal yang arif. Dalam hal ini, ZISWAF dapat menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi yang sedang negara Indonesia hadapi.
Oleh karena itu, melihat betapa krusialnya bidang ekonomi di dalam kehidupan kita dan solusi di dalam menangani masalah ekonomi ini didapat melalui penerapan ekonomi syariah secara menyeluruh, diperlukan orang-orang yang menekuni ilmu ini agar ekonomi syariah dapat diterapkan secara baik dalam sistem ekonomi negara kita. Hal inilah yang menjadi faktor pendorong bagi saya untuk menekuni Ilmu Ekonomi Syariah ini.  


3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut.
Strategi menuntut ilmu yang akan saya rencanakan di bidang Ekonomi Syariah adalah sebagai berikut :
Pertama, saya ingin menyelesaikan pendidikan formal S3 di bidang ini dengan sebaik-baiknya. Rencana jangka pendeknya adalah saya ingin menyelesaikan penelitian saya di bidang zakat sebagai syarat kelulusan saya. InsyaAllah target menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi pada Bulan September 2017 yang akan datang.
Kedua, terus meng-upgrade ilmu Ekonomi Syariah secara lebih menyeluruh, tidak terbatas melalui jalur formal saja. Caranya adalah dengan terus membaca sumber-sumber ilmu pengetahuan di bidang ini, mengikuti kajian-kajian secara lebih rutin dan terencana dengan baik, serta berusaha lebih untuk memahami dan mendalami Al-Quran dan Hadist (terutama yang berkaitan dengan ekonomi) sebagai sumber ilmu tertinggi.
Ketiga, terus membagi ilmu ekonomi syariah ini kepada masyarakat. Caranya adalah dengan aktif membuat tulisan berkaitan dengan Ekonomi Syariah seperti melalui konferensi nasional maupun internasional ataupun tulisan-tulisan ringan yang mudah diakses oleh masyarakat secara lebih luas. Mengajak serta menyadarkan masyarakat bahwa solusi krisis ekonomi saat ini adalah dengan menerapkan sistem Ekonomi Syariah secara menyeluruh.
Keempat, berusaha untuk mengaplikasikan ilmu ini di dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal-hal terkecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri. Misalnya menggunakan jasa lembaga keuangan yang sudah berbasis syariah, menjadikan zakat dan infaq sebagai gaya hidup, dan mengajak keluarga untuk terus konsisten di dalam menggunakan lembaga keuangan syariah.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Terkait dengan perbaikan adab menuntut ilmu yang harus saya perbaiki adalah sebagai berikut :
Pertama, adab pada diri sendiri. Meluruskan serta membersihkan niat kembali bahwa menekuni ilmu Ekonomi Syariah merupakan bagian dari ibadah serta penghambaan saya terhadap Allah SWT. Bahwa apa yang saya pelajari dan tekuni sejatinya merupakan salah satu aplikasi dari tujuan mengapa saya diciptakan sesuai dengan QS. Adz-Dzariyyat ayat 56 yang berbunyi, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku..” Niat ini menjadi penting karena akan banyak tantangan yang saya hadapi ke depannya. Jika hal ini tidak dibarengi dengan niat “Lillahita’ala” maka saya akan menjadi manusia yang mudah sekali putus asa. Saya harus meningkatkan “Muroqabatullah” yaitu kesadaran akan selalu diawasi oleh Allah SWT. Bahwa apa yang saya kerjakan sejatinya sedang dan senantiasa dilihat-Nya. Hal ini akan berdampak pada kualitas ilmu dan amal yang saya lakukan, insyaAllah.
Selain itu, yang perlu saya perbaiki adalah konsistensi di dalam mendalami ilmu Ekonomi Syariah ini seperti mengulang-ngulang kembali apa yang telah dipelajari, merapikan catatan kembali sehingga ilmu ini “terdokumentasi” dengan baik, serta menjaga semangat untuk terus berusaha kuat di dalam menekuni ilmu ini.
Kedua, adab pada guru. Yang harus saya perbaiki adalah konsistensi di dalam mendoakan para guru yang telah berjasa besar di dalam memberikan ilmu kepada saya. Tidak hanya guru pada pendidikan formal, tapi guru dalam konteks luas yaitu mereka yang telah memberikan ilmu bermanfaat bagi kehidupan saya. Karena sejatinya, jasa para guru di dalam kehidupan saya tidak akan pernah dapat dibalas oleh apapun juga selain bentuk perhatian yang salah satunya adalah dengan bentuk doa. Selain itu, adab terhadap mereka pun harus senantiasa ditingkatkan, seperti lebih sering bersilaturahim kepada mereka secara langsung sebagai bentuk perhatian yang nyata.
Ketiga, adab terhadap sumber ilmu. Yang harus saya perbaiki adalah terutama pada semangat dan konsistensi di dalam memperdalam sumber ilmu itu sendiri. Terkadang ada rasa malas sehingga ilmu yang dipelajari hanya setengah-setengah. Banyak buku asli yang telah saya beli, namun hanya dibaca sebagian saja sehingga pemahaman saya terhadap ilmu menjadi “nanggung” atau bahkan setengah-setengah.
Selain itu, saya harus berusaha untuk tidak berputus asa ketika menemui kesusahan dalam memahami sumber ilmu. Misalnya ketika membaca jurnal kemudian saya tidak paham, maka seharusnya saya terus berusaha sampai saya memiliki pemahaman yang baik terhadap ilmu yang saya pelajari.   

Referensi :
Badan Pusat Statistik. (2016). Statistik Indonesia 2015.

Batubara, M. (2008). Skandal BLBI: Ramai-Ramai Merampok Negara. Jakarta: Haekal Media Center.

Ishaq, K. A. (2003). Integrating Traditional Institutions in International Development: Revitalizing Zakat to Reduce Poverty in Muslim Societies, (Ph.D). University of Oregon.

International Labour Organization. (ILO, 2008). World of Work Report 2008: Income Inequalities in the Age of Financial Globalization. Geneva: International Institute for Labour Studies.

Sunday, 13 November 2016

Menghargai Proses

Menghargai Proses

Salah satu nilai yg ditanamkan oleh kedua orang tua saya sejak kami kecil adalah pentingnya untuk mengedepankan proses dibandingkan hasil. Kalau kata Papah, yang penting dilakukan adalah usaha maksimal yg benar disertai dengan doa yg juga maksimal. Hasil adalah murni kehendak Allah swt.

Yang perlu digarisbawahi disini adalah prosesnya pun harus sesuai dengan apa yg Allah ridhai. Sebagai contoh berlaku jujur saat mengerjakan ujian, ga nyontek, ga buka kopekan, dll. Karena itu semua adalah dilarang. 

Saya ingat satu statement yg sering Papah ucapkan pada masa2 saya ujian adalah: "Lebih baik kamu dapat nilai A tapi jujur daripada nilai C tapi kamu nyontek.." 
YAIYALAH pah.. kata saya waktu itu. Semua orang juga pinginnya begitu.. 😂😂 terus kata Papah, "Artinya dengan jujur pun kita bisa dapat nilai yg terbaik. Jangan asosiasikan kejujuran dengan keburukan dan ketidakjujuran dengan kebaikan. Optimis kalau kita jujur, kita bisa dapat hasil yg bagus."

Oke deh pah 😆👍

Nah yang lucu adalah salah satu implikasi dari penerapan nilai mengedepankan proses ini adalah biasanya Papah dan Mamah memberikan hadiah kepada saya (khususnya yes krn anak bungsu ini emang suka nagih sesuatu 🙈) saat saya selesai ujian. Jadi bukan ketika hasil ujian keluar baru dikasih hadiah, tapi setelah ujian meski hasil belum keluar, entah bagus atau jelek.

Kata Mamah, "Ini hadiah karena dede udah belajar. Makasih ya udah berusaha dengan sungguh-sungguh dan jujur." 

Jadii.. bukan karena saya ranking 1 atau mendapatkan IP 4 saya diberikan apresiasi. Tapii.. karena saya telah berusaha dengan sekuat tenaga dan jujur di dalam proses tersebut.. :") Hiks makasih ya Papah Mamah.. *meski pd akhirnya kadang saya suka minta hadiah lagi kalau nilai saya bagus. Bahahahah (ga mau rugi anaknya).. jadi weh double.. *maap ya Papah Mamah atas kelakuan anakmu ini 😆🙈 

Pun satu hal yang saya ingat, Papah adalah orang yang senantiasa ikut dalam mengambil rapor anak2nya. Kata beliau ini adalah salah satu cara beliau berterima kasih kepada para guru karena sudah memberikan ilmu kpd anak2nya. Guru2 adalah orang yg berjasa di dalam proses belajar mengajar anak2nya. Maka dalam ingatan saya, selalunya saya mengambil rapor bersama Mama dan Papa saya. Yang lucu, pernah suatu waktu Papah menjadi satu2nya Bapak yang hadir di saat pengambilan rapor di kelas saya. Kebayang ya, di antara ibu2 tetiba ada satu manusia berjembros.. hihi dan itu adalah Papah saya 😆🙈

Pernah juga saat kelas 3 SMA, saya dan Mama sedang jalan2 ke KL pada hari pembagian rapor saya. Dan dengan senang hati Papa mengambil rapor saya. Hihi makasih Papah ❤️❤️

Pada intinya.. menghargai proses adalah nilai yang penting ditanamkan. Kalau kata Papa dan Mama saya, "Ingatlah bahwa Allah SWT senantiasa melihat proses yang kamu kerjakan. Lakukan usaha yang Allah ridhoi. Jujurlah selalu, bahkan jika semua orang di kelasmu menganggap ketidakjujuran adalah hal yg biasa, jadilah orang yang tidak setuju akan hal itu." 

Baiklah Papah dan Mamah.. terima kasih atas pelajaran yang Papah dan Mamah berikan selama ini. Kali ini tugas saya untuk istiqamah menanamkan hal tersebut, tidak hanya untuk diri saya tapi juga untuk keluarga dan lingkungan saya.

I love you so much.. may Allah bless you and protect you always ❤️😘

Thursday, 5 November 2015

On Time


Salah satu nasihat dan contoh nyata yang saya dapatkan langsung dari Papa saya adalah tentang bagaimana sikap beliau terhadap waktu. Well.. I can probabbly say that he is one of the most on time person I have ever met in my life. Bahkan seringkali beliau itu “before time”, bukannya on time. Datang lebih awal. Jauuuhh lebih awal. Hehehehe…
Jika saya libur, beberapa kali saya ikut beliau bekerja. Kami tinggal di Bogor, sedangkan banyak dinas yang Papa lakukan di Jakarta. Suatu hari saya diajak Papa untuk mengisi beberapa acara di Jakarta. Acara pertama yaitu pengajian bulanan yang diadakan oleh salah satu bank syariah di Jakarta. Pengajian tersebut dimulai pukul 7.30 pagi. Can you guess what time did we depart from our home? Jam 4 pagi! Kami pun melakukan sholat subuh di salah satu mushola di pombensin pinggir jalan tol. Kata beliau, “Kalau ke jakarta di pagi hari, pilihannya cuma dua: kalau ga kepagian, ya kesiangan. Nah.. lebih baik kita lebih awal datang.” Dan jam berapa kami sampai di tempat acara? Jam 5.30 pagi! Bahkan office boy belum ada yang datang. Matahari belum keliatan. Masih gelap, serius. Saat itu hanya ada satpam di tempat. Kemudian tempat yang kami cari pertama untuk menunggu waktu adalah mushola. Papa bilang, “Nah kan kalau begini enak, kita bisa ngaji dulu sambil nunggu waktu dhuha. Terus kalau udah masuk waktu dhuha kita bisa langsung solat dan berdoa. Enak kan?” *dalam hati, “Iya sih, tapi ngantuk Pah… -_-“ *sumpel mata pake korek api*
Pernah suatu saat Papa diundang mengisi ceramah di kampus. Saat itu panitianya adalah para mahasiswa S1, di salah satu kampus di Bogor. Di dalam surat undangan, tertulis bawa acara dimulai pukul 9 pagi. As expected, my Dad came 30 minutes earlier. Ternyata ruangan acara bahkan belum dibuka, dan baru ada seorang panitia yang hadir. Papa pun menunggu. Jam 9 pagi baru para panitia mulai berdatangan. Pukul 9.45 acara pun belum dimulai. Kemudian Papa mengambil tindakan untuk pergi dari acara tersebut karena harus menghadiri acara lain setelahnya. Beliau tidak mau terlambat untuk menghadiri agenda berikutnya. Kata beliau kepada panitia, “Mohon maaf, saya sudah menghargai undangan Anda dan menepati janji untuk datang. Di undangan, Anda sendiri yang menulis pukul 9 acara dimulai. Tapi hingga pukul 9.45 acara belum juga dimulai, jadi saya harus pergi untuk memenuhi janji saya di tempat lain.” Halus sih…. Tapi dalem…  Just wondering if I were the committee, I might have blamed my self for the inconvenience happened. *Sambil nangis di ujung jendela pas hujan rintik-rintik.  Tapi memang kala itu Papa ada acara di tempat lain dan beliau tidak mau sampai telat.

“De, kalau Papa ngaret, semua agenda Papa hari itu akan berantakan. Makanya Papa harus berusaha tepat waktu.” Begitu beliau menjelaskan saat saya protes, “Kok Papa on time melulu.” *Dasar anak bungsu manja! *Tunjuk diri sendiri :D
Ketika Papa mengadakan rapat pun gak jauh beda. Misalnya beliau mengundang rapat staff-nya untuk hadir pukul 10 pagi, maka rapat pun akan diadakan pukul 10 pagi. Berapa pun yang hadir. Kata beliau, “Kebanyakan dari kita lebih menghargai orang-orang yang suka terlambat. Mengundur suatu agenda demi menunggu mereka yang telat. Bagaimana dengan yang sudah hadir tepat waktu? Tidakkah waktu mereka pun harus dihargai?” Iya sih iya… Tapi…. *Tetep mau protes

“De, tau gak bahwa Allah SWT sendiri lho yang Maha Menghargai waktu. Coba liat di beberapa surat di dalam Al-Quran, Allah SWT mengawali firman-Nya dengan bersumpah menggunakan waktu. ‘Demi waktu..’ ‘Demi duha..’ Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu. Maka salah satu cara kita menghargai waktu selain mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, adalah dengan menjadi pribadi yang tepat waktu. Kecuali memang ada alasan yang ‘syar’i’ sebenarnya menjadi on time itu adalah masalah kita membiasakan diri.” Jelas Papah.

Ya…
Sejujurnya saya pribadi kadang masih suka telat. Tapi kalau inget lagi apa yang telah Papa saya contohkan, rasanya malu. Apalah saya dibandingkan dengan kesibukan beliau. Maka kalau telat, muka manusia pertama yang saya ingat adalah muka Papa saya. Maluuuu rasanya kalau ingat betapa beliau menghargai waktu.

Dan kejadian tadi pagi saat saya memberikan ujian midterm kepada mahasiswa saya, ada seorang mahasiswi yang telat selama 42 menit. Alasannya adalah “Saya mencari-cari ruangan, tapi gak ketemu Madam.” Padahal sehari sebelumnya saya sudah ingatkan berkali-kali tentang waktu mulai ujian, berapa durasi waktunya, dan terutama tempatnya. Sudah saya kasih tau kepada mereka. Berkali-kali. Dan saya ingat betul mahasiswi tersebut hadir. Dan saat diingat kembali, pada saat test 1 dimana ujian dilakukan di kelas kami yang biasa, dia pun terlambat sekitar 20 menitBut she managed her time well at that first test.

Kemudian mahasiswi tersebut meminta tambahan waktu karena dia telah kehilangan 40 menit waktunya. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya kok malah ga adil buat mahasiswa lain yang sudah datang tepat waktu. Saya datang pukul 8.10 tadi pagi. Ketika saya ke kantin untuk sarapan sebelum memulai ujian, sudah ada beberapa mahasiswa yang datang. They came earlier than me

Akhirnya saya bilang, "Sorry sister, but I cannot give you any extra time. Because I already told you yesterday about the time and the venue of our test. I have to be fair for your friends as well. Kemudian dia seperti tidak puas dan sedikit ‘bete’ sama saya. Yes, I know that from her facial expression. Akhirnya dia pun mengumpulkan lembar jawaban ujiannya bersama dengan mahasiswa yang lain.

Sejujurnya, ada sedikit perasaan bersalah dalam diri saya… Saya tau betul pasti tidak nyaman kehilangan 40 menit waktu ujian. If I were her, I might cry like baby. That 40 minutes is a huge and significant thing. Very huge. Tapi di sisi lain, pertimbangan saya adalah sebagai dosen saya harus adil dan memberikan contoh pula kepada mahasiswa yang lain. Bahwa tepat waktu adalah sangat penting, terutama saat ujian. Kalau tidak tau ruangan, maka sudah seharusnya datang lebih awal, untuk memastikan ruangan yang dituju. Entah mungkin dia memiliki alasan ‘syar’I’ lain, tapi alasan yang diberikan hanyalah dia kesusahan mencari ruangan. Tidak untuk yang lain.
Entahlah tindakan saya benar atau tidak. Saya hanya berusaha objektif kepada semua mahasiswa saya. Semoga Allah mengampuni dosa saya bila tindakan saya tersebut salah… Hiks… I really hope the best for all of my students, without any exception. I really do.

Thursday, 22 October 2015

"Da aku mah apa atuh..."

"Da aku mah apa atuh..."

Suka ga ngomong gt? Salah satu kalimat yg sempet hits beberapa waktu yang lalu. Biar lebih dramatis, ditambah kata-katanya jadi: "Da aku mah apa atuh.. Cuma bubuk rengginang di kaleng Kong Guan." Nunjukin ngenes banget gitu...

Hehehe dulu saya juga ikut-ikutan ngomong gitu. Kalau lihat orang yang memiliki berbagai macam kelebihan, keunggulan dan fortunate lainnya yang belum kita miliki, langsung deh bilang, "Da aku mah apa atuh dibanding dia.. Cuma remahan kerupuk di piring ketoprak.." Minimal di dalam hati. Hehehe...

Tapi tapi...
Suatu saat saya buka-buka catatan materi kajian yang pernah saya ikuti dulu.. Jadi saya membiasakan setiap ikut kajian, selalu mencatat biar ada oleh-oleh. Karena manusia kecenderungannya mudah lupa. Nah untuk mengikat ilmu tersebut biasanya saya selalu mencatat deh. Hehehe...

Nah... Saya membuka catatan lama saya. Di situ berjudul "Peran Seorang Muslimah".
Pemateri saat itu menjelaskan bahwa saat seorang muslimah dilahirkan, paling tidak dia (lanngsung dan akan) mengemban berbagai posisi penting. Peran yang serius. Wuihhh sereeemm... Hehehe...Nah apa aja itu?

Pertama, yang paling utama, seorang muslimah mengemban amanah sebagai seorang hamba Allah SWT.
Tugas kita dilahirkan ke dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ini sesuai dalam QS. Adz-Zariyat ayat 56 yang berbunyi, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Sama juga di dalam QS Al-Baqarah ayat 21 dimana Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa."

Nah jelas banget kan di kedua ayat tersebut bahwa tujuan kita diciptakan-Nya adalah untuk mengabdikan diri kita kepada Allah. Bahkan Allah SWT memberikan tanggung jawab yang sangat besar yaitu dengan menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin di dunia ini. Hal ini sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 30. Sok atuh dibuka Al-Qurannya :)

Jadi hidup kita di dunia ini sudah Allah tentukan peran asasinya. Bahwa kita harus senantiasa beraktivitas dalam rangka beribadah kepadanya, baik ibadah dalam arti khusus (kaya shalat, puasa, membaca Al-Quran, bayar zakat, haji, dll), juga ibadah yang sifatnya umum alias luas (misalnya mulai dari tidur, makan, mandi, belajar, bekerja, dll). Semuaaaaaanyaaaaa *sengaja a-nya dibanyakin* kita lakukan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Makanya sikap-sikap seperti ikhlas, sabar, syukur, selalu merasa diawasi-Nya, dan senantiasa memperbaharui niat dan taubat mesti kita tanamkan. Tapi kan susaaaahhhhhhhh *sengaja a dan h-nya juga dibanyakin :D*.. Iya emang susah. Tapi Allah SWT akan menilai usaha kita, proses kita, kesungguhan kita... Jadi meski susah, yuk tetap semangat! :)

Kedua, seorang muslimah memiliki kewajiban terhadap dirinya sendiri.
Allah SWT kan sudah memberikan bekal kepada kita dalam bentuk fisik kita, akal kita, dan hati kita. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kenapa kedudukan kita lebih baik daripada malaikat sekalipun yang notabene-nya selalu patuh sama Allah, karena kita dilimpahi akal, hati, serta hawa nafsu. Ketiga komponen tersebut jika dapat kita maksimalkan potensinya maka akan memberikan dampak yang luar biasa... Warbiyasak kalau istilah jaman sekarang mah :D

Terhadap tubuh kita, kita berkewajiban menjaga kesehatan, kecantikan *uhuk-uhuk*, juga menjaga dari hal-hal yang sia-sia. Yang sia-sia aja mesti dihindari, apalagi yang dilarang sama Allah. Lalu terhadap akal kita, kita wajib mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama, maupun ilmu lainnya seperti ilmu ekonomi.. *Hidup Ilmu Ekonomi!! :D* Hehehe ilmu lain juga penting yah. Bahkan saking pentingnya ilmu ini, dalam QS Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kita semua. Maka ada ungkapan, "Kejarlah ilmu hingga liang lahat.." benar adanya. Artinya selama nyawa kita masih ada, ga ada kata terlambat untuk belajar. Never too old to learn. Apapun itu. Mau ilmu formal ataupun nonformal, selama bermanfaat maka silahkan dikejar :) Oiyaa bahkan kemarin di kampus saya ada seorang mahasiswa master yang lulus berusia 70 tahun... MasyaAllah.. Hebat banget kan.. :') Lalu terhadap hati kita, kita wajib mengisinya dengan banyak-banyak mengingat Allah baik secara lisan, pikiran, dan perbuatan. Selain itu perbanyak membaca Al-Quran serta menjauhi maksiat juga merupakan cara kita dalam menjaga hati kita.. "Ingatlah Allah, maka hati akan menjadi menjadi tenang.." itu janji Allah di dalam QS Ar-Ra'du ayat 28. Juga pentingnya mengingat Allah dapat dilihat di dalam QS Az-Zumar ayat 22 dan Al-Insan ayat 25. Sok atuh dibuka :)

Ketiga, kewajiban muslimah lainnya adalah kepada kedua orang tua kita.
Yup ini penting banget. Setelah saya punya Afifa, saya baru paham kenapa ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua kita. Karena bagi orang tua, anak ibarat pusat perhatian dan pertimbangan utama di dalam hidup mereka. Betapa orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya, meski seringkali anaknya melukai hati mereka :'( *jadi melow*

Maka terhadap mereka, kita wajib berbakti, dengan mempersembahkan sebaik-baiknya bakti. Jika orang tua kita masih ada, maka inilah ladang amal syurga kita. InsyaAllah balasannya tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin... :) Selain itu, mendoakan mereka di setiap kesempatan pun salah satu cara bakti kita kepada mereka. Maka minimal setiap habis shalat, kita wajib mendoakan mereka, "Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktuku kecil." Kalau yang sudah memiliki penghasilan, sisihkan yang utama pertama kali untuk orang tua kita. It's not about how much we give them, because we never be able to pay their sacrifice, but it is about our attention towards them. Yakin deh justru rezeki kita akan berkah kalau kita berikan kepada orang tua kita. Bukankah di dalam QS. Al-baqarah ayat 215, Allah SWT menjelaskan bahwa infaq yang paling utama adalah kepada keluarga, termasuk kepada kedua orang tua kita.

Bagi yang orang tuanya sudah tidak ada, maka kewajiban kita adalah mendoakan.. Mendokan dengan sebaik-baiknya doa. Karena semua amalan seseorang akan terputus jika sudah meninggal, kecuali tiga hal, salah satunya adalah doa anak sholeh. Maka, jangan pernah lelah untuk mendoakan mereka, insyaAllah doa kita akan sampai kepada mereka. Selain doa, cara kita berbakti adalah dengan melanjutkan kebiasaan baik orang tua kita selama kita hidup. Mudah-mudahan, amal sholeh yang kita lakukan karena didikan dan contoh dari orang tua kita, akan memberatkan amal timbangan mereka di sisi Allah SWT. Aamiin...

Keempat, kewajiban kita terhadap suami. *uhuk uhuk :)))*
Jadi memang perempuan dan laki-laki diciptakan untuk saling melengkapi. Saat ijab kabul terucap, lepaslah tanggung jawab seorang ayah terhadap anak perempuannya. Dalam waktu bersamaan, sang suamilah yang menanggung beban berat tersebut. Makanya kenapa di dalam Al-Quran, menikah disebut juga sebagai "mitsaqon gholidzo" alias ikatan yang kuat. Ini bukan semata-mata tentang status. Seorang perempuan menjadi istri, dan laki-laki menjadi seorang suami. Tetapi jauh lebih dari itu. Pernikahan merupakan ikatan yang teramat kuat karena tidak hanya untuk di dunia tetapi juga menentukan kelak bagaimana posisi kita di akhirat.

Bagaimana tidak. Di dalam hadist Ibnu Hibban, Rasulullah SAW  menjelaskan bahwa syarat seorang wanita masuk syurga "hanya" empat. Dan keempatnya mesti dilakukan secara bersamaan, tidak boleh ditinggalkan salah satunya. Pertama, melakukan shalat wajib (cuma yang wajib aja bisa masuk syurga, apalagi ditambah shalat sunnah coba :D). Kedua, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan (apalagi ditambah shaum sunnah kaya shaum Senin-Kamis, ayyamul bidh, dll). Ketiga, menjaga pergaulan (betapa pentingnya seorang perempuan menjaga akhlaknya). Keempat, taat dan patuh kepada suami dalam rangka menjalankan kepatuhan kepada Allah SWT.
Justru yang nomor empat yang susah.. #eh :D *becanda (sengaja di italic, bold, dan underline) :D

Jadi, seorang istri berkewajiban untuk mematuhi perintah suaminya selama sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, seorang istri pun berkewajiban untuk menyenagkan hati suami serta tidak melakukan apa yang dibencinya, selama (lagi-lagi) sesuai dengan apa yang Allah ridhai. Menjadi istri shalihah adalah salah satu hal yang utama yang dapat kita jadikan sebagai ladang amal soleh kita. Aamiin... Apalagi Rasulullah SAW bersabda, "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang  salehah." (HR. Muslim, Nasa’I dan Ahmad). Masya Allah... Betapa indahnya kita dalam pandangan agama jika dapat menjadi seorang istri shalihah :') *langsung mamet sama suami*

Bagi yang belum menikah, saya doakan segera bertemu jodoh terbaiknya di dunia dan akhirat. Aamiin :)

Kelima, peran seorang Muslimah terhadap anak.
Menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah sekaligus ujian sepanjang hidup kita. Anugerah jelas karena keberadaan anak dapat membuat hati kita merasa tenang dan bahagia, apalagi jika anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh dan shalihah. Aamiin..

Sekaligus menjadi ujian adalah terkait bagaimana kita menjaga dan mendidik anak-anak kita. Perlu kesabaran dan keluasan hati yang luar biasa selama proses tersebut. And it lasts until we die. Ga ada yang namanya pekerjaan sebagai seorang ibu itu pensiun. Menjadi seorang ibu adalah pekerjaan seumur hidup, meski tentunya dalam konteks dan kontribusi yang berbeda tergantung usia dan kondisi anak kita.

Iman tidak dapat diwarisi. Karenanya, perlu usaha dan kerja keras untuk membentuk kepribadian anak-anak kita agar sesuai dengan apa yang Allah SWT ridhoi. Maka asupan dan input agama dalam mendidik anak adalah ilmu yang sangat penting. Lebih spesifik lagi, peran muslimah adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anak kita. Mulia banget kan :') Tapi tentunya peran tersebut harus dilakukan secara harmonis dengan suami. Jika ibu adalah madrasah pertama bagi anak, maka bapak adalah kepala sekolah dari madrasah tersebut. Keduanya memiliki peran yang teramat penting :D Bismillah semoga saya dan suami dapat menjadi orang tua terbaik bagi anak(-anak) kami. Aamiin...

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Bagi yang menikah tetapi belum memiliki anak, saya doakan semoga Allah SWT menganugerahi keturunan yang soleh dan shalihah. Aamiin :)

Terakhir, seorang muslimah memiliki peran terhadap masyarakat.
Seorang muslimah harus berperan di dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi pribadi yang senantiasa menebarkan manfaat, menjadi pelopor dalam kebaikan dan amal sholeh, aktif berpartisipasi dalam kegiatan dakwah, memberi contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat.



Nah...
Jadi....

*Cape abis nulis panjang :D

Kalau kita ada niat mau ngomong, "Da aku mah apa atuhlah cumaaa....."
STOOPPPPPP!! *tiup peluit punya abang tukang parkir*
Inget lagi tentang peran yang sudah Allah amanahkan .

Kita adalah hamba-Nya, yang (insyaAllah) dicintai-Nya.
Yang telah diciptakan-Nya dengan maksud dan tujuan yang sangat besar. Menjadi pemimpin di alam raya ini. Diamanahkan untuk memanfaatkan dunia dan segala isinya dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Yang telah Allah berikan begitu banyak potensi baik fisik, akal, dan pikiran. Yang membuat kita paling spesial di antara makhluk lainnya. Inget: Yang paling spesial kaya martabak manis coklat keju di air mancur.. *apadeh ini lagi laper*

Kita adalah anak dari orang tua kita. Yang dapat memberikan hadiah syurga bagi orang tua kita kelak jika kita dapat menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. We mean the world to them. Kita adalah alasan kenapa Ayah kita rela berpeluh untuk mencari rezeki halal. Kita adalah alasan mengapa ibu kita rela manahan sakit untuk melahirkan kita. We are the reasons why they can sacrifice that much.

Kita adalah seorang istri yang dapat menyejukkan hati suami kita. Menjadi pelengkap agama suami kita. Kita memiliki pengaruh besar bagaimana suami kita berakhlak, mencari rezeki, dan memiliki peran di masyarakat.

Kita adalah ibu dari anak-anak kita. Kita adalah pendidik pertama bagi mereka. Bagaimana anak-anak kita kelak, sangat tergantung bagaimana kita mendidik mereka. Doa kita adalah mustajab buat mereka. Allah sendiri yang menjamin hal tersebut.

Dan kita adalah bagian dari masyarakat. Masyarakat dari yang terkecil hingga level internasional.
Kita harus berkontribusi dengan apa yang kita miliki. Manfaat kita ditunggu untuk menghasilkan masyarakat madani.

See?
We are not nobody. Because we are somebody to many people, even to our Creator.

"Da aku mah apa atuh.. Cuma bubuk rengginang di kaleng Kong Guan." 
BUKAN. Kita adalah rengginangnya. Rengginang yang enak, apalagi kalau di makan pas lebaran... Kalaupun ada bubuknya menunjukan bahwa rengginang tsb sudah berkontribusi dalam perut manusia.. *analogi yang aneh :D

"Da aku mah apa atuh dibanding dia.. Cuma remahan kerupuk di piring ketoprak.."
 BUKAN. Kita adalah kerupuk yang kriuk, kalau pun jadi remahan menunjukkan eksistensi kekrispian dari kerupuk tsb. Lagian kalau ga ada kerupuk, ketoprak jadi ga enak.. *analogi yang makin aneh. Ketauan kalo lagi laper :p

Hehehe...
Pada intinya, saya sedang menasihati kepada diri saya sendiri untuk terus bersyukur dan terus berusaha amanah di dalam menjalankan peran di dunia ini. InsyaAllah...

"Da aku mah apa atuh..."
Sok pikirin lagi sebelum mau bilang itu :D